YAICI Terapkan Pemulihan Holistik bagi Korban Bencana di Aceh-Sumatra

jpnn.com
7 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Tantangan jangka panjang yang kerap luput dari perhatian saat bencana alam adalah ancaman malnutrisi pada balita.

Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama para sukarelawan merespons situasi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, melalui penyaluran bantuan dan edukasi untuk masyarakat. 

BACA JUGA: Baznas Kalsel Salurkan Bantuan Rp 250 Juta untuk Pemulihan Aceh dan Sumatra

Sekjen YAICI, Satria Yudistria mengatakan sepanjang Januari hingga Mei 2026, YAICI telah menjangkau 250 keluarga di tiga wilayah terdampak, seperti Desa Batang Ara, Pematang Durian, dan Desa Serba yang lokasinya terisolasi dan jarang terjamah bantuan logistik. 

"Faktanya di lapangan, khususnya di Kampung Batang Ara (Aceh Tamiang) anak bawah tiga tahun (batita) terpaksa mengonsumsi air tajin sebagai pengganti susu,” ucap Satria dalam laporan publik, baru-baru ini.

BACA JUGA: Polda Aceh Buru Seorang ASN atas Kasus Kekerasan Seksual

Menurut dia, anak-anak mengalami trauma psikologis yang tidak kasat mata, mereka ketakutan saat melihat hujan atau air, yang berujung pada terganggunya pola makan mereka. 

Satria mengungkapkan anak-anak adalah kelompok paling rentan, bukan hanya saat bencana terjadi, tetapi justru di masa pemulihan ketika bantuan mulai menyusut.

Oleh karena itu, melalui program ini, YAICI bersama mitra menerapkan pendekatan pemulihan yang menyeluruh.

“Mulai dari trauma healing, distribusi mainan anak untuk memulihkan psikososial, diskusi kelompok bersama para ibu, hingga edukasi literasi gizi keluarga,” jelas Satria.

Di tengah bantuan yang mulai terhenti, YAICI bersama para mitra juga menekankan bahwa pemulihan pasca-bencana tidak bisa hanya mengandalkan sembako, melainkan butuh pendampingan ahli secara berkesinambungan. 

Sebagai langkah konkret, seluruh temuan riset dan pembelajaran lapangan dari tiga wilayah ini berhasil dirangkum oleh YAICI dan para mitra untuk diserahkan sebagai rekomendasi resmi kepada kementerian dan lembaga pemerintahan pusat.

PP Aisyiyah Memperkuat Tombak di Lapangan

Gerakan kemanusiaan itu juga diperkuat oleh peran masif Majelis Kesehatan PP Aisyiyah melalui pengerahan kader-kader di daerah yang menjadi ujung tombak di lapangan. 

Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Dra. Chairunnisa, M.Kes., mengungkapkan para kader melakukan pelacakan sasaran secara door-to-door, menyisir posko pengungsian hingga ke hunian sementara (Huntara) sempit berukuran 4x6 meter demi mendata ibu hamil, ibu menyusui, dan balita terdampak agar intervensi gizi tidak salah sasaran. 

Mengingat di pengungsian masyarakat terbiasa dengan pola konsumsi pangan instan dan kental manis yang kerap dianggap susu pertumbuhan, kader Aisyiyah turun tangan melakukan intervensi langsung. 

"Kami mengumpulkan para ibu di mushola, sekolah, bahkan di area perkebunan sawit karena minimnya fasilitas. Kami mengedukasi konsep Gizi Seimbang atau 'Isi Piringku', membagikan pangan lokal bernutrisi,” jelas Dra. Chairunnisa. 

Perwakilan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP Aisyiyah, Rahmawati Husein MCP.,Ph.D., menegaskan pemenuhan gizi anak pada fase pemulihan sangat ditentukan oleh penanganan pada masa tanggap darurat yang sering kali berjalan lama, bahkan hingga transisi darurat 6 sampai 7 bulan. 

Dia juga menyoroti pentingnya merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas terkait penyediaan pangan darurat dan pengelolaan data terpilah yang akurat sejak awal bencana. 

Rahmawati juga mengingatkan agar bantuan pemulihan gizi tidak membuat masyarakat ketergantungan pada makanan instan dari luar. 

Pemanfaatan bahan pangan lokal dan pelibatan perempuan dalam mengelola dapur balita sehat jauh lebih berkelanjutan. 

LLHPB PP Aisyiyah mendorong strategi edukasi mandiri melalui kebun pangan darurat di sekitar hunian sementara, sehingga masyarakat dapat mandiri menyediakan MPASI sehat. 

Dari perspektif manajemen bencana, Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah Budi Setiawan mengakui fase pemulihan pasca bencana adalah sebuah proses "maraton" jangka panjang yang membutuhkan pendekatan berbeda dari fase tanggap darurat. 

Tantangan terbesar di masa pemulihan adalah penurunan jumlah relawan secara drastis serta buyarnya koordinasi lintas lembaga, di saat jaminan kesehatan dari pemerintah daerah biasanya hanya meng-cover tiga bulan pertama. 

“Selama masa tanggap darurat, banyak lembaga kemanusiaan termasuk MDMC, cenderung berfokus pada cakupan logistik bahan mentah umum secara luas, sehingga pemenuhan gizi spesifik kelompok rentan seringkali terabaikan,” jelas Budi.

Oleh karena itu, MDMC sangat mengapresiasi langkah YAICI yang konsisten mengingatkan pentingnya integrasi aspek gizi.

“Ke depan, MDMC mendorong adanya SOP lintas lembaga dan standarisasi dapur umum yang terpilah (khusus dewasa, lansia, dan balita) yang dilengkapi petunjuk resep praktis,” jelas Budi.(era/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komitmen Swasembada Pangan, Bupati Takalar Serahkan Bantuan Alsintan ke Kelompok Binaan Polri
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Kemendagri Percepat Penyelesaian Batas Desa 3 Kabupaten Sultra lewat ILASPP
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
HGI Dukung Piala Walikota Surabaya 2026, Perkuat Transformasi Domino Jadi Olahraga Prestasi
• 55 menit lalurealita.co
thumb
Ada Diskon 30% Tarif Kapal Periode Libur Sekolah, Simak Infonya
• 4 jam laludetik.com
thumb
Daftar Harga BBM Terbaru 15 Juni 2026, Mana Paling Murah?
• 9 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.