Liputan6.com, Jakarta - BRIN atau Badan Riset dan Inovasi Nasional mengembangkan teknologi energi terbarukan melalui inovasi sel surya bio-fotovoltaik berbasis pigmen fotosintesis dari bakteri ungu (Rhodobacter sphaeroides).
Menurut Perekayasa Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN Tulus, penelitian tersebut berfokus pada pemanfaatan protein kompleks fotosintesis reaction center-light harvesting 1 (RC-LH1) dari bakteri ungu sebagai lapisan penyerap cahaya pada perangkat sel surya.
Advertisement
"Material biologis tersebut dikombinasikan dengan berbagai lapisan semikonduktor untuk menghasilkan pemisahan muatan listrik ketika terpapar cahaya matahari," ujar Tulus dalam keterangan di Jakarta, Senin (15/6/2026), melansir Antara.
Dia memaparkan tim peneliti menggunakan struktur elektroda berlapis indium tin oxide (ITO), zinc oxide (ZnO), dan fullerene (C60) sebagai katoda untuk mengumpulkan elektron. Sementara itu, kata Tulus, lapisan molibdenum oksida dan perak digunakan sebagai anoda untuk mengumpulkan hole.
Dia menyebut, riset ini menghadirkan pendekatan baru dalam pengembangan teknologi fotovoltaik dengan memanfaatkan sistem fotosintesis alami yang dimiliki bakteri ungu.
Bakteri tersebut, kata Tulus, tidak bersifat patogen sehingga aman digunakan dan memiliki kemampuan fotosintesis yang sangat efisien.
"Pada prinsipnya, fotosintesis dan fotovoltaik memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memanfaatkan energi cahaya matahari. Fotosintesis mengubah energi cahaya menjadi energi kimia, sedangkan fotovoltaik mengubahnya menjadi energi listrik," papar Tulus.




