Pekalongan, ERANASIONAL.COM – Tradisi minum susu putih pada malam 1 Muharram kini menjadi fenomena kultural yang melekat di Kota Pekalongan.
Warga rela mengonsumsi susu murni sebagai simbol harapan atau tafaulan agar lembaran hidup baru berjalan suci. Filosofi kebaikan dan keberkahan ini dinilai mencerminkan kebersihan hati laksana putihnya warna susu segar yang diminum.
Meskipun amalan religius ini bukan ibadah wajib ataupun sunah hadis, anjuran ulama ini tetap disambut penuh optimisme.
Momentum minum susu murni biasanya dilakukan warga tepat menjelang malam pergantian tahun baru Hijriah atau sebelum Subuh. Tradisi unik tahunan ini terbukti membawa dampak ekonomi yang sangat luar biasa bagi para peternak lokal.
Lonjakan omzet yang sangat signifikan dirasakan oleh peternakan sapi perah Sari Indah di Kelurahan Yosorejo, Pekalongan. Pemilik usaha, Budi Setiawan, mengungkapkan bahwa grafik permintaan konsumen menjelang Tahun Baru Islam kali ini meningkat tajam.
Akibat permintaan yang membeludak, pihak peternakan terpaksa mendatangkan pasokan tambahan dari wilayah Baturaden dan Tegal.
“Menjelang Tahun Baru Islam, permintaan susu sapi murni melonjak luar biasa. Biasanya kami hanya melayani 350 liter sehari, tapi dalam dua hari ini bisa tembus 2.500 liter,” ujar pria yang akrab disapa Wawan ini.
Kapasitas produksi harian peternakan lokal sendiri diakuinya masih terbatas karena faktor jumlah populasi sapi perah yang ada. Dengan total 30 ekor sapi, peternakan Sari Indah rata-rata hanya mampu menghasilkan produksi sekitar 350 liter harian.
Hal ini dikarenakan setiap satu ekor sapi secara konsisten memproduksi kisaran 10 liter susu murni per hari.
“Tren ini sudah berjalan sekitar 3 hingga 4 tahun terakhir di Pekalongan. Tahun lalu saja permintaannya mencapai 3.000 liter dan itu masih kurang,” tambah pria yang juga anggota DPRD Kota Pekalongan tersebut.
Antrean pembeli pun terpantau sudah mulai memadati lokasi peternakan sejak pagi hari menjelang waktu pergantian tahun baru. Wawan membeberkan bahwa stok awal sebesar 708 liter yang dibuka sejak jam 07.30 WIB sudah habis terjual.
Pihaknya memprediksi gelombang kedatangan konsumen akan kembali meramaikan area peternakan pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB.
“Meski antusiasme warga sangat tinggi, kami berkomitmen tidak menaikkan harga sama sekali demi menjaga kepercayaan konsumen,” ujarnya.
Komitmen menjaga stabilitas harga ini sangat diapresiasi masyarakat karena harga agen tetap bertahan pada angka Rp 13.500 per liter.
“Sementara untuk konsumen umum, susu sapi murni kualitas segar ini tetap dipasarkan dengan harga Rp 18.000 per liter,” jelasnya.
Kebijakan ini membuat masyarakat dari berbagai penjuru kelurahan antusias datang mengantre untuk berburu pasokan susu.
Salah seorang pelanggan setia asal Kelurahan Pringrejo, Saifudin, mengaku sengaja memborong susu demi mengikuti petuah dari kyai. Dirinya membeli sebanyak dua liter susu murni untuk dikonsumsi bersama seluruh anggota keluarga besarnya di rumah.
Langkah spiritual ini ia harapkan mampu membawa energi positif dan kebaikan nyata di masa-masa mendatang.
“Saya membeli susu ini untuk mengikuti anjuran Kyai, sebagai simbol memulai lembaran baru yang putih bersih. Kebetulan saya beli dua liter untuk dinikmati bersama keluarga di rumah,” terangnya.
Menurutnya, hal ini sudah jadi tradisi tahunan. Ia berharap, semoga di tahun baru Islam ini kehidupan umat Islam bisa jauh lebih baik. (em-aha)





