Jakarta, tvOnenews.com - Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira yang menyebut partainya sudah melupakan mantan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Sontak, sentilan itu langsung direspons Ketua DPP PSI Bestari Barus.
Kata Bestara Barus kepada awak media, pada Senin (15/6), "Ya alhamdulillah, kalau orang sudah lupa itu udah nggak inget gitu loh, tapi kan masih terus ngomongin aja."
Bestari jelaskan, PDIP belum melupakan sosok Jokowi.
Bahkan ia mengungkit kemenangan Jokowi dalam pemilu bukan lantaran PDIP, melainkan karena rakyat.
"Belum melupakan gitu kan, belum move on-lah, belum move on, ya kan? Jadi ya kami cukup prihatin dengan rasa yang dialami oleh PDIP atas hengkangnya Pak Jokowi ke partai kami," jelas Bestari.
"Kalau konstitusinya konstitusi PDIP memang tidak patut untuk diikuti oleh Presiden, apabila tidak berkesesuaian dengan yang menjadi tugas Pak Presiden sebagai abdi rakyat. Beliau bukan abdi partai apalagi sekedar petugas partai. Dan ingat, yang memenangkan, yang memenangkan Pak Jokowi itu bukan PDIP sendiri, tapi rakyat," lanjutnya.
Bahkan ia jelaskan, presiden adalah abdi rakyat bukan partai. Bestari menyambut dengan bahagia Jokowi tak lagi bersama PDIP.
"Presiden abdi rakyat, ya masyarakat Indonesia sangat bersyukur dan kami berbahagia. Semakin cepat Pak Jokowi bersama kami, maka semakin cepat rakyat akan mendapatkan figur kesayangan mereka kembali, saya kira itu. Tanpa harus diintimidasi ataupun dikuyo-kuyo oleh partai-partai seperti itu gitu loh," bebernya.
Adapun Hugo mengatakan internal PDIP sudah melupakan Jokowi. Namun, beredarnya isu ijazah palsu yang dituduhkan ke Jokowi membuat PDIP teringat lagi akan Presiden ke-7 RI itu.
Adapun hal itu disampaikan Hugo saat menanggapi pernyataan PSI terkait PDIP sakit hati mendalam usai ditinggal Jokowi.
"Di PDI Perjuangan (PDIP) kami sudah lupa. Gara-gara ijazah palsu jadi muncul lagi orang ini. Algoritma ijazah mengingatkan nama ini," lanjutnya.
Menurut Hugo, hal yang diingat dari Jokowi hanya seputar isu ijazah palsu.
"Yang teringat malah ijazah palsu karena ramai dibicarakan di media dan sampai sekarang tidak ada penyelesaiannya," pungkas Hugo. (aag)




