Setiap Anak Memiliki Kebutuhan Belajar yang Berbeda

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Ada seorang murid yang sampai hari ini masih sering saya ingat. Ia bukan murid yang paling pintar di kelas, bukan pula yang paling sering membuat masalah. Namun hampir setiap hari namanya muncul dalam pikiran saya karena satu alasan sederhana: ia tidak pernah bisa diam terlalu lama.

Ketika teman-temannya duduk mendengarkan pelajaran, ia sering berdiri. Saat kegiatan belajar berlangsung, ia kerap berjalan ke sana kemari. Tidak jarang ia terlihat lebih tertarik berbicara dengan orang lain daripada memperhatikan penjelasan guru di depan kelas.

Sebagai guru, saya pernah menganggap perilaku itu sebagai masalah yang harus segera diperbaiki. Saya mencoba berbagai cara agar ia lebih tenang dan lebih lama duduk di tempatnya. Namun suatu hari saya melakukan sesuatu yang selama ini justru tidak pernah saya lakukan. Saya bertanya kepadanya, “Kamu lebih suka belajar seperti apa?”

Ia berhenti bergerak, menatap saya beberapa saat, lalu menjawab dengan sangat serius, “Sambil ngobrol, Pak. Saya lebih ngerti kalau sambil ngobrol.”

Jawaban itu sederhana, tetapi saya terdiam cukup lama setelah mendengarnya. Bukan karena terkejut, melainkan karena saya baru menyadari bahwa selama ini saya lebih sibuk mencari cara agar ia menyesuaikan diri dengan kelas daripada berusaha memahami bagaimana ia belajar.

Pengalaman itu mengubah cara saya memandang murid-murid di kelas. Selama bertahun-tahun, saya memahami istilah anak berkebutuhan khusus sebagaimana kebanyakan orang memahaminya, yaitu anak-anak yang memiliki kondisi tertentu dan membutuhkan layanan pendidikan yang berbeda dari anak lainnya. Pemahaman itu tentu tidak salah. Anak-anak dengan autisme, disleksia, down syndrome, dan berbagai kondisi lainnya memang membutuhkan dukungan yang nyata. Orang tua dan guru yang mendampingi mereka menjalani perjuangan yang tidak ringan dan layak mendapatkan penghargaan yang besar.

Namun murid yang berdiri di hadapan saya hari itu tidak memiliki diagnosis apa pun. Kemampuan akademiknya cukup baik dan ia diterima oleh teman-temannya. Akan tetapi, ternyata ia memiliki kebutuhan belajar yang selama ini tidak saya lihat. Ia lebih mudah memahami sesuatu melalui percakapan dan interaksi dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan. Sejak saat itu saya mulai bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak anak lain yang sebenarnya memiliki kebutuhan serupa, tetapi tidak pernah kita ketahui karena kita tidak pernah bertanya?

Semakin lama mengajar, semakin saya menyadari bahwa setiap anak datang ke sekolah dengan cara belajar yang berbeda-beda. Ada anak yang berkembang melalui diskusi, ada yang membutuhkan suasana tenang untuk berpikir, ada yang menyukai tantangan, dan ada yang memerlukan dukungan lebih untuk membangun kepercayaan diri. Ada anak yang perlu bergerak agar tetap fokus, sementara anak lain membutuhkan struktur dan rutinitas yang jelas agar merasa aman. Yang berbeda bukan hanya kemampuan mereka, tetapi juga cara mereka memahami dunia dan cara mereka belajar.

Sayangnya, sistem pendidikan sering kali dibangun dengan asumsi bahwa sebagian besar anak akan belajar dengan cara yang sama. Kurikulum, target, ritme pembelajaran, bahkan ukuran keberhasilan sering dirancang secara seragam untuk anak-anak yang sesungguhnya sangat beragam. Ketika ada anak yang tidak cocok dengan pola tersebut, perhatian kita sering kali langsung tertuju pada kekurangan yang tampak pada diri anak itu. Kita bertanya mengapa ia tidak bisa mengikuti. Kita mencari cara agar ia menyesuaikan diri. Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah apakah cara kita mengajar sudah cukup lentur untuk mengakomodasi keragaman mereka.

Perubahan pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Ketika kita berhenti melihat perbedaan sebagai masalah, kita mulai melihatnya sebagai informasi. Ketika kita berhenti bertanya mengapa seorang anak tidak seperti teman-temannya, kita mulai bertanya apa yang dibutuhkan anak tersebut untuk berkembang. Pergeseran cara pandang inilah yang menurut saya menjadi inti dari pendidikan yang lebih manusiawi.

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa guru harus mampu memenuhi seluruh kebutuhan setiap murid secara sempurna. Guru memiliki keterbatasan waktu, energi, jumlah murid, dan berbagai tuntutan pekerjaan yang tidak sedikit. Namun perubahan besar sering kali dimulai dari langkah yang sederhana, yaitu kemauan untuk mengenal murid lebih dalam. Murid yang lebih suka belajar sambil mengobrol itu mengajarkan sesuatu yang tidak saya temukan dalam pelatihan mana pun. Ia mengajarkan bahwa pendidikan bukan semata-mata proses membuat anak menyesuaikan diri dengan sistem, melainkan juga proses memahami manusia yang sedang bertumbuh.

Karena itulah saya mulai memaknai inklusi secara berbeda. Inklusi bukan hanya tentang menerima anak-anak tertentu yang secara resmi dikategorikan berbeda. Inklusi adalah kesediaan untuk menerima kenyataan bahwa keragaman merupakan kondisi normal di setiap ruang kelas. Setiap tahun, murid-murid baru terus mengajarkan pelajaran yang sama kepada saya: bahwa tugas guru bukan mencetak manusia dalam bentuk yang seragam, melainkan membantu setiap anak menemukan jalan terbaik untuk bertumbuh.

Pada akhirnya, setiap anak membawa kebutuhan belajar yang unik. Mereka mungkin tidak semuanya memerlukan diagnosis atau layanan khusus, tetapi masing-masing membutuhkan pendekatan yang berbeda agar dapat berkembang secara optimal. Pertanyaannya bukan lagi apakah anak-anak itu berbeda. Pertanyaannya adalah: sudahkah kita cukup mengenal mereka untuk memahami perbedaan tersebut?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Besok, Prabowo Minta Rosan Beri Paparan ke Publik Terkait Perkembangan Investasi RI
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
IHSG Melonjak Lebih dari 3 Persen di Tengah usai AS-Iran Capai Kesepakatan Damai
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Menkeu Purbaya Bakal Menemui Bos BGN, Bahas Soal Ini
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Belanda Vs Jepang: Bongkar Prediksi Formasi, Duel Frank de Jong & Kubo di Piala Dunia 2026
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Penjelasan Pasar Jaya Soal Eskalator Tanah Abang Berhenti Mendadak
• 22 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.