JAYAPURA, KOMPAS — Pascakenaikan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax, konsumsi Pertalite meningkat di wilayah Papua-Maluku. Peningkatan ini terjadi di tengah euforia Piala Dunia 2026 yang mendorong warga berkonvoi menggunakan kendaraan bermotor hampir setiap hari. Pertamina menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi.
Pertalite merupakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan harga Rp 10.000 per liter. Adapun Pertamax merupakan BBM nonsubsidi. Pekan lalu, pemerintah menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Di wilayah Papua-Maluku, harga Pertamax naik dari Rp 12.600 menjadi Rp 16.650 per liter.
Di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Jayapura, sebagian warga mulai beralih dari Pertamax ke Pertalite. Ridwan (23), pengemudi ojek daring, mengaku telah menggunakan Pertalite sejak dua hari lalu.
“Dulu saya pakai Pertamax supaya tidak antre lama. Sekarang beli Pertalite saja karena Pertamax terlalu mahal, sedangkan pemasukan terus menurun,” ujar Ridwan, Senin (15/6/2026).
Hal serupa juga diungkapkan Elvis Boinsera, pengawas salah satu SPBU di Distrik Abepura. Menurut dia, semakin banyak konsumen yang beralih ke Pertalite. Namun, hingga saat ini penyaluran BBM masih berjalan normal.
“Peningkatan memang ada. Apalagi sore hari jelang konvoi (Piala Dunia 2026), antrean biasanya ikut meningkat. Namun, semuanya masih terkendali,” ucap Elvis.
Peningkatan konsumsi tersebut tergambar dari data Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku. Pascakenaikan harga Pertamax, konsumsi harian Pertalite di wilayah Maluku-Papua meningkat hingga 19 persen. Namun, dalam periode yang sama, konsumsi Pertamax juga tercatat masih naik sekitar 1 persen.
Di sisi lain, peningkatan konsumsi BBM juga dipengaruhi tingginya mobilitas masyarakat selama perhelatan Piala Dunia 2026. Warga di berbagai daerah rutin menggelar konvoi kendaraan bermotor yang berpotensi meningkatkan konsumsi BBM, khususnya Pertalite.
Di sejumlah wilayah Papua dan Maluku, euforia masyarakat terhadap Piala Dunia 2026 terpantau cukup tinggi. Turnamen tersebut berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Meski berjarak belasan ribu kilometer dari negara penyelenggara, konvoi kendaraan sudah dilakukan sejak beberapa hari sebelum turnamen dimulai. Kelompok yang berkonvoi umumnya merupakan pendukung negara-negara unggulan, seperti Belanda, Brasil, Argentina, Spanyol, Perancis, Jerman, Portugal, hingga Senegal.
Saat pertandingan berlangsung, konvoi dilakukan sebelum maupun setelah laga. Setiap tim peserta setidaknya menjalani tiga pertandingan pada fase grup. Biasanya, jumlah peserta konvoi meningkat ketika turnamen memasuki fase gugur, mulai dari babak 32 besar hingga partai final.
Konvoi umumnya melibatkan puluhan hingga ratusan kendaraan bermotor dengan rute mencapai puluhan kilometer. Pada fase gugur, jumlah kendaraan yang terlibat diperkirakan dapat meningkat hingga ribuan unit.
Fenomena tersebut terpantau di sejumlah kota dan kabupaten besar, seperti Jayapura, Merauke, Mimika, Nabire, Wamena, Manokwari, Sorong, Ambon, dan Ternate, serta berbagai wilayah lain di Papua dan Maluku.
Saat ini, stok Pertamax ada hingga 16 hari. Sementara itu, Pertalite masih bisa hingga 25 hari ke depan.
Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku Ispiani Abas mengatakan, pihaknya terus memastikan penyaluran BBM di wilayah tersebut berjalan lancar. Di sisi lain, Pertamina juga mengantisipasi kemungkinan peningkatan konsumsi akibat euforia Piala Dunia.
Menurut Ispiani, peningkatan konsumsi terkait konvoi Piala Dunia sejauh ini masih terjadi pada waktu-waktu tertentu. Meski demikian, Pertamina tetap memberikan perhatian khusus dan menyiapkan langkah antisipasi.
“Apabila terdapat tren peningkatan konsumsi pada titik-titik tertentu, Pertamina telah menyiapkan langkah antisipatif melalui optimalisasi distribusi dan penguatan stok di lokasi yang membutuhkan,” ujarnya.
Ispiani menambahkan, saat ini stok Pertamax di wilayah Papua-Maluku diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 16 hari ke depan. Adapun stok Pertalite masih mampu memenuhi kebutuhan hingga 25 hari ke depan.
“Level ketahanan stok tersebut terus kami jaga melalui pergerakan kapal suplai ke seluruh terminal BBM untuk mengimbangi volume BBM yang disalurkan kepada masyarakat,” katanya.





