Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) menilai kenaikan harga bawang merah yang terjadi belakangan ini tidak sejalan dengan kondisi pasokan nasional yang dinilai masih mencukupi. Pemerintah menduga persoalan distribusi menjadi penyebab utama lonjakan harga komoditas tersebut.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan sejumlah komoditas pangan masih menyumbang inflasi pada Mei 2026, antara lain cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan bensin.
Meski demikian, dia menilai tekanan inflasi dari kelompok pangan secara umum masih terkendali, terutama karena harga beras relatif stabil.
Menurut Amran, kenaikan harga bawang merah tergolong anomali karena produksi domestik saat ini tidak mengalami kekurangan. Bahkan, Indonesia masih melakukan ekspor bawang merah ke sejumlah negara.
Karena itu, dia menilai kenaikan harga lebih disebabkan oleh hambatan distribusi dibandingkan persoalan pasokan.
"Bawang merah ini anomali karena kita sudah ekspor. Distribusinya yang akan kita perbaiki ke depan. Untuk minyak goreng, bahan bakunya lebih dari cukup sehingga perlu percepatan distribusi ke daerah," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).
Baca Juga
- Mentan Klaim Swasembada Pangan Meski Masih Impor, Begini Penjelasannya
- Pasar Global Makin Ketat, RSPO Dorong Sertifikasi Petani Sawit
- Beras Melimpah, Kepala Bapanas Amran Minta Satgas Pangan Tindak Pedagang Nakal
Kementan menilai distribusi masih menjadi tantangan utama dalam menjaga stabilitas harga pangan. Ketidakseimbangan pasokan antarwilayah dapat memicu kenaikan harga meskipun produksi nasional berada dalam kondisi cukup.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, Perum Bulog, dan ID Food guna memperlancar distribusi sekaligus menjaga ketersediaan pangan di berbagai daerah.
Selain itu, pemerintah mendorong pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah untuk menekan gejolak harga di tingkat konsumen.
Amran meminta kepala daerah bersama Bulog memperluas pelaksanaan pasar murah, tidak hanya untuk beras, tetapi juga komoditas peternakan yang saat ini mengalami tekanan harga.
"Kami mohon seluruh gubernur dan bupati bersama Bulog mengaktifkan pasar murah beras, ayam, dan telur. Harga ayam dan telur saat ini perlu dukungan agar Bulog dan ID Food menjadi offtaker dan menjaga keseimbangan harga," ujarnya.
Berdasarkan data harga pangan Bank Indonesia per Senin (15/6/2026), harga bawang merah naik 1,6% menjadi Rp57.250 per kilogram. Harga bawang putih juga meningkat 7,14% menjadi Rp43.500 per kilogram.
Sementara itu, harga cabai merah besar turun 3,61% menjadi Rp60.150 per kilogram dan cabai merah keriting turun 5,19% menjadi Rp55.700 per kilogram.
Di sisi lain, harga cabai rawit masih menunjukkan tren kenaikan. Cabai rawit hijau naik 4,5% menjadi Rp56.900 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah meningkat 5,12% menjadi Rp79.000 per kilogram.
Untuk komoditas minyak goreng, harga minyak goreng curah turun tipis 0,24% menjadi Rp20.550 per liter. Harga minyak goreng kemasan premium tetap di level Rp24.100 per liter, sedangkan minyak goreng kemasan sederhana naik 0,22% menjadi Rp23.250 per liter.
Kementan berharap perbaikan distribusi, penguatan peran Bulog dan ID Food, serta peningkatan intensitas pasar murah dapat membantu menjaga stabilitas harga pangan dan mengendalikan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.




