Obligasi Global Danantara Laku Keras, Rosan Sebut Investor Amerika Serikat Jadi Pembeli Terbanyak

tvonenews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com – Obligasi global perdana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mencetak kejutan di pasar internasional.

Pasalnya, Global Bond Danantara disebut mengalami kelebihan permintaan hingga lebih dari tiga kali lipat alias laky keras.

CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan, minat investor asing terhadap Indonesia tetap kuat meski dunia masih dibayangi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Menurut Rosan, Danantara menawarkan obligasi tersebut kepada 122 investor yang berasal dari Amerika Serikat, kawasan Eropa, Timur Tengah dan Afrika (EMEA), serta Asia. Hasilnya, permintaan yang masuk mencapai US$4,6 miliar atau lebih dari tiga kali total nilai penerbitan sebesar US$1,5 miliar.

“Boleh dibilang biasanya penerbitan obligasi dari Indonesia justru peminatnya kebanyakan dari Asia. Historical itu seperti itu. Tapi ini justru kebalikannya, peminat dan yang membeli terbesarnya adalah dari Amerika Serikat,” kata Rosan dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Senin (15/6/2026).

Danantara menerbitkan dua seri obligasi internasional yang masing-masing bernilai US$750 juta. Seri pertama memiliki tenor lima tahun dengan tingkat imbal hasil 5,35 persen, sedangkan seri kedua memiliki tenor 10 tahun dengan imbal hasil 5,95 persen.

Data pemesanan akhir menunjukkan minat investor yang sangat kuat pada kedua seri tersebut. Untuk obligasi tenor lima tahun, total pemesanan mencapai US$1,45 miliar yang berasal dari 68 akun investor.

Pada seri ini, investor dari kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika menyerap 41 persen porsi penerbitan. Investor Amerika Serikat menyusul dengan 38 persen, sementara investor Asia mengambil porsi 21 persen.

Namun dominasi investor Amerika terlihat semakin kuat pada obligasi tenor 10 tahun. Dari total pemesanan yang melampaui US$1,35 miliar dan berasal dari 63 akun investor, pembeli asal Amerika Serikat menguasai 52 persen porsi penerbitan.

Sementara itu, investor dari kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika menyerap 31 persen, sedangkan investor Asia hanya 17 persen.

Menurut Rosan, tingginya partisipasi investor Amerika menjadi indikator penting bahwa pasar keuangan global masih memiliki keyakinan terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Bahkan, minat tersebut tidak berhenti pada penerbitan obligasi bertenor lima dan 10 tahun. Rosan mengungkapkan sejumlah investor internasional telah menyampaikan ketertarikan terhadap instrumen dengan tenor yang jauh lebih panjang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Audiensi dengan Menko Perekonomian dan Kadin, Jerman Lirik SDM Indonesia untuk Isi Ribuan Kebutuhan Pekerja
• 53 menit lalutvonenews.com
thumb
BBM Non Subsidi Naik, Sultan Ajak Masyarakat Terapkan Gaya Hidup Hemat
• 33 menit lalutvonenews.com
thumb
Harga BBM Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter! Berlaku Mulai 10 Juni 2026
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Ramadhipa raih kemenangan pertamanya di Moto3 Junior 2026 Portugal
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Jababeka (KIJA) Lunasi Senior Notes USD185,8 Juta Lebih Awal
• 13 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.