JAKARTA, KOMPAS - Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta, membutuhkan modernisasi menyeluruh agar tetap mampu bersaing di tengah perubahan pola belanja masyarakat dan pesatnya perkembangan perdagangan digital. Hal ini mencakup pembenahan infrastruktur, operasional, hingga penguatan tata kelola pasar.
Kepala Pengelola Pasar Bunga Rawa Belong, M Ilham, mengatakan, modernisasi menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional di tengah perubahan pola belanja masyarakat dan pesatnya perkembangan perdagangan digital. Menurut dia, saat ini, Pasar Bunga Rawa Belong menghadapi tiga tantangan utama, yakni operasional, infrastruktur, dan tata kelola.
”Diperlukan modernisasi menyeluruh, mulai dari pembenahan infrastruktur, operasional yang mencakup digitalisasi layanan, hingga penguatan tata kelola pasar,” kata Ilham dalam acara International Flower Business Forum di BINUS University, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Dari sisi operasional, karakteristik komoditas bunga yang mudah rusak menuntut adanya sistem penyimpanan, penanganan, dan distribusi yang lebih baik agar kualitas produk tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen.
Selain itu, digitalisasi layanan dinilai penting untuk menciptakan sistem perdagangan yang lebih efisien serta memudahkan transaksi antara pedagang dan pembeli.
”Sebab, pedagang tradisional kini harus bersaing dengan toko bunga online maupun platform ritel yang menawarkan kemudahan layanan pesan-antar,” ujarnya.
Dari sisi infrastruktur, Pasar Bunga Rawa Belong membutuhkan fasilitas pendukung yang lebih memadai. Sebagai komoditas yang mudah layu, bunga potong memerlukan suhu penyimpanan yang terjaga melalui fasilitas pendingin atau cold storage komunal.
Selain itu, lokasi Pasar Bunga Rawa Belong yang berada di Jalan Sulaiman, Jakarta Barat, masih menghadapi persoalan kemacetan lalu lintas dan keterbatasan lahan parkir, terutama saat aktivitas perdagangan sedang ramai.
Tantangan lainnya adalah pengelolaan limbah. Menurut Ilham, setiap hari, pasar menghasilkan cukup banyak sisa bunga dan sampah organik yang perlu ditangani secara baik agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan.
”Karena itu, ke depan dibutuhkan infrastruktur pengolahan limbah florikultura yang memadai,” katanya.
Dari sisi tata kelola, Ilham menyoroti masih belum tertatanya regulasi alur logistik hulu–hilir, mulai dari distribusi bunga dari petani, pemasok, pasar, hingga konsumen. Selain itu, terdapat kesenjangan kapasitas digital di kalangan pelaku usaha serta belum optimalnya penataan area perdagangan dan pengelolaan aktivitas usaha.
Ia berharap, tata kelola pasar dapat semakin profesional melalui penguatan koperasi pedagang, penataan sistem bongkar muat, serta pemanfaatan teknologi digital dalam operasional pasar sehari-hari.
Di balik berbagai tantangan tersebut, Pasar Bunga Rawa Belong memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan bunga di Jakarta. Awalnya, para pedagang bunga dan tanaman hias berjualan di sepanjang Jalan Rawa Belong dan Jalan Palmerah Selatan.
Seiring berkembangnya aktivitas perdagangan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta kemudian merelokasi para pedagang ke lahan seluas 1,4 hektar di Jalan Sulaiman, Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Pasar Bunga Rawa Belong diresmikan pada 25 Juli 1989 oleh Gubernur Jakarta saat itu, Wiyogo Atmodarminto. Untuk meningkatkan kenyamanan dan kapasitas pasar, pemerintah melakukan renovasi total pada tahun 2005–2006 sehingga luas bangunan mencapai sekitar 7.070 meter persegi.
Saat ini, pasar tersebut menjadi tempat beraktivitas bagi sekitar 516 pedagang yang menempati 124 kios, 66 kios terbuka, 313 los, dan 13 unit kantin.
Pasar Bunga Rawa Belong kini berkembang menjadi sentra penjualan dan pemasaran bunga terbesar dan terlengkap di Indonesia, bahkan menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Pasar ini melayani kebutuhan bunga potong dan rangkaian bunga.
Kontribusi ekonominya pun cukup besar. Pada 2025, nilai transaksi atau omzet penjualan pasar ini mencapai sekitar Rp 62,36 miliar, dengan rata-rata omzet bulanan berkisar antara Rp 5 miliar hingga Rp 8 miliar.
Diperlukan modernisasi menyeluruh, mulai dari pembenahan infrastruktur, operasional yang mencakup digitalisasi layanan, hingga penguatan tata kelola pasar
Untuk keberlanjutan Pasar Bunga Rawa Belong, salah satunya diperlukan agenda yang mampu mengangkat kembali eksistensi pasar tersebut. Sebelumnya, BINUS University dan ITTA Foundation dengan dukungan Pemprov Jakarta menggelar parade Jakarta International Flower Festival (JIFF) 2026 di Jakarta pada Minggu (14/6/2026).
Parade kendaraan hias berbasis bunga ini menjadi simbol kebangkitan Pasar Bunga Rawa Belong sekaligus bagian dari rangkaian menuju perayaan Jakarta 5 Abad pada 2027. Kegiatan ini bertujuan memperkuat ekosistem florikultura, menggerakkan ekonomi lokal, serta menghidupkan kembali Pasar Bunga Rawa Belong sebagai salah satu ikon Jakarta.
Rektor BINUS University, Nelly, menilai, Pasar Bunga Rawa Belong merupakan aset yang layak untuk dihidupkan kembali, dikembangkan, dan dibanggakan.
Ia mengatakan, penyelenggaraan JIFF 2026 lahir dari semangat kolaborasi antara pedagang lokal yang ingin tumbuh, kreativitas mahasiswa, serta keyakinan bahwa kerja sama lintas pihak menjadi kunci pembangunan kota.
JIFF 2026 juga merupakan kelanjutan dari berbagai program pemberdayaan BINUS University bersama pedagang Pasar Bunga Rawa Belong, mulai dari peningkatan kapasitas usaha hingga penguatan ekosistem florikultura berbasis kolaborasi.
Selain menggerakkan ekonomi lokal, festival ini mengedepankan prinsip keberlanjutan. Sisa bunga dari parade diolah menjadi kompos di Pasar Bunga Rawa Belong, sementara fasilitas pemilahan sampah organik, anorganik, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) disediakan di sejumlah titik keramaian sebagai bagian dari edukasi pengelolaan sampah dan dukungan terhadap program Pemprov Jakarta.
Kepala Bagian Biro Kerja Sama Daerah Provinsi Jakarta, Faisal, mengatakan, pemerintah terus mendorong kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan Jakarta kota global yang nyaman bagi semua pihak.
”Bersama BINUS University dan ITTA Foundation, kami terus mendorong transformasi Pasar Bunga Rawa Belong di Jakarta Barat menjadi pusat florikultura dan destinasi bertaraf internasional yang mampu menarik wisatawan lokal maupun mancanegara,” katanya.
Belanda dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan eksportir bunga terbesar di dunia, dengan penguasaan lebih dari separuh pangsa pasar global. Dari negara tersebut, terdapat sejumlah pembelajaran yang dapat diadopsi untuk pengembangan penjualan bunga di Indonesia, termasuk di Jakarta.
Atase Perdagangan KBRI Den Haag, Anisa Hapsari, mengatakan, Belanda memiliki sistem pengelolaan pasar yang terstruktur, didukung inovasi teknologi, serta jaringan logistik yang mampu menjaga kesegaran bunga hingga dikirim ke lebih dari 100 negara tujuan ekspor.
Keberhasilan tersebut juga ditopang oleh kolaborasi kuat antar pelaku usaha serta dukungan pemerintah yang aktif melalui regulasi, fasilitas, dan iklim usaha yang kondusif bagi perkembangan sektor florikultura.
Anisa menjelaskan, ekosistem florikultura di Belanda bersifat terintegrasi. Petani berfokus pada produksi berkualitas, sementara proses pemasaran dilakukan melalui koperasi atau sistem lelang terpusat yang membentuk harga secara transparan berdasarkan mekanisme pasar.
Selanjutnya, produk didistribusikan oleh pedagang besar ke berbagai pasar, dengan dukungan eksportir yang memastikan distribusi global melalui jaringan logistik yang efisien. Di tingkat akhir, sektor ritel menyalurkan produk kepada konsumen dengan standar kualitas yang terjaga.
Keunggulan model ini terletak pada transparansi harga, skala transaksi yang besar, standar kualitas yang ketat, sistem pembayaran yang aman, serta risiko pasar yang lebih terkendali. Model ini dinilai mampu menekan asimetri informasi sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok.





