Ringkasan Berita:
- Erwin Aksa, menyebut hilirisasi nikel merupakan salah satu lompatan industrialisasi paling signifikan yang berhasil dicapai Indonesia dalam satu dekade terakhir
- Sejak kebijakan larangan ekspor bijih nikel diterapkan pada 2020, produksi nikel nasional meningkat tajam dari sekitar 780 ribu ton menjadi sekitar 2,3 juta ton pada 2024
- Kenaikan tersebut turut mengangkat pangsa pasokan nikel Indonesia di pasar global dari sekitar 30 persen menjadi hampir 70 persen
TRIBUN-TIMUR.COM, JAKARTA – Program hilirisasi nikel yang dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir dinilai berhasil mengubah posisi Indonesia menjadi pemain utama dalam rantai pasok nikel dunia.
Namun di balik capaian tersebut, dunia usaha mengingatkan masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan agar hilirisasi benar-benar menghasilkan nilai tambah maksimal bagi perekonomian nasional.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi Kadin Indonesia, Erwin Aksa, menyebut hilirisasi nikel merupakan salah satu lompatan industrialisasi paling signifikan yang berhasil dicapai Indonesia dalam satu dekade terakhir.
Sejak kebijakan larangan ekspor bijih nikel diterapkan pada 2020, produksi nikel nasional meningkat tajam dari sekitar 780 ribu ton menjadi sekitar 2,3 juta ton pada 2024.
Kenaikan tersebut turut mengangkat pangsa pasokan nikel Indonesia di pasar global dari sekitar 30 persen menjadi hampir 70 persen.
Selain memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia juga berhasil membangun kawasan industri terintegrasi yang kini menjadi pusat produksi nickel pig iron (NPI) dan baja nirkarat terbesar di dunia.
“Dari sisi dunia usaha, hilirisasi nikel kami nilai sebagai salah satu lompatan industrialisasi paling nyata dalam satu dekade terakhir,” ujar Erwin dalam keterangannya, Juni 2026.
Meski demikian, Kadin mencatat setidaknya ada tiga persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian serius.
Pertama, struktur nilai tambah industri nikel nasional masih relatif dangkal.
Menurut Erwin, hampir 80 persen produksi nikel Indonesia masih diekspor dalam bentuk produk antara atau setengah jadi seperti NPI, feronikel, nickel matte, dan mixed hydroxide precipitate (MHP).
Kondisi tersebut membuat Indonesia belum menikmati manfaat maksimal dari rantai nilai industri nikel. Produk-produk setengah jadi tersebut masih harus diolah lebih lanjut di negara lain sebelum menjadi barang jadi bernilai tinggi.
“Kita masih menghadapi persoalan nilai tambah yang belum optimal karena sebagian besar produk yang diekspor masih berupa produk intermediate,” katanya.
Catatan kedua adalah munculnya paradoks deindustrialisasi.
Di tengah pertumbuhan pesat sektor hilirisasi, kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) justru mengalami tren penurunan dalam dua dekade terakhir.




