Telanjur Menggelinding dari London: Sepakbola Takkan Pernah Pulang

tribuntimur.com
2 jam lalu
Cover Berita

TRIBUN-TIMUR.COM - Sepak Bola Tak Akan Pulang. Itu judul buku sekaligus tulisan pertama Makhfud Ikhwan dalam buku yang diterbitkan setelah Piala Dunia 2018. Terbit pertama kali setahun sebelum Covid 19 melanda dunia.

Makhfud Ikhwan menulis: 

“Sepak bola tak akan pulang ke kampung halaman, Inggris. Sori. Ah, sebenarnya tak usah ada sori-sorian. Sepakbola tak akan kembali. Titik. Tidak tahun ini. Tak juga nanti.
 Kalian... okelah, ambillah dan klaim sejarah asal-mula itu, dan kami tak akan lagi mengutak-atiknya... kalian telah melepas benda bulat itu. Entah untuk alasan pamer, sebagaimana anak-anak kaya membawa mainan mahalnya hanya untuk ditunjukkannya kepada teman-temannya yang miskin, atau karena ingin memberadabkan kami para bangsa terjajah ini (seperti semua hal yang kalian pernah lakukan dahulu), kalian tak akan bisa mengambil lagi bola yang telah kalian operkan. Para pemain terbaik diukur dari kontrol bolanya, tapi tak ada seorang administratur terbaik pun yang bisa mengontrol sepakbola begitu ia di-mainkan. Tak akan.
 Benda bulat itu sudah bergulir, menggelinding liar, membentur satu mata kaki ke mata kaki lain, dicocor ujung kaki yang satu ke ujung kaki lain, terpental dari satu kepala ke kepala lain, dan sejak itu kalian tak akan lagi mendapatkan bola yang sama. Ia sudah berkubang lumpur, tercemplung selokan, permukaannya telah mengelupas di sana-sini, benang-benang jahitnya sudah lepas di banyak bagian, pentil anginnya melesak, dan boleh jadi tak bulat lagi; ia tak akan terbentuk seperti semula lagi. Jadi, sebaiknya lupakan saja. Jangan pernah berharap mengambil kembali bola yang sudah kadung menggelinding itu. Jangan pernah mengharapkannya kembali.”

Itu tulisan lima paragraf pertama bagian pertama dalam Buku Sepakbola Tak Akan Pulang.

Judul esei dan judul di sampul buku itu menggabung frasa sepak dan bola dalam satu kata menjadi sepakbola. Saya sepakat dengan diksi ini. Sepak dan bola memang tak pantas dipenggal.Tak layak dipisah.

Selanjutnya, di tiga paragraf terakhir esei Makhfud Ikhwan itu, dia menulis:

“Jika kalian mau sedikit bersyukur, sepakbola sebenarnya telah kembali kepada kalian nyaris tiga dekade lalu.
Tepatnya, pada 20 Februari 1992, ketika untuk pertama kalinya Liga Premier dibentuk. Liga itu yang membawa kepada kalian dewa-dewa dengan bola di kakinya: Cantona, lalu Zola, kemudian Bergkamp, dan ratusan yang lain sete-lahnya. Juga para peracik taktik terbaik yang pernah ada: Fergie, Wenger, Mou, Pep. Bahwa yang membawanya adalah uang dan jaringan televisi milik seorang Amerika kelahiran Australia bernama Rupert Murdoch, yang mungkin sama sekali tak tertarik dengan sepakbola kecuali uangnya, itu tentu saja sedikit ironi yang mesti kalian terima.
Beberapa pemain terbaik yang pernah dan sedang atau akan bermain di liga kalian akan tampil pada partai final di Luzhniki besok. Di antara mereka—Modric, Lovren, Pogba, Kante, Lloris, Giroud-Minggu malam nanti akan mengangkat piala dan menjadi juara dunia. Jika emblem yang menempel di kaos mereka bukan Tiga Singa, dan mereka bukan bagian dari kalian, tentu saja itu bukan salah mereka. "Itu salah Bapak menaruh bola," begitu bunyi tulisan di kaos seorang anak SMA.”

 Esei yang ditulis sehari sebelum penutupan Piala Dunia 2018 itu memang tidak sedang membahas hajatan ke-21 FIFA yang terhelat 14 Juni 2018-15 Juli 2018 itu.
 Tapi pembaca akan segera mengalirkan ingatan ke nasib Inggris. Apalagi ketika Makhfud Ikhwan menulis esei itu, Perancis dan Kroasia sudah bersiap berlaga di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, mementaskan Final Word Cup 2018, 15 Juli 2018.

Pembaca buku Sepakbola Tak Akan Pulang menjelang dan sesudah Piala Dunia 2022, apalagi usai Inggris tersingkir dari Piala Dunia 2022 di babak perempat final setelah kalah tipis 1-2 dari Prancis pada 10 Desember 2022.

Kapitalisme Global

Ada yang menulis, Sepakbola Tak Akan Pulang diadopsi Makhfud Ikhwan dari frasa “football is coming home”, yang populer dari lagu Inggris menjelang Piala Eropa 1996.

Metafora “bola yang sudah dioper” sangat kuat. Inggris mungkin adalah tempat lahir sepakbola modern, tetapi begitu permainan itu dilepas ke dunia, ia berhenti menjadi milik Inggris.

Bahkan mungkin Inggris sebagai tanah air sepakbola pun sudah pudar. Di Nusantara, sepakbola diajarkan oleh Belanda, termasuk di Makassar.

Dalam logika ini, Inggris seperti orang tua yang kehilangan hak penuh atas anaknya. Anak itu tumbuh di tempat lain, dibentuk pengalaman lain, bahkan melampaui asal-usulnya.

Brazil memberi sepakbola estetika. Argentina memberi drama dan mistisisme. Belanda memberi total football. Spanyol memberi tiki-taka. Jerman memberi mesin kolektif.
Prancis memberi multikulturalisme sepakbola modern. Indonesia mempersembahkan heroisme dan sikap suporter.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dinas LHK Depok soal Situ Bahar Tercemar: Kami Akan Awasi Perusahaan di Sekitar
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Bambang Soesatyo Nilai KUHP Baru Perkuat Penindakan Kasus Mafia Tanah dan Pemalsuan Dokumen
• 23 jam lalupantau.com
thumb
Prabowo Ajak Jerman Garap Mobil Listrik hingga Semikonduktor, Ini Daftar Sektor Investasi yang Dibuka!
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Para Bintang Liga Inggris Bersinar, Pesta Kemenangan Timnas Belanda Dirusak Jepang di Pekan Pembuka Piala Dunia 2026
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Semen Padang Jadi Tim Musafir, Nil Maizar Pastikan Tidak Akan Menggangu Performa
• 10 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.