jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam menilai wajar rakyat di Indonesia menuntut manfaat di level domestik ketika terjadi penurunan harga minyak dunia mencapai empat persen dalam perdagangan pada Senin (15/6).
Anam mengatakan rakyat di Indonesia diminta memahami kenaikan BBM ketika minyak dunia melambung akibat konflik di Timur Tengah (Timteng).
BACA JUGA: Seskab Teddy: Pertamax Harus Mengikuti Harga Minyak Dunia
Hal demikian disampaikan Anam soal kemungkinan pemerintah menurunkan harga Pertamax menyusul melemahnya tarif minyak dunia.
"Maka ketika perang mereda, Selat Hormuz kembali aman, dan harga minyak dunia turun, rakyat juga menuntut hal yang sama, manfaatnya harus segera dirasakan," kata dia melalui layanan pesan, Senin (15/6).
BACA JUGA: Kabar Gembira, Harga Minyak Dunia Turun Menjelang Perundingan Iran-Amerika
Legislator fraksi PDI Perjuangan itu mengingatkan pemerintah tak hanya menerapkan logika satu arah.
Semisal, kata dia, rakyat hanya diminta mengerti pemerintah ketika keuangan negara tertekan imbas lonjakan minyak dunia.
BACA JUGA: Harga BBM Subsidi Tetap, Perlu Empati Agar Pengguna Pertamax Tidak Beralih ke Pertalite
"Jangan sampai logikanya hanya berlaku satu arah. Saat harga minyak naik, harga BBM cepat menyesuaikan, tetapi saat harga minyak turun, yang muncul justru berbagai alasan untuk menunda penyesuaian," kata dia.
Menurut Anam, urusan harga BBM berkaitan dengan nasib rakyat, karena berdampak ke tarif transportasi, logistik, pangan, produksi UMKM, hingga daya beli masyarakat.
"Oleh karena itu, pemerintah dan Pertamina harus segera mengevaluasi harga BBM secara transparan. Jika memang ruang penurunan sudah tersedia, jangan ditunda," katanya.
Anam mengatakan rakyat jangan sampai menanggung beban saja ketika gejolak global menghantam Indonesia.
"Rakyat tidak boleh terus menjadi pihak yang pertama menanggung dampak gejolak global, tetapi terakhir menikmati manfaat ketika keadaan membaik," ungkapnya. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Harga BBM Naik, Wali Kota Bandung Minta ASN Tinggalkan Mobil Pribadi
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Aristo Setiawan




