Jakarta, CNBC Indonesia - Hampir semua kalender memiliki satu titik awal.
Kalender Masehi menghitung waktu dari kelahiran Yesus Kristus. Kalender Buddha dimulai dari wafatnya Sang Buddha. Banyak kerajaan kuno menjadikan penobatan raja sebagai awal perhitungan tahun.
Kalender Islam mengambil jalan yang berbeda. Ia tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bukan pula dari turunnya wahyu pertama. Bahkan bukan dari wafatnya.
Tahun pertama dalam kalender Islam justru berawal dari sebuah perjalanan sekitar 450 kilometer antara Makkah dan Madinah.
Pilihan itu dibuat pada masa Khalifah Umar bin Khattab, belasan tahun setelah Nabi wafat. Hingga hari ini, keputusan tersebut masih menjadi dasar lebih dari satu miliar Muslim dalam menghitung waktu.
Saat Umat Islam Belum Punya TahunJauh sebelum kalender Hijriah ditetapkan, masyarakat Arab sebenarnya sudah mengenal sistem penanggalan berbasis bulan.
Nama-nama bulan seperti Muharram, Safar, Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah telah digunakan sejak masa pra-Islam. Mereka juga mengenal empat bulan suci yang dihormati dan dijadikan masa penghentian peperangan.
Yang belum mereka miliki adalah angka tahun.
Sebagai gantinya, waktu ditandai berdasarkan peristiwa besar yang mudah diingat. Ada Tahun Gajah ketika pasukan Abrahah menyerang Makkah, Tahun Fijar saat pecah perang antarsuku, hingga tahun renovasi Ka'bah setelah banjir besar.
Sistem itu masih bertahan hingga masa Khalifah Umar bin Khattab.
Masalah muncul ketika wilayah Islam berkembang semakin luas dan administrasi pemerintahan menjadi lebih kompleks.
Dalam salah satu riwayat, Abu Musa Al-Asy'ari yang saat itu menjabat gubernur Bashrah mengirim surat kepada Umar.
"Kami menerima surat dari Amirul Mukminin, tetapi tidak tahu apakah surat itu ditulis pada Sya'ban tahun ini atau tahun sebelumnya."
Keluhan itu terdengar sederhana. Namun bagi pemerintahan yang wilayahnya terus meluas, persoalan tanggal menyangkut kepastian hukum, pengarsipan, hingga pelaksanaan kebijakan.
Umar kemudian mengumpulkan para sahabat untuk mencari solusi.
Musyawarah yang Menentukan Arah SejarahBeberapa usulan muncul dalam forum tersebut.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tahun kelahiran dan tahun diangkatnya Nabi sebagai rasul masih diperdebatkan. Sementara tahun wafat beliau dianggap kurang tepat karena identik dengan peristiwa yang menyedihkan.
Pilihan akhirnya jatuh pada hijrah.
Peristiwa perpindahan Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya ke Madinah pada 622 M ditetapkan sebagai titik awal kalender Islam.
Mengapa Hijrah?Alasannya bukan semata karena hijrah merupakan peristiwa besar. Yang dianggap penting adalah perubahan yang lahir setelahnya.
Sebelum hijrah, umat Islam merupakan komunitas kecil yang hidup sebagai minoritas di Makkah. Mereka belum memiliki otoritas politik, pemerintahan, maupun institusi sosial yang berdiri sendiri.
Situasinya berubah di Madinah.
Di kota itu lahir Piagam Madinah yang mengatur hubungan antarkelompok masyarakat. Pasar mulai berkembang dengan aturan yang lebih terstruktur. Zakat berkembang menjadi instrumen sosial yang lebih terorganisasi. Komunitas Muslim juga memiliki kepemimpinan dan tata kelola yang lebih jelas.
Hijrah menjadi titik ketika Islam tidak lagi hanya hadir sebagai komunitas keagamaan, tetapi juga sebagai masyarakat yang memiliki institusi.
Karena itu, yang dipilih sebagai awal kalender bukanlah momen kelahiran seseorang, melainkan momen perubahan sebuah komunitas.
Tahun Pertama yang Tidak Dimulai Saat HijrahAda satu fakta lain yang jarang diketahui.
Hijrah terjadi pada Rabiul Awal tahun 622 M. Namun tahun baru Islam justru dimulai pada Muharram.
Keputusan itu juga lahir melalui musyawarah para sahabat.
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Utsman bin Affan mengusulkan Muharram sebagai bulan pertama karena sejak lama sudah menjadi awal tahun dalam tradisi Arab. Muharram juga datang setelah musim haji berakhir, ketika masyarakat memulai siklus baru.
Selain itu, tekad untuk berhijrah mulai menguat setelah Baiat Aqabah pada Dzulhijjah. Muharram menjadi bulan pertama setelah peristiwa tersebut.
Dengan kata lain, kalender Hijriah tidak dimulai dari hari ketika hijrah berlangsung, melainkan dari titik ketika perubahan itu mulai direncanakan.
Sebuah Kalender, Sebuah PilihanSetiap peradaban memiliki cara sendiri untuk mengingat sejarahnya.
Sebagian memilih kelahiran tokoh besar. Sebagian lain memilih kemenangan perang, berdirinya dinasti, atau penobatan penguasa.
Kalender Islam memilih sesuatu yang berbeda. Yang dijadikan titik awal adalah sebuah peristiwa yang menandai lahirnya tatanan baru.
Karena itu, kalender Hijriah pada akhirnya bukan sekadar sistem penanggalan.
Ia juga menjadi pengingat tentang momen ketika sebuah komunitas mulai membangun institusi, aturan, dan arah sejarahnya sendiri.
source on Google




