JAKARTA – Keberanian dan sikap teguh anggota Kopassus saat menjalankan misi operasi berbahaya tidak perlu diragukan.
Salah satunya adalah Benny Moerdani, jenderal Kopassus yang nyaris kehilangan nyawa setelah menjadi sasaran tembak pasukan elite dunia, Special Air Service (SAS) dan marinir Belanda Koninklijke Mariniers.
Saat itu, Benny masih berpangkat kapten di RPKAD (cikal bakal Kopassus) diterjunkan dalam Operasi Naga di Irian Barat.
Operasi Naga tergolong berat karena bertujuan menggagalkan rencana Belanda membentuk “negara boneka” di Papua. Operasi ini juga menjadi bagian dari strategi TNI untuk memecah fokus kekuatan Belanda yang mencapai sekitar 10.000 personel dan berpusat di Biak.
Melansir buku Benny Moerdani yang Belum Terungkap, dikutip, Senin (15/6/2026), disebutkan adanya upaya perburuan terhadap Benny oleh pasukan elite Belanda.
Sebanyak 213 prajurit Kopassus diterjunkan dalam Operasi Naga menggunakan tiga pesawat C-130 Hercules di wilayah Merauke, Papua, pada 23 Juni 1962.
Namun, rencana operasi tersebut bocor melalui siaran radio Australia. Mengetahui hal itu, pasukan Belanda segera bergerak melakukan penyergapan terhadap Benny dan pasukannya.
Tim Naga yang dipimpin Benny tetap melanjutkan pergerakan menuju pusat pertahanan Belanda di Merauke, meski menghadapi berbagai hambatan. Bentrokan pecah, antara pasukan Naga dan Marinir Belanda pada 28 Juni 1962.
Dua perahu motor milik marinir Belanda tiba-tiba menyerang pasukan Benny yang tengah beristirahat di Sungai Kumbai. Pertempuran jarak dekat pun tak terhindarkan.
Benny mencari perlindungan sambil memerintahkan anak buahnya untuk menyelamatkan diri. Ia hampir tewas setelah topi rimbanya tertembus peluru, namun berhasil lolos.




