QRIS BRI Membantu Produk Lokal Menjangkau Pasar Lebih Luas

harianfajar
9 jam lalu
Cover Berita

Edward AS
Kecamatan Tamalate

Di tengah lalu lalang tamu Hotel Claro Makassar, deretan produk UMKM lokal kini mendapat ruang untuk tampil lebih dekat dengan konsumen. Tidak hanya menghadirkan etalase bagi puluhan pelaku usaha, keberadaan Pojok UMKM juga didukung sistem pembayaran digital QRIS BRI yang membuat transaksi menjadi lebih mudah dan praktis.

Sekitar 50 produk unggulan Sulawesi Selatan menghiasi Pojok UMKM yang berada di area lobi hotel. Mulai dari produk kriya, fesyen, camilan khas daerah, hingga minyak gosok dan aromaterapi hasil karya pelaku usaha lokal.

Bagi banyak UMKM, kesempatan memajang produk di hotel berbintang lima merupakan pengalaman yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Founder dan Mentor komunitas pemberdayaan RIDOH CHALLENGE RC, Ridwan Mochsen atau yang akrab disapa Ridoh, mengatakan antusiasme pelaku usaha begitu besar saat mengetahui produk mereka akan dipasarkan di area strategis yang setiap hari dikunjungi tamu hotel, peserta kegiatan, hingga wisatawan.

“Mimpi para pelaku UMKM waktu mengetahui akan diberikan ruang khusus untuk memajang dan menitipkan produk mereka di area lobi sangatlah besar. Mereka sangat senang dan gembira. Akhirnya produk mereka bisa masuk juga di hotel bintang lima,” ujar Ridoh, Selasa, 16 Juni 2026.

Beragam produk hasil karya pelaku usaha kemudian mengisi etalase tersebut. Mulai dari craft, kriya, fesyen, aneka camilan, hingga minyak gosok dan aromaterapi khas Sulawesi Selatan. Salah satu produk yang paling banyak menarik perhatian pengunjung adalah gelang tangan etnik produksi Grace Craft yang disebut menjadi salah satu produk terlaris sejak dipasarkan di area tersebut.

Menurut Ridoh, kehadiran Pojok UMKM mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan omzet pelaku usaha. Produk yang sebelumnya hanya dipasarkan dari rumah produksi kini memiliki peluang lebih besar untuk dikenal dan dibeli oleh konsumen dari berbagai daerah.

“Alhamdulillah, berkat peluang dan ruang yang diberikan di lobi Pojok UMKM Hotel Claro, sangat membantu omzet para UMKM. Produk mereka bisa terjual dengan harga kompetitif dan terjangkau bagi customer yang menginap maupun yang datang menghadiri acara di ballroom Claro,” katanya.

Salah satu faktor yang turut mendukung peningkatan penjualan adalah kemudahan transaksi melalui QRIS BRI. Sistem pembayaran digital tersebut memungkinkan tamu dan pengunjung melakukan pembelian hanya dengan memindai kode QR yang tersedia di area display produk.

Ridoh menilai kehadiran QRIS BRI memberikan kenyamanan bagi pembeli maupun pihak hotel yang membantu mengelola transaksi.

“Dengan adanya QRIS BRI, pembayaran menjadi sangat mudah bagi tamu dan pengunjung Hotel Claro. Biasanya ada tamu yang malas mencari uang pecahan kecil agar nominal pembayarannya pas. Begitu juga pihak resepsionis tidak perlu lagi kesulitan mencari uang kembalian,” jelasnya.

Menariknya, para pelaku UMKM tidak harus menjaga stan secara langsung. Seluruh transaksi dibantu oleh resepsionis Hotel Claro Makassar yang melayani pembelian selama 24 jam. Sistemnya tidak dijaga langsung oleh para pelaku UMKM, tetapi melalui resepsionis.

“Karyawan hotel sangat membantu. Kadang saya juga menyempatkan memantau langsung produk yang sudah terjual dan melihat stok yang perlu ditambah,” ungkap Ridoh.

Selain mempermudah pembayaran, penggunaan QRIS BRI juga membantu pelaku usaha mengelola keuangan secara lebih tertib. Setiap transaksi tercatat otomatis dan langsung masuk ke rekening usaha, sehingga memudahkan pemisahan keuangan bisnis dan kebutuhan pribadi.

Melalui sistem tersebut, para pelaku UMKM dapat memantau penjualan secara real time melalui mobile banking tanpa harus berada di lokasi.
“Penjualan bisa dicek langsung melalui sistem QRIS dan mobile banking sehingga pelaku UMKM dapat memantau perkembangan usahanya kapan saja,” ucapnya.

General Manager Hotel Claro Makassar, Anggiat Sinaga, mengatakan program tersebut lahir dari tingginya permintaan tamu terhadap suvenir dan camilan khas daerah. Dahulu pihaknya pernah menghadirkan etalase UMKM dan responsnya sangat positif.

“Banyak tamu yang bertanya di mana bisa mendapatkan suvenir atau camilan khas Makassar,” ujar Anggiat.

Karena itu, manajemen kembali menghadirkan Pojok UMKM sebagai ruang promosi bagi pelaku usaha lokal sekaligus memudahkan tamu memperoleh produk khas Sulawesi Selatan. Anggiat menegaskan program tersebut dijalankan dengan semangat pemberdayaan dan bukan semata-mata untuk mencari keuntungan. Menurutnya, komisi yang diterapkan hanya digunakan untuk menutup biaya operasional pengelolaan etalase sehingga sebagian besar hasil penjualan tetap menjadi hak pelaku UMKM.

“Selebihnya kami serahkan penuh kepada pelaku UMKM sehingga harga produk tetap kompetitif. Bagi kami, ini bentuk dukungan terhadap gerakan Bangga Buatan Indonesia dan program pemerintah dalam memajukan UMKM Sulawesi Selatan,” tegasnya.

Tingginya minat pengunjung ternyata berbanding lurus dengan antusiasme pelaku usaha yang ingin bergabung. Kini, tantangan baru justru datang dari semakin banyaknya UMKM yang ingin menitipkan produk mereka di Pojok UMKM Claro Makassar.

Namun keterbatasan ruang membuat proses seleksi dan kurasi harus dilakukan lebih ketat. Selain mempertimbangkan keunikan produk, pihak pengelola juga memperhatikan kualitas, desain kemasan, hingga standar keamanan pangan.

Di antara para tamu yang mampir ke Pojok UMKM, banyak yang mengaku terbantu karena dapat memperoleh oleh-oleh khas Sulawesi Selatan tanpa harus keluar dari area hotel.

Rahmawati, tamu asal Balikpapan yang menginap di Hotel Claro Makassar untuk menghadiri kegiatan bisnis, mengaku tertarik membeli camilan khas daerah setelah melihat etalase UMKM di lobi hotel.

“Saya memang berencana membeli oleh-oleh sebelum pulang. Kebetulan produk-produknya sudah tersedia di sini, jadi lebih praktis. Pilihannya juga cukup banyak dan kemasannya sudah bagus,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Andi Prasetyo, peserta seminar asal Jakarta. Menurutnya, keberadaan Pojok UMKM menjadi nilai tambah karena memudahkan tamu mendapatkan produk lokal yang autentik tanpa harus meluangkan waktu khusus untuk berbelanja di luar hotel.

“Biasanya kalau mau cari suvenir atau makanan khas harus keluar dulu. Di sini tinggal turun ke lobi sudah bisa melihat berbagai produk UMKM. Pembayarannya juga mudah karena bisa langsung pakai QRIS,” katanya.

Tingginya antusiasme pelaku usaha dan respons positif dari pengunjung menunjukkan bahwa ruang promosi yang mempertemukan UMKM dengan pasar yang lebih luas masih sangat dibutuhkan.

Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Abdul Muttalib Hamid, menilai kolaborasi antara sektor perhotelan, pelaku UMKM, dan perbankan merupakan model pemberdayaan yang efektif untuk mendorong usaha mikro naik kelas.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi UMKM saat ini bukan lagi sekadar kemampuan produksi, melainkan akses pasar dan kemampuan menjangkau konsumen yang lebih luas.

“Banyak UMKM memiliki produk yang baik, tetapi terkendala pada pemasaran. Kehadiran ruang promosi seperti Pojok UMKM di hotel berbintang menjadi langkah strategis karena mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen yang memiliki daya beli relatif tinggi,” katanya.

Ia juga menilai pemanfaatan QRIS BRI menjadi bagian penting dalam transformasi UMKM menuju ekosistem ekonomi digital yang lebih modern dan efisien.

Menurutnya, transaksi digital tidak hanya memberikan kemudahan pembayaran, tetapi juga membantu pelaku usaha membangun rekam jejak keuangan yang lebih baik.

“Ketika transaksi tercatat secara digital melalui QRIS, pelaku usaha lebih mudah mengelola keuangan, memantau omzet, hingga memiliki data usaha yang dapat digunakan saat mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan. Ini merupakan fondasi penting agar UMKM bisa berkembang secara berkelanjutan,” jelasnya.

Abdul Muttalib menilai model kolaborasi seperti yang dilakukan Hotel Claro Makassar dan BRI layak diperluas karena memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha lokal.

“Yang menarik dari program ini bukan hanya soal penjualan produk, tetapi bagaimana UMKM diberikan ruang untuk masuk ke pasar yang selama ini sulit mereka akses. Jika model seperti ini diperbanyak, dampaknya terhadap penguatan ekonomi lokal akan semakin besar,” bebernya.

Sementara Regional Chief Executive Officer BRI Region 15 Makassar, D. Argo Prabowo mengungkapkan, aplikasi BRImo mengalami pertumbuhan positif dengan jumlah pengguna yang meningkat setiap tahunnya. Hal ini sekaligus membuktikan nasabah sudah bergantung pada transaksi digital ketimbang harus ke bank.

“Dari sisi transaksi juga luar biasa bahkan secara nasional juga BRI dapat apresiasi positif karena transaksi dan alat akseptasi yang meningkat tajam,” tutup Argo. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rumah di Petamburan Terbakar, 75 Petugas Damkar Dikerahkan
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Pemprov DKI meriahkan Tahun Baru Islam dengan pawai obor elektrik
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Dua Kali Tertinggal, Iran Selamat dari Kekalahan Saat Ditahan Selandia Baru 2-2
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kantor Bupati Sigi hingga Auditorium Untad Rusak Akibat Gempa M 6,7
• 3 jam laludetik.com
thumb
MK Targetkan Gugatan MBG Diputus Bulan Juli 2026
• 10 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.