Jakarta: Piala Dunia selalu dipromosikan sebagai pesta sepak bola terbesar di dunia. Sebuah ajang yang seharusnya menyatukan negara-negara dengan latar belakang politik, budaya, dan kepentingan yang berbeda. Namun sejak hari-hari pertama penyelenggaraan Piala Dunia 2026, Amerika Serikat justru menghadapi gelombang kritik.
Karena bukan soal stadion yang belum siap, bukan soal transportasi, dan juga bukan soal pertandingan. Sorotannya datang dari pintu masuk negara itu sendiri. Sederet kejadian ini memunculkan pertanyaan yang semakin sering terdengar, apakah Amerika Serikat benar-benar menjadi tuan rumah yang baik untuk Piala Dunia 2026?
Diskriminasi terhadap Timnas Iran
Iran menjadi sorotan utama menjelang kick-off Piala Dunia 2026. Ketegangan politik atau juga ketegangan geopolitik antara Teheran dan Washington yang memanas, ditambah rentetan serangan militer Amerika Serikat baru-baru ini, membuat banyak pihak khawatir apakah sepak bola benar-benar bisa lepas dari intervensi politik.
Meski sebenarnya FIFA sudah menjamin hak semua negara untuk bertanding, kenyataan di lapangan lain. Karena delegasi Iran harus menghadapi pemeriksaan keamanan dan juga birokrasi visa yang jauh lebih intimidatif dibandingkan kontestan manapun. Pemerintah Amerika Serikat menjanjikan pengecualian visa bagi para atlet.
Baca Juga :
Dari Anak Imigran Afrika Utara, Yasin Ayari Bintang Muda Masa Depan Timnas SwediaLalu juga ada aturan masuk pulang instan. Pemerintah Amerika hanya mengizinkan Iran masuk ke wilayah mereka pada hari pertandingan dan wajib langsung keluar malam itu juga. Mereka dilarang menginap maupun menggelar konfesi pers H-1 di tanah Amerika. Lalu juga ada persoalan pengungsian base camp-nya. Akibat hampatan ini, Iran terpaksa memindahkan markas latihan mereka dari Arizona ke Tijuana, Meksiko. Ada juga soal misalnya boikot suporter, alokasi tiket untuk supporter Iran yang sempat dicabut, dan sebagian besar jurnalis mereka yang ditolak visanya.
Wasit asal Somalia dilarang masuk AS
Kontroversi berikutnya juga menimpa Omar Artan, wasit elit asal Somalia yang baru saja didobatkan sebagai wasit terbaik Afrika. Artan dipilih oleh FIFA sebagai salah satu dari 52 pengadil resmi untuk Piala Dunia 2016.
Ini sebenarnya adalah momen bersejarah untuk Somalia karena punya wakil di panggung sepakbola tertinggi Jagad Raya. Namun mimpi besar ini hancur berantakan di pintu imigrasi. Beberapa fakta pahit di balik pembatalan tugas Omar Artan misalnya diintrogasi 11 jam pemirsaan. Begitu mendarat di Bandar Internasional Miami, Artan langsung ditahan dan diintrogasi selama 11 jam oleh Otoritas Becukai dan juga Pelindungan Perbatasan Amerika.
Baca Juga :
Ditolak Masuk AS untuk Piala Dunia, Wasit Asal Somalia Disambut Bak PahlawanPresiden FIFA Gianni Infantino, menyayangkan kejadian ini, namun menyatakan FIFA tidak punya kuasa hukum untuk mengintervensi kebijakan imigrasi negara tuan rumah. Sebagai gantinya, FIFA berkomitmen tetap membayar penuh gaji turnamen milik Artan.
Pemeriksaan ketat terhadap Senegal
Bukan hanya soal Iran dan juga Somalia, Senegal juga ikut merasakan getirnya diskriminasi birokrasi di pintu masuk Amerika Serikat. Langkah sang juara Piala Afrika 2021 ini untuk berlagak di Piala Dunia harus dinodai oleh insiden di bandara.
Baca Juga :
Timnas Senegal Diperiksa Ketat di Landasan Bandara AS Jelang Piala Dunia 2026Sebaliknya, negara-negara Eropa atau Amerika Latin melenggang masuk dengan karpet merah tanpa hambatan berati. Akibatnya, sebuah preseden pun tercipta, Piala Dunia 2026 mempertontonkan standar ganda yang nyata, di mana semua peserta dipisahkan oleh kelas paspor dan juga asal negara mereka.
Striker Irak ditahan di bandara
Masalah serupa juga dialami oleh Irak, karena striker andalan mereka Ayman Hussein dilaporkan juga harus menjalani pemeriksaan tambahan berjam-jam setelah sampai di Amerika.
Meski akhirnya diperbolehkan masuk, insiden ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai perlakuan terhadap peserta dari negara-negara tertentu. Bagi seorang pemain profesional, waktu menjelang pertandingan sebenarnya penting, karena setiap jam yang terbuang di ruang pemeriksaan berarti berkurangnya juga waktu untuk istirahat, adaptasi, dan mempersiapkan diri bersama tim. Karena itu kejadian yang dialami oleh Ayman Hussein ini menjadi sorotan tersendiri di tengah berbagai kontroversi yang sedang terjadi.
Fotografer tim Irak ditolak masuk AS
Kalau misalnya sang striker tadi Ayman Hussein pada akhirnya diizinkan melanjutkan perjalanan, nasib yang jauh lebih tragis justru dialami oleh Talal Salah, fotografer resmi tim nasional Irak. Sama-sama mendarat di Bandara Internasional Oher, Chicago. Langkah Salah ini kemudian dihentikan oleh otoritas Bea dan Cukai, dan dia ditahan di ruang isolasi bandara, dipaksa melewati pemeriksaan gawai pribadi, dan diintrogasi secara maraton lebih dari 10 jam.
Sebenarnya dia sudah punya visa resmi dan juga akreditasi penuh yang diterbitkan langsung oleh Viva, otoritas Amerika Serikat, tapi kayaknya tidak kasih izin, dia dinyatakan tidak menunuhi syarat masuk dan atas dasar informasi rahasia keimigrasian, itu alasannya. Jadi langsung dideportasi malam itu juga dan dipulangkan ke Bagdad via Madrid.
Berbagai kontroversi ini membuat perhatian dunia tidak hanya tertuju pada pertandingan, tapi juga pada bagaimana negara tuan rumah memperlakukan tamu-tamunya. Karena pada akhirnya, piala dunia bukan hanya soal siapa yang menang di lapangan, tapi juga apakah seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang sama untuk hadir dan bertanding di sana.




