Jakarta: Kehilangan pekerjaan, proyek yang tiba-tiba sepi, atau kendaraan yang mendadak rusak bisa menjadi situasi yang mengganggu kondisi keuangan seseorang. Karena itu, memiliki dana darurat menjadi salah satu langkah penting dalam perencanaan keuangan.
Dana darurat berfungsi sebagai "bantalan" keuangan ketika terjadi kondisi tak terduga. Dengan adanya dana ini, seseorang tidak perlu terburu-buru berutang, menjual aset investasi, atau mengorbankan kebutuhan penting lainnya.
Namun, jumlah dana darurat yang ideal ternyata berbeda untuk setiap orang, terutama antara karyawan dan freelancer.
Baca Juga :
Mengenal Under Invoicing, Kecurangan Ekspor yang Bikin Negara Rugi-Edukasi EkonomiBeberapa contoh kondisi yang membutuhkan dana darurat antara lain:
- Kehilangan pekerjaan.
- Pendapatan yang menurun secara tiba-tiba.
- Biaya perbaikan kendaraan atau rumah.
- Kebutuhan kesehatan yang mendesak.
- Kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Misalnya, jika pengeluaran rutin mencapai Rp5 juta per bulan, maka dana darurat yang ideal berada di kisaran:
- 3 bulan pengeluaran: Rp15 juta
- 6 bulan pengeluaran: Rp30 juta
Idealnya, target dana darurat berada di batas atas rekomendasi atau bahkan melebihinya. Tujuannya agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi meski terjadi gangguan pada sumber penghasilan utama.
Baca Juga :
Mengenal Tren “In This Economy”, Sindiran Lucu yang Relate bagi Anak Muda-Edukasi EkonomiKarena tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi, freelancer disarankan memiliki dana darurat sebesar 6 hingga 12 kali pengeluaran bulanan.
Jika pengeluaran bulanan mencapai Rp5 juta, maka target dana darurat yang ideal adalah:
- 6 bulan pengeluaran: Rp30 juta
- 12 bulan pengeluaran: Rp60 juta
Rumusnya adalah:
Total Pengeluaran Bulanan × Jumlah Bulan Cadangan
Sebagai contoh:
Jika pengeluaran bulanan sebesar Rp5 juta dan target dana darurat adalah enam bulan, maka:
Rp5 juta × 6 = Rp30 juta
Artinya, dana darurat yang perlu dikumpulkan adalah Rp30 juta. Cara Mulai Mengumpulkan Dana Darurat Banyak orang menunda menyiapkan dana darurat karena merasa jumlah targetnya terlalu besar. Padahal, dana darurat bisa dibangun secara bertahap.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Menyisihkan 10–20 persen penghasilan setiap bulan.
- Memisahkan dana darurat dari rekening utama.
- Menyimpan dana di instrumen yang mudah dicairkan.
- Menghindari penggunaan dana darurat untuk kebutuhan konsumtif atau belanja impulsif.
Baca Juga :
Mengenal Sandwich Generation, Fenomena yang Banyak Dialami Anak Muda Indonesia-Edukasi EkonomiKeberadaan dana darurat dapat memberikan rasa aman ketika menghadapi ketidakpastian keuangan. Semakin tidak stabil sumber pemasukan seseorang, semakin besar pula dana darurat yang perlu dipersiapkan.
Karena itu, membangun dana darurat bukan hanya soal menyiapkan uang, tetapi juga menciptakan perlindungan finansial untuk menghadapi berbagai risiko di masa depan.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Muhammad Fauzan)




