Waspada Neraka Bocor Hantam Indonesia, Peneliti Ungkap Faktanya

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani mulai mengadopsi teknologi hemat air untuk menghadapi ancaman musim kemarau yang semakin tidak menentu, termasuk potensi El Nino “Godzila” yang diprediksi BRIN beberapa waktu lalu. (Dok. Humas Kementan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena El Niño yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur diramal akan segera tiba.

Berdasarkan sejumlah indikator oseanografi dan atmosfer, kecenderungan berkembangnya fenomena El Niño terjadi pada paruh kedua hingga akhir 2026. Untuk itu, semua pihak perlu mengantisipasi dampaknya, termasuk di Indonesia.


Profesor University of Maryland R. Dwi Susanto mengatakan berbagai data observasi dan model iklim menunjukkan perubahan kondisi laut di Samudra Pasifik yang mengarah pada pembentukan El Niño.

"Salah satu indikator utama adalah meningkatnya cadangan panas di bawah permukaan laut Pasifik yang berpotensi mendorong perpindahan massa air hangat ke arah timur," kata Profesor University of Maryland R. Dwi Susanto, dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (16/6/2026).

Menurut Dwi, data observasi dan model iklim memperlihatkan adanya akumulasi panas di bawah permukaan Samudra Pasifik. Bersamaan dengan itu, gelombang Kelvin mulai mendorong massa air hangat dari Pasifik barat menuju Pasifik timur, yang merupakan salah satu ciri perkembangan El Niño.

Ia menilai perubahan tersebut dapat diamati melalui suhu bawah permukaan laut, tinggi muka laut, hingga pola angin di kawasan tropis Pasifik. Berbagai model prediksi iklim internasional juga memperlihatkan kecenderungan yang sama.

"Indonesia memiliki posisi penting dalam sistem iklim global karena berada di kawasan western Pacific warm pool, wilayah dengan suhu permukaan laut tropis terhangat di dunia," ia menjelaskan.

Selain itu, Indonesia merupakan jalur Indonesian Throughflow (Arlindo) yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Sehingga, perubahan kondisi laut di wilayah Indonesia dapat menjadi indikator penting untuk memahami perkembangan El Niño.

Pemantauan suhu laut, dinamika Arlindo, maupun pergeseran pusat konveksi atmosfer di kawasan maritim Indonesia dinilai dapat membantu mendeteksi perubahan iklim sejak dini.

Dampak El Nino di Indonesia

Lebih lanjut, Dwi mengingatkan bahwa dampak El Niño terhadap Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kondisi di Samudra Pasifik. Interaksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia juga berperan besar dalam menentukan tingkat keparahan dampaknya.

"Kita tidak bisa hanya melihat indeks El Niño. Kondisi Indian Ocean Dipole juga harus dipantau karena kombinasi keduanya dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu fenomena yang terjadi," ia menuturkan.

Pilihan Redaksi
  • Fenomena Bromo Bersalju Saat RI Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG
  • Harga CPO Dibayangi Ancaman El Nino di Malaysia
  • Jutaan Warga Kelas Menengah RI Jatuh Miskin, Gegara Air Galon!

Ia mencontohkan peristiwa 1997-1998 ketika El Niño kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif. Kombinasi kedua fenomena tersebut menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan serta meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia.

Menurutnya, perkembangan IOD positif dapat dipantau melalui perubahan suhu permukaan laut di perairan selatan Jawa dan Sumatra. Pendinginan yang semakin kuat di kawasan tersebut umumnya berkaitan dengan meningkatnya risiko kekeringan.

Dwi menambahkan sejumlah model prediksi saat ini menunjukkan peluang berkembangnya El Niño pada akhir 2026 dengan kecenderungan berada pada kategori kuat hingga sangat kuat. Oleh karena itu, berbagai langkah mitigasi perlu dipersiapkan sejak dini, antara lain melalui pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, serta penguatan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

"Persiapan harus dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan. Yang penting adalah memastikan informasi iklim dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi," ia menjelaskan.

Peringatan BMKG ke Sektor Pertanian

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, Musim Kemarau tahun 2026 ini akan memicu mundurnya musim tanam pertama. Meski begitu, BMKG menekankan, petani tetap dapat memanfaatkan peluang di musim kemarau panjang kali ini.

"Anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur telah melewati batas netral selama 5 Dasarian. BMKG memprediksi bahwa Fenomena El Nino akan segera aktif dan akan terus bertahan hingga awal tahun 2027," kata Ardhasena dalam konferensi pers tentang Perkembangan Musim Kemarau 2026 di Indonesia ditayangkan kanal Youtube BMKG.

"Dengan peluang intensitas El Nino mencapai kategori Moderat sebesar 98% saat ini peluangnya. Dan mencapai kategori Kuat sebesar 62% peluangnya saat ini," sambungnya.

Angka ini naik di mana sebelumnya peluang El Nino kuat adalah kurang dari 20%.

Sementara, tambah Ardhasena, di Samudra Hindia ada peluang terjadinya Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada periode bulan Juni-November 2026.

"Fenomena El Nino kita ketahui menyebabkan penyimpangan iklim di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Indonesia dengan pola dan dampak berbeda-beda," ujarnya.

"Untuk wilayah Indonesia, terpengaruh (El Nino) menekan curah hujan. Jadi kondisinya lebih kering di bulan Juni (2026) hingga Januari (2027) pada umumnya. Namun perlu dicatat, sekitar bulan Oktober (2026) kita sudah memasuki Musim Hujan. Jadi, ini hanya gambaran umum dampak El Nino," Ardhasena menerangkan.

Ardhasena mengatakan, menghadapi Musim Kemarau kali ini, BMKG mengimbau agar dilakukan pengoptimalan irigasi teknis daerah-daerah yang ada irigasinya. Serta menyesuaikan ke komoditas pertanian yang adaptif terhadap kondisi kering, seperti tanaman hortikultura yang cocok dengan kondisi kering.

"Menghadapi Musim Kemarau yang panjang ini, berarti nanti musim tanam pertama bisa mundur," kata Ardhasena.

"Tapi, pada periode kering ini para petani juga bisa menyesuaikan dengan menanam tanaman hortikultura yang juga cocok pada saat periode kering ini. Jadi banyak hal yang masih bisa dilakukan menghadapi kondisi kemarau ini," ucapnya.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video:Kalah Dari Malaysia-Singapura, Ini PR RI Perkuat Kedaulatan Data

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
SCTV Music Awards 2026 Bikin Gebrakan, Lagu Daerah Kini Punya Kategori Khusus
• 6 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Cara ke Jakarta Fair 2026 Naik TransJakarta, Simak Rutenya
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Peserta Wisuda SD di Auditorium Tadulako Berhamburan saat Gempa 6,7 M Palu
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Viral Warga Sakit Ditandu dengan Tali Tambang dan Bambu di Bandung Barat, Begini Faktanya
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Foto: Libur Tahun Baru Islam di Taman Margasatwa Ragunan
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.