Membaca Arah IHSG dan Titik Balik Pasar Saham RI, Sudah Waktunya Koleksi?

katadata.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

Reli Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dalam sepekan terakhir menghidupkan kembali optimisme investor setelah indeks sempat terperosok ke level terendahnya tahun ini. IHSG sempat menyentuh ke titik terendah di level 5.342 pada 8 Juni 2026 dan kini sudah melonjak 17,09% dalam seminggu terakhir. 

Berdasarkan analisis PT Henan Putihrai Sekuritas dan PT Henan Putihrai Asset Management, IHSG telah mengalami delapan siklus koreksi besar sejak tahun 2000. Hingga 15 Juni 2026, koreksi pada siklus kedelapan telah mencapai 41,72% dari level puncaknya, menjadikannya penurunan ketiga terdalam dalam sejarah modern pasar modal Indonesia.

“Ketujuh siklus sebelumnya sudah selesai, dan ketujuhnya berakhir dengan cara yang sama: IHSG kembali ke puncak sebelumnya, lalu membuat puncak baru,” demikian tertulis dalam riset Henan, Senin (16/6). 

Henan Putihrai mengelompokkan pergerakan IHSG ke dalam empat fase siklus yang berulang dalam setiap periode koreksi besar pasar saham Indonesia. 

Henan memetakan pola tersebut berdasarkan tujuh peristiwa yang mengguncang pasar modal sejak 2000. Mulai dari Bom Bali pada 2002, krisis keuangan global (Global Financial Crisis/GFC) 2008, krisis utang Eropa dan Black Monday 2011, Taper Tantrum 2013, devaluasi yuan China 2015, pandemi Covid-19 2020, hingga badai tarif Presiden AS Donald Trump pada 2025. Saat ini, IHSG tengah menjalani siklus koreksi kedelapan.

Henan Putihrai menilai setiap fase memiliki karakter teknikal dan psikologis yang berbeda. Henan menyebut investor perlu memahami kedua aspek tersebut untuk membaca arah pasar. Banyak keputusan investasi yang keliru bukan terjadi karena kurangnya data, melainkan karena investor gagal memahami posisi pasar dalam suatu siklus.

Kerangka 4 Fase Siklus IHSGDESCENDPeak → TroughPenurunan terkonfirmasi sampai titik terendah closing. Fase ketika tekanan jual mendominasi dan setiap pantulan sementara menipu investor bahwa pemulihan sudah dimulai.TROUGHBasing & +10% BounceKonsolidasi di dasar; berakhir saat IHSG menguat ≥10% dari trough. Fase tercepat dalam siklus, hampir tidak pernah bisa dikenali dalam waktu nyata.NORMALIZATION→ 50% RetracePemulihan parsial sampai IHSG balik ke 50% jarak trough–peak. Fase yang paling sering terlewat karena rasa takut belum hilang ketika harga sudah naik.RECOVERY→ Full PeakPenguatan lanjutan sampai IHSG menyentuh kembali peak sebelumnya. Fase terpanjang, yang paling menguji kesabaran dan paling menghadiahi mereka yang tetap hadir.

Sumber: PT Henan Putihrai Sekuritas dan PT Henan Putihrai Asset Management

Henan Putihrai menegaskan empat fase siklus tersebut tidak menjamin koreksi yang terjadi saat ini akan mengikuti pola yang sama seperti tujuh siklus sebelumnya. 

Menurut Henan, arah pemulihan IHSG pada siklus kedelapan akan sangat bergantung pada sejumlah katalis utama, terutama keputusan MSCI terkait status Indonesia di indeks pasar berkembang (emerging market) yang dijadwalkan pada 18 Juni 2026.

Henan Putihrai membagi siklus koreksi menjadi empat fase, yakni descend, trough, normalization, dan recovery. Fase descend berlangsung sejak IHSG mencapai puncak hingga menyentuh titik terendah. Pada fase ini, indeks bergerak turun secara konsisten dan sering diselingi kenaikan sementara yang kerap memunculkan harapan pemulihan. Berdasarkan tujuh siklus sebelumnya, fase ini berlangsung rata-rata lima bulan.

Setelah itu, pasar memasuki fase trough atau fase dasar. Henan Putihrai menyebut fase ini sebagai periode yang paling sulit diidentifikasi karena baru dapat dikonfirmasi setelah IHSG naik setidaknya 10% dari level terendahnya. Secara historis, fase ini berlangsung sangat singkat, dengan median hanya sekitar 0,3 bulan atau tiga hingga 21 hari perdagangan.

Selanjutnya, pasar memasuki fase normalization, yaitu periode ketika IHSG mulai pulih dari titik terendah hingga menutup sekitar 50% dari jarak antara puncak dan dasar sebelumnya. Pada tahap ini, banyak investor masih ragu untuk kembali masuk meski harga saham sudah bergerak naik. Rata-rata fase tersebut berlangsung selama 3,2 bulan.

Adapun fase terakhir adalah recovery, yakni ketika IHSG melanjutkan penguatan hingga kembali ke level puncak sebelumnya. Henan Putihrai mencatat fase ini memiliki durasi rata-rata 7,5 bulan. 

Menurut Henan, IHSG bisa pulih kembali lebih cepat apabila pemicu koreksi berasal dari faktor eksternal. Sementara koreksi yang dipicu persoalan struktural domestik umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

Setelah Koreksi 41%, Di Mana Posisi IHSG Sekarang?

Henan mencatat IHSG mencapai puncak siklus kedelapan di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026 sebelum terkoreksi 41,72% dalam 4,6 bulan berikutnya. Koreksi tersebut menjadi yang terdalam ketiga dalam sejarah modern pasar modal Indonesia setelah GFC 2008 dan pandemi Covid-19. Pada 8 Juni 2026, IHSG menyentuh titik terendah di level 5.324,14 sebelum berbalik menguat 10,9% dalam dua hari perdagangan.

“Durasi Fase Trough dua hari ini menyamai rekor GFC 2008 dan COVID-19 2020 sebagai yang tercepat dalam catatan,” tulis Henan. 

Henan menyoroti keunikan siklus koreksi kedelapan yang belum pernah terjadi pada periode-periode sebelumnya. Di tengah tekanan pasar, Bank Indonesia justru menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin untuk menjaga stabilitas rupiah, alih-alih memangkasnya demi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurut Henan, kondisi tersebut membuat faktor yang mengakhiri fase penurunan (descend) kali ini berbeda dibandingkan siklus-siklus sebelumnya. Apabila pada periode sebelumnya pemulihan pasar kerap didukung perubahan kebijakan suku bunga, berakhirnya fase descend pada siklus saat ini lebih dipengaruhi meredanya tekanan jual setelah aksi jual bersih (net foreign sell) investor asing mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Sebagai perbandingan, Henan memetakan durasi fase descend pada siklus kedelapan dengan seluruh siklus koreksi besar yang pernah terjadi di pasar modal Indonesia sejak tahun 2000.

SiklusDrawdownDurasi DescendC1 – Bom Bali & Dot-Com Bubble-38,8%5,9 bulanC2 – GFC / Lehman-60,7%9,6 bulanC3 – Euro & Black Monday-22,0%2,1 bulanC4 – Taper Tantrum-23,9%3,3 bulanC5 – China Deval.-25,4%5,7 bulanC6 – COVID-19-37,7%2,3 bulanC7 – Trump Tariff-24,5%6,6 bulanC8 – Ongoing 2026*-41,7%4,6 bulan ?Mean (7 siklus)-34,4%5,0 bulanMedian (7 siklus)-31,6%5,2 bulan

Sumber: Henan Putihrai, mengutip Bloomberg L.P. (JCI Index OHLCVT), *per 10 Juni 2026.

Henan menilai kemampuan membedakan antara signal, noise, dan sound menjadi faktor penting selama fase penurunan yang berlangsung sekitar lima bulan. Menurut Henan, hal itu penting dibandingkan upaya memprediksi level IHSG berikutnya.

Henan mengategorikan sound sebagai informasi yang dapat diabaikan, seperti prediksi IHSG akan jatuh ke level 4.000 atau lebih rendah, narasi penurunan peringkat pasar secara permanen, hingga perbandingan dengan krisis 1998 yang dinilai memiliki konteks fundamental berbeda dengan kondisi saat ini.

Adapun noise mencakup berbagai sentimen jangka pendek yang kerap memengaruhi pergerakan harian pasar. Mulai dari fluktuasi harga yang tajam, respons pasar terhadap isu tarif dan geopolitik, hingga komentar analis mengenai level teknikal tertentu.

Sementara itu, Henan mengidentifikasi sejumlah signal yang muncul sebelum IHSG mencapai titik terendah pada 8 Juni 2026. Indikator tersebut antara lain akumulasi aksi jual bersih (net foreign sell) investor asing yang mulai mendekati titik jenuh serta stabilisasi nilai tukar rupiah yang mulai terlihat pada akhir Mei hingga awal Juni.

“Dan mulai masuknya beberapa berita positif dari negosiasi MSCI tentang transparansi kepemilikan saham Indonesia. Ketiga kondisi ini muncul sebelum harga memantul, bukan setelahnya,” tulis Henan. 

Sentimen dan Target Terdekat IHSG

Henan menilai fase penurunan (descend) pada siklus koreksi kedelapan telah berakhir setelah IHSG mengonfirmasi titik terendah (trough) pada awal Juni 2026. Namun, Henan masih menunggu konfirmasi lebih lanjut untuk memastikan apakah pasar telah memasuki fase normalization atau masih bergerak dalam fase konsolidasi di area dasar.

Dalam skenario normalization, Henan memperkirakan target teknikal pemulihan berada di level 7.229,42 atau setara dengan retracement 50% dari penurunan sebelumnya. Dengan posisi IHSG di level 6.118,72 pada pembukaan perdagangan 15 Juni 2026, indeks masih berpotensi menguat sekitar 18,2% untuk mencapai target tersebut. 

Berdasarkan pola koreksi historis yang dipicu faktor domestik, seperti pada siklus Bom Bali 2002 dan devaluasi yuan China 2015, fase normalization umumnya berlangsung antara 3,9 hingga 7 bulan.

Henan mengidentifikasi tiga indikator utama yang perlu dicermati investor. Pertama, keputusan MSCI terkait status Indonesia di kategori Emerging Market, yang dinilai menjadi katalis paling penting bagi arah pasar pada siklus kali ini. 

Kedua, stabilisasi nilai tukar rupiah menuju kisaran Rp15.000–Rp16.000 per dolar AS. Ketiga, perubahan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia menuju fase pelonggaran, yang secara historis kerap mendahului atau bertepatan dengan fase pemulihan.

“Pengumuman MSCI pada 18 Juni nanti adalah faktor yang paling konkret dari opsi kedua tersebut,” tulis Henan. 

Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Henan menilai siklus koreksi kedelapan berbeda dari tujuh siklus sebelumnya. Jika pada periode-periode terdahulu status Indonesia di pasar modal global relatif tidak dipertanyakan, kali ini perhatian investor tertuju pada keputusan MSCI terkait posisi Indonesia dalam kategori Emerging Market

Menurut Henan, isu utama dalam siklus saat ini bukan hanya kapan pasar akan pulih, tetapi juga bagaimana posisi Indonesia dalam alokasi modal global setelah keputusan MSCI diumumkan.

“Perbedaan ini penting karena ada efek umpan balik yang tidak sederhana: ketidakpastian tentang status MSCI mendorong sebagian modal keluar, keluarnya modal menekan fundamental, dan tekanan pada fundamental memperkuat kekhawatiran tentang status MSCI,” tulis Henan. 

Henan juga memberikan sejumlah panduan bagi investor dalam menghadapi siklus koreksi kedelapan. Salah satunya melalui penerapan strategi barbell, yakni membagi portofolio ke instrumen yang lebih aman dan aset yang berpotensi memperoleh manfaat ketika pemulihan pasar mulai terkonfirmasi.

Selain itu, Henan juga menyarankan investor untuk mencermati pergerakan rupiah sebelum melihat arah IHSG. Menurut Henan, stabilitas nilai tukar menjadi indikator penting karena investor asing umumnya mempertimbangkan risiko mata uang sebelum kembali menempatkan dana di pasar saham Indonesia.

Henan juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan keputusan investasi dengan jangka waktu dan profil risiko masing-masing. Investor dengan horizon investasi jangka pendek dinilai masih akan menghadapi ketidakpastian terkait keputusan MSCI. Sementara investor jangka panjang memiliki ruang yang lebih besar untuk melewati berbagai skenario pasar.

Pertanyaan yang paling relevan bagi setiap investor dalam beberapa hari ke depan bukan apakah Indonesia layak diinvestasikan, melainkan berapa besar dari alokasi yang sudah direncanakan yang sebaiknya masuk sebelum 18 Juni, dan berapa besar yang lebih bijak untuk ditahan hingga setelah pengumuman MSCI,” tulis Henan.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Estimasi Biaya Melahirkan di Rumah Sakit Jakarta Selatan (Part 2)
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Takut Dipecat Karena Hamil, WNI di Jepang Sembunyikan Jenazah Bayinya
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Sambut 1 Muharram, Begini Perayaan Tahun Baru Islam di AS-Arab
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Prahara Cinta Tak Direstui di Balik Penculikan Lansia di PIK
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
Pawai obor semarakkan tahun baru islam di Aceh Besar
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.