Lereng Gunung Merapi pada malam 1 Suro 1960, bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah, yang jatuh pada malam Selasa Wage, 15 Juni 2026, tampak berbeda dari sebelumnya. Sekitar 3.000 peserta lampah dalu berjalan diam mengitari Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan tirakatan menyambut tahun baru kalendar Jawa ini semula diperkirakan akan diikuti sekitar 250 orang saja dari warga Desa Hargobinangun. Panitia tak menyangka bahwa peminatnya hingga ribuan orang, sementara persiapan acara hanya sekitar dua minggu. Dari catatan panitia, peserta dari luar desa mencapai 2.060 orang. Sebagian besar mengenakan pakaian tradisional, seperti surjan dan kebaya.
Mereka bukan hanya warga sekitar DI Yogyakarta, bahkan ada yang datang dari Tangerang, Jakarta, Semarang, Salatiga, dan Ponorogo. Sebagian besar mengetahui kegiatan tersebut dari media sosial. Panitia terpaksa menutup pendaftaran meskipun baru tiga hari diumumkan. Tidak menyangka peminat tirakatan lampah dalu sedemikian banyak.
Kegiatan festival lereng Merapi tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya yang ditonjolkan suasana meriah dalam kegiatan berkesenian dan budaya, kali ini sifatnya lebih kontemplatif. ”Tahun lalu festival lereng Merapi diadakan sampai tujuh hari. Tahun ini hanya satu hari saja,” kata Antok, salah satu anggota panitia festival.
Menurut Amin Sarjito, Kepala Kelurahan Hargobinangun, dalam wawancara dengan Kompas (15/6/2026), kegiatan festival lebih sebagai bentuk keprihatinan atas situasi sosial budaya masyarakat saat ini, yang salah satunya ialah masalah hedonisme.
”Kami ingin mengajak warga berdoa dalam laku tirakat berjalan malam dalam diam mengelilingi wilayah Desa Hargobinangun. Dalam laku jalan malam kita berdoa kepada Tuhan agar lereng Merapi diberi keselamatan, dijauhkan dari bencana,” kata Amin.
Kegiatan lampah dalu berlangsung sekitar empat jam menempuh jarak sekitar 15 km melintasi 12 pedukuhan. Rute perjalanan berawal dari Kantor Kelurahan Hargobinangun menuju Kaliurang dan kembali melewati Jalan Boyong, serta jalan-jalan desa. Ratusan peserta pembawa obor menerangi peserta tirakatan di sepanjang perjalanan. Bagian terdepan ialah para perangkat desa dan tokoh adat yang membawa serta mengiringi prosesi kirab pusaka.
Di sepanjang perjalanan, warga desa yang tidak ikut lampah dalu berdiri diam. Di setiap jalan pedukuhan yang dilewati, sejumlah warga menyambut peserta dengan membawakan berbagai kegiatan seni tradisi. Ada dolanan anak-anak, musik keroncong, karawitan, tarian tradisional, dan lain-lain. Suasana terasa sakral ketika melewati jalan gelap yang diterangi cahaya lilin-lilin menyala di kiri kanan jalan dan bau wangi asap dupa.
Jika sebelumnya yang ditonjolkan suasana meriah dalam kegiatan berkesenian dan budaya, kali ini yang lebih kontemplatif.
Dalam sambutannya, budayawan GP Sindhunata SJ mengajak peserta lampah dalu agar di tengah rasa prihatin bersama-sama merasakan dan meresapkan laku tapa bisu, bahwa sesungguhnya setiap dari insan hanya tamu, sekadar menumpang hidup di Gunung Merapi dan alam semesta raya ini. Gunung Merapi sudah ada sejak bermiliar tahun sebelum manusia ada.
Oleh karena itu, setiap dari manusia berharap diberikan anugerah untuk kembali ke kodrat dan jati diri diri. Sesungguhnya manusia hanya makhluk kecil, yang lemah tidak berdaya, dan tidak berharga. Namun, manusia kerap lupa, malah sering mengagungkan diri, sombong, dan membabi buta, sampai-sampai manusia merasa yang paling berkuasa di alam ini. Sikap ini membuat manusia tega terhadap alam ini, serakah, bernafsu menguasai, memaksa juga merusak alam, dan mengambil kekayaan alam tanpa ukuran, seolah alam ini milik sendiri.
Lampah dalu menjadi sarana refleksi, ajakan pulang ke dalam diri, siapa kita sesungguhnya di hadapan alam semesta, dan Tuhan sang pencipta.





