Lepas Ketergantungan Impor Minyak dari Timur Tengah, Bahlil: Kita Sudah Kontrak dengan Negara Lain

idxchannel.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bahlil Lahadalia mengeklaim bahwa saat ini posisi Indonesia sudah tidak lagi bergantung atau mengandalkan impor minyak dari Timur Tengah.

Lepas Ketergantungan Impor Minyak dari Timur Tengah, Bahlil: Kita Sudah Kontrak dengan Negara Lain. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengeklaim bahwa saat ini posisi Indonesia sudah tidak lagi bergantung atau mengandalkan impor minyak dari Timur Tengah yang melintas selat Hormuz. 

Bahlil mengatakan pemerintah sudah memiliki kontrak jangka panjang untuk pengadaan minyak pemenuhan kebutuhan dalam negeri selain dari negara-negara timur tengah. Sehingga meski ada penutupan atau pembukaan selat Hormuz, Indonesia sudah tidak bergantung pada pengadaan minyak dari negara tersebut. 

Baca Juga:
Menteri Bahlil Bentuk Tim Pengadaan Batu Bara untuk Penuhi Kebutuhan PLN

"Kalau persolan impor crude, sekalipun Selat Hormuz-nya sudah dibuka, tetap kita sudah melakukan kontra jangka panjang dengan negara-negara lain," ujar Bahlil saat ditemui di Kompleks DPR RI, Senin (15/6/2026).

Namun demikian, kata Bahlil, orientasi pemerintah adalah posisi harga yang paling murah. Hal tersebut ditujukan agar beban fiskal untuk pengadaan minyak mentah tidak terlalu berat. 

Baca Juga:
Bahlil Usulkan Volume Solar Subsidi Naik Jadi 19 Juta Kiloliter di 2027

Menurutnya, ketika Selat Hormuz telah dibuka dan kembali membentuk harga minyak yang kompetitif di negara Timur Tengah, maka pemerintah bisa saja mempertimbangkan untuk kembali melakukan pembelian minyak dari Timur Tengah. 

"Tapi kalau harganya lebih kompetitif, maka tidak menentu kemungkinan juga untuk kita mencoba untuk membuka akses pasar di Middle East," kata Bahlil. 

Baca Juga:
Bahlil Hidupkan Lagi Program Kompor Listrik, Sasar Rumah Tangga dengan Daya 900 kVA ke Bawah

Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan proyeksi impor minyak melalui kerja sama dengan Rusia diperkirakan tembus 150 juta barel. BBM ini bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, namun sekaligus industri.

Yuliot mengatakan impor minyak dari Rusia tidak diserap seluruhnya oleh PT Pertamina (Persero), tapi ada Badan Layanan Umum (BLU) Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi Lemigas yang akan melakukan transaksi. 

Nantinya para pelaku industri bisa langsung membeli minyak tersebut untuk kebutuhan aktivitas pertambangan hingga pabrik petrokimia, sebagai bahan baku utama untuk memproduksi plastik, karet sintetik, serat pakaian, pupuk, dan deterjen.

"Ini kan juga ada industri juga ya kemudian ada kegiatan tambang juga, jadi kita bisa distribusikan untuk bahan baku petrokimia, kan juga diperlukan," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (24/4/2027).

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Boni Hargens: Polri Makin Humanis, Kunci Stabilitas Sosial-Politik
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Purbaya Terbang ke China, Temui 15 Investor Besar untuk Jajaki Panda Bond
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Pertama Kali Wakil Asia Tumbang di Piala Dunia 2026, Haaland Pimpin Norwegia Hajar Irak 4-1
• 25 detik laluharianfajar
thumb
Pria Depok Iming-imingi Bocah Top Up Game Malah Gasak HP, Diamankan Warga
• 13 jam laludetik.com
thumb
TKIT Nurul Uswah Tandutedong Lepas 51 Anak Didik, Bupati Minta Anak Sidrap Berani Berkompetisi
• 12 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.