Beredar anggapan bahwa anak laki-laki yang sering mengonsumsi susu kedelai berisiko menjadi lebih feminin atau "kemayu" karena kandungan fitoestrogen di dalamnya. Namun, benarkah hal tersebut?
Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K), menegaskan bahwa anggapan tersebut hanyalah mitos dan tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
Konsumsi Susu Kedelai Tidak Terbukti Mengubah Hormon AnakMenurut dr. Reza, memang benar bahwa kedelai mengandung fitoestrogen, yaitu senyawa alami yang memiliki struktur mirip dengan hormon estrogen. Namun, kadar dan efek fitoestrogen dalam kedelai jauh lebih rendah dibandingkan hormon estrogen yang diproduksi secara alami oleh tubuh.
"Memang benar bahwa pada susu kedelai itu mengandung fitoestrogen, yaitu senyawa yang mirip dengan estrogen. Tapi potensi atau kadarnya itu sebenarnya sangat-sangat rendah kalau dibandingkan dengan estrogen yang terbentuk alami dari dalam tubuh," ucapnya kepada kumparanMOM beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, berbagai penelitian yang telah dikaji secara bersama-sama menunjukkan bahwa konsumsi kedelai maupun susu kedelai tidak berkaitan dengan perubahan hormonal pada anak. Hingga saat ini, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa konsumsi susu kedelai dapat membuat anak laki-laki menjadi lebih feminin.
Selain itu, penelitian juga tidak menemukan hubungan antara konsumsi kedelai dengan penurunan kualitas reproduksi pada remaja laki-laki, termasuk jumlah sperma.
Dengan demikian, orang tua tidak perlu khawatir memberikan kedelai atau susu kedelai kepada anak sebagai bagian dari pola makan yang sehat dan seimbang.
Tetap Perlu Variasi Sumber ProteinMeski aman dikonsumsi, dr. Reza mengingatkan bahwa susu kedelai sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya sumber protein bagi anak.
Anak tetap membutuhkan beragam sumber protein untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal. Menurutnya, sumber protein hewani masih menjadi pilihan terbaik karena mengandung asam amino esensial yang lebih lengkap dan mudah diserap tubuh.
"Memang benar bahwa pada susu kedelai itu mengandung fitoestrogen, yaitu senyawa yang mirip dengan estrogen. Tapi potensi atau kadarnya itu sebenarnya sangat-sangat rendah kalau dibandingkan dengan estrogen yang terbentuk alami dari dalam tubuh,” tutur dr. Reza.
Sehingga, orang tua dianjurkan untuk memberikan pola makan yang bervariasi dengan mengombinasikan berbagai sumber protein, baik hewani maupun nabati. Dengan begitu, kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi secara optimal tanpa perlu khawatir terhadap mitos yang belum terbukti kebenarannya.





