Pertemuan Wapres Gibran dan Demonstran, Dialog Otentik atau Gimik Politik?

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Sebuah peristiwa terjadi di tengah-tengah gelombang aksi unjuk rasa mahasiswa. Tiba-tiba saja, Wakil Presiden Gibran Rakabuming mengundang sejumlah perwakilan demonstran untuk berbincang bersamanya. Sekilas gestur itu seolah menampilkan wajah lain negara yang mau mendengarkan suara kritis. Tetapi, pertanyaan lain ikut mengemuka, apakah momen itu berlangsung secara organik ataukah sekadar gimik politik?

Sore hari akan segera berganti petang ketika sekelompok mahasiswa berjaket almamater merah dan biru berjalan bersama menyusuri trotoar menuju ke Istana Wakil Presiden (Wapres), Jakarta, Senin (15/6/2026) kemarin.

Sebelumnya, mereka baru saja menggelar unjuk rasa di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan. Aksi unjuk rasa itu melanjutkan gelombang demonstrasi yang diawali sejumlah mahasiswa berbagai daerah sejak Jumat (12/6/2026) lalu.

Para mahasiswa itu langsung masuk ke gedung Istana Wapres sesudah rampung menjalani pemeriksaan petugas keamanan. Dalam pertemuan tertutup, Wapres Gibran mengajak para mahasiswa - yang berasal dari Universitas Bung Karno dan Universitas MH Thamrin itu - berbincang sekitar satu jam lamanya. Langit pun sudah sepenuhnya gelap saat mereka keluar gedung diantar Wapres Gibran, yang tampil berkemeja batik tanpa pin jabatan Wapresnya.

Di teras Istana Wapres, interaksi antara mahasiswa dan Wapres Gibran terasa hangat. Sesekali terlihat mereka saling bertukar senyum seperti sedang bercanda. Sebagian lain ada yang sampai membungkukkan badan sewaktu berjabat tangan. Adegan foto bersama tak lupa dilakukan para mahasiswa. Bahkan, mereka sempat menjalani ibadah shalat maghrib bersama di masjid yang berada di area istana tersebut.

“Tentu, hasil pertemuan sama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membuahkan hasil. Kawan-kawan mahasiswa pun menyampaikan aspirasi baik keluh kesah mereka dari daerah, keluh kesah skala nasional, mereka menyampaikan secara konstitusional ke depan langsung Bapak Wapres,” kata Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno Muhammad Abdi Maludin kepada wartawan seusai bertemu Wapres Gibran.

Abdi menyatakan, respons Wapres Gibran atas segala tuntutan yang disampaikan para mahasiswa itu cukup positif. Sepanjang pertemuan, sebut dia, Wapres Gibran sibuk mencatat kegelisahan kaum muda itu pada buku catatan kecilnya.

Adapun sederet desakan para mahasiswa, antara lain, pembekuan sementara dan evaluasi menyeluruh program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), mewujudkan pendidikan tinggi yang murah, menguji kembali Undang-Undang Kepolisian RI, hingga meminta stabilisasi rupiah.

Baca JugaDemo di Bundaran HI, Mahasiswa Tuntut Pemerintah Dengarkan Keresahan Publik

“Mas Wapres terbuka dan menerima hasil kajian kami. Dia akan mengaudit dan memberitahukan kepada pimpinannya, lebih khusus Presiden Prabowo Subianto. Dia akan sounding lagi,” kata Abdi.

Bukan sekadar menyampaikan tuntutan, Abdi dan kawan-kawannya juga memberikan tenggat waktu kepada pemerintah. Mereka mendesak supaya sederet permintaan mahasiswa itu dipenuhi dalam kurun waktu 5 hari ke depan, atau 5 x 24 jam.

Tanpa adanya realisasi, sebut dia, pemerintah berarti mengkhianati kesepakatan yang telah dibangun. “Kita akan turun lagi dan melakukan aksi berjilid-jilid,” ujar Abdi ketika ditanyai terkait sikap mahasiswa jika tuntutan mereka tidak dipenuhi pemerintah.

Baca JugaRespons Tuntutan Demonstran, Pemerintah Klaim Jalankan Reformasi Ekonomi Jilid Dua

Abdi dan kawan-kawannya tak menampik jika pertemuan tertutup itu berbeda dari kebiasaan aksi unjuk rasa mahasiswa pada umumnya. Bagi Abdi, bukan menjadi persoalan diskusi bersama pemerintah berlangsung di jalan maupun ruang tertutup. Ia menerima tawaran pertemuan tertutup dari Gibran karena terjun aksi membawa niat baik. Terlebih lagi, ia menginginkan kondisi Indonesia terus aman. 

Kendati demikian, Abdi menolak gratifikasi dalam bentuk apapun selama pertemuan itu. Bahkan, ia enggan menerima suguhan makan. Cara itu menjadi upayanya menjaga independensi kelompok mahasiswa. “Saya tidak mau ada persepsi buruk terhadap kami. Kami menolak dalam bentuk apapun,” kata Abdi. 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekretariat Wapres, Al Muktabar mengatakan, pertemuan antara mahasiswa dan Wapres Gibran berlangsung dalam dialog interaktif. Ia menyatakan, semua saran yang disampaikan mahasiswa akan menjadi pertimbangan untuk ditindaklanjuti merujuk batas kewenangan sesuai perundang-undangan yang berlaku.

“Karena kita adalah negara yang basisnya demokrasi, kemudian mempunyai landasan hukum, maka hal-hal seperti itu beliau (Wapres) sangat menghargai. Dan itulah buktinya bahwa sore ini beliau berkenan menerima perwakilan mahasiswa,” kata Al Muktabar. 

Hanya saja, Al Muktabar belum bisa memastikan sejauh mana tindak lanjut dari pertemuan itu. Ia sebatas menyebut jika segala aspirasi itu memiliki mekanisme kerja tertentu yang bisa disampaikan dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Menurutnya, pertemuan sore itu diikhtiarkan untuk menyalurkan pemikiran-pemikiran mahasiswa.

Diunggah ke medsos

Momen pertemuan tertutup itu ternyata turut diunggah Wapres Gibran lewat akun Instagramnya, yakni @gibran_rakabuming, beberapa jam setelah rampung. Hingga Selasa malam, sekitar pukul 20.00 WIB, video itu sudah disukai lebih dari 156.000 pengguna lainnya. Adapun isi video itu menampilkan cuplikan aksi unjuk rasa hingga pertemuan yang berlangsung antara mahasiswa dan Wapres Gibran.

Dalam rekaman video itu, terlihat Wapres Gibran menjabat tangan para mahasiswa satu per satu. Ia menanyai mereka baru menggelar aksi unjuk rasa di mana. Ia juga meminta agar para mahasiswa yang menjadi perwakilan itu menyampaikan salam kepada peserta demonstrasi lainnya yang masih menanti di lokasi aksi.

Kepada para mahasiswa, Wapres Gibran mengucapkan banyak terima kasih atas segala masukan yang diberikan. Tetapi, ia menyatakan, semua yang sudah dicapai dan dibangun pemerintah mesti dirawat bersama. Ia menyadari jika pekerjaan-pekerjaan pemerintah masih banyak kekurangan dan harus diperbaiki.

“Saya senang mahasiswa kritis, ikut mengevaluasi, dan memberikan saran,” kata Wapres Gibran dalam video tersebut.

Unggahan video itu mengundang respons masif warganet. Buktinya, kolom komentar video itu bisa memuat lebih dari 6.400 komentar. Semakin menarik jika menilik tombol “likes”, atau tanda suka atas komentar-komentar itu. Tampak sebagian komentar juga banyak mendatangkan “likes”.

Salah satu komentar yang paling banyak disukai itu dituliskan @gita.apriliya04. Komentar itu mencatatkan “likes” sebanyak 13.800 tanda suka. Ihwal isinya, pemilik akun menyindir aksi mahasiswa yang justru terkesan melempem setelah bertemu Wapres Gibran.

“Bener, kan. Pas udah ditemuin malah kayak kerupuk kena air. Gak sok ngeras lagi. Senyum-senyum habis itu nanti minta foto. Lagu-laguan kamu orang,” tulis @gita.apriliya04.

Komentar lain yang juga mengundang banyak “likes” berwujud pujian atas aksi Wapres Gibran. Sosok yang meninggalkan jejak komentar itu adalah @konco_gibran. “Percayalah, Mas Gib Wapres terbaik yang selalu konsisten untuk mendengar rakyatnya,” tulis komentar yang mencatatkan lebih dari 5.000 likes itu.

Dihubungi terpisah, peneliti senior dari Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli mengungkapkan, pertemuan itu memberikan citra positif bagi Wapres Gibran. Setidaknya kesan apik itu tertinggal pada elemen mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi. Pasalnya, langkah itu diambil Wapres ketika kebanyakan elite politik lainnya cenderung antikritik dan menolak pertemuan-pertemuan serupa.

Baca JugaSaat Gibran Tiba-tiba Temui Massa Semasa Kampanye Terbuka

“Dengan aksi itu, mahasiswa menjadi senang karena aspirasinya didengar meskipun belum tentu tuntutan itu akan ditindaklanjuti. Karena, penentu kebijakan bukan di tangan Wapres, tetapi di tangan Presiden. Tetapi, dengan diterimanya mahasiswa tersebut memberikan nilai plus bagi Wapres karena dia satu-satunya elite yang menerima mahasiswa,” kata Lili.

Lili berharap agar dialog yang berlangsung itu bukan sekadar gimik politik atau pencitraan. Ia khawatir jika aksi itu sekadar pencitraan justru akan kian merugikan pemerintah yang berbagai kebijakannya tengah disoroti. Terlebih lagi, elite politik memang cukup sering melakukan perbuatan serupa.

“Jika demikian, kekecewaan akan semakin bertembah. Apalagi jika menerima dan dialog itu ada rekayasa untuk membangun citra seolah-olah wapres responsif dan terbuka terhadap mahasiswa. Berarti ia sedang mencari simpati dan dukungan rakyat,” kata Lili.

Kemunculan Wapres Gibran yang tiba-tiba menemui demonstran tak urung telah membuat publik bertanya-tanya. Apalagi, selama ini, sosok itu terlihat lebih irit bicara di muka publik. Lantas, apakah pertemuan itu sekadar gimik politik atau dialog otentik antara pemimpin dan rakyatnya?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Setelah Jatuh 41,72%, IHSG Mulai Bangkit? Ini Data Historisnya
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Terlanjur Dibeli Pakai Uang Negara, Motor Listrik Warisan Mantan Kepala BGN Akan Dimanfaatkan
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Viral! WNA Ribut di Terminal 3 Bandara Soetta, Ini Kata Polisi
• 34 menit laluviva.co.id
thumb
Pesawat Bomber B-52 AS Jatuh, 8 Orang Tewas
• 13 jam laludetik.com
thumb
BMKG: Gempa 6,7 Magnitudo Guncang Palu dan Sekitarnya, Tak Berpotensi Tsunami
• 11 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.