Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh kisaran Rp17.700 rupanya turut memengaruhi perilaku konsumen. Di ajang Jakarta Fair Kemayoran (PRJ), daya beli masyarakat terhadap barang-barang sekunder seperti elektronik dan otomotif terpantau tetap tinggi, tapi dengan pola belanja yang jauh lebih selektif.
Jurnalis Metro TV, Elma Rosana melaporkan, antusiasme warga untuk mengunjungi pameran terbesar di Jakarta ini tidak surut. Ribuan pengunjung tetap memadati area pameran sejak gerbang dibuka pada pukul 10.00 WIB. Alih-alih mengerem total pengeluaran, masyarakat justru mengubah strategi belanjanya dengan memanfaatkan momentum Jakarta Fair untuk berburu promo dan diskon besar-besaran.
Para pengunjung kini cenderung menghindari pembelian impulsif. Mereka rela meluangkan lebih banyak waktu untuk membandingkan harga barang di area pameran dengan toko online maupun toko ritel lainnya.
Baca Juga :
Jakarta Fair Buka Hingga 13 Juli, Ini Cara Mudah Beli Tiket dan Jadwal Konsernya"Kita sebenarnya sudah dari jauh-jauh hari mau beli dan sudah di-list. Tapi pas riset online sama datang ke PRJ, ternyata lebih murah di PRJ. Bedanya (diskonnya) sampai 10 hingga 20 persen. Di kondisi ekonomi sekarang kita harus cari yang termurah karena memang butuh," ungkap mereka.
Senada dengan hal tersebut, Lina, pengunjung lainnya, mengaku mampir ke pameran untuk mencari rice cooker baru karena harganya yang jauh lebih miring. "Kita ibu-ibu tahunya adalah promo diskon. Lumayan (bedanya) kalau kita bandingkan dengan toko elektronik lainnya," tuturnya.
Meski situasi ekonomi cukup menantang, para pengunjung jarang terlihat keluar dari area pameran dengan tangan kosong. Banyak dari mereka yang memborong berbagai kebutuhan, mulai dari pakaian, helm, hingga perabotan rumah tangga berskala besar.




