Gowa (ANTARA) - Tawa riang anak-anak terdengar di antara rindangnya pepohonan. Tangan-tangan kecil mereka sibuk menyentuh dedaunan hingga mencoba mengenali berbagai jenis tanaman yang tumbuh di sekeliling mereka.
Tidak ada suara permainan dari gawai ataupun tontonan digital. Yang ada hanyalah rasa ingin tahu, kegembiraan, dan kedekatan dengan alam.
Pemandangan itu terlihat di Kebun Denassa, sebuah kawasan konservasi yang berada di Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di tempat ini, alam bukan sekadar latar untuk berfoto atau lokasi menghabiskan waktu di hari libur sekolah, melainkan menjadi ruang belajar terbuka bagi anak-anak untuk mengenal kehidupan secara lebih dekat.
Di era modern saat ini, ketika anak-anak semakin akrab dengan teknologi digital, kesempatan untuk bermain di ruang terbuka menjadi semakin terbatas. Banyak anak yang lebih sering menghabiskan waktu di dalam rumah dengan telepon pintar, permainan elektronik, atau menonton berbagai tayangan di internet.
Padahal, berinteraksi langsung dengan alam memberikan banyak pengalaman yang tidak bisa didapatkan dari layar gawai. Anak-anak dapat belajar tentang proses kehidupan, mengenali berbagai makhluk hidup, memahami pentingnya menjaga lingkungan, sekaligus melatih rasa empati dan kepedulian terhadap alam.
Kebun Denassa hadir menawarkan pengalaman tersebut. Kawasan seluas empat hektare ini menjadi tempat di mana anak-anak dapat belajar dengan cara yang menyenangkan. Mereka diajak menyusuri kebun, melihat beragam tanaman, mengenal fungsi tumbuhan, hingga memahami bagaimana manusia dan alam memiliki hubungan yang saling bergantung.
Setiap sudut kebun menyimpan cerita dan pembelajaran. Pepohonan yang tumbuh subur memberikan keteduhan sekaligus mengajarkan arti penting menjaga kelestarian lingkungan. Tanaman yang dirawat dengan baik memperlihatkan bahwa alam membutuhkan perhatian dan tanggung jawab manusia.
Bagi anak-anak, pembelajaran seperti ini terasa jauh lebih menarik. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi dapat melihat, menyentuh, mencium aroma tanaman, bahkan merasakan sendiri pengalaman berada di tengah ekosistem alami.
Hal itu diakui siswa SD Aisyiah Muhammadiyah, Shiren dan Raska. Keduanya mengaku sangat senang bisa menyatu dengan alam, belajar keanekaragaman hayati dan juga berinteraksi dengan sejumlah hewan seperti bebek, kambing, domba dan kuda.
Sementara itu, inisiator dan pengelola wisata kebun, Darmawan Dennasa, mengatakan, metode belajar langsung atau learning by doing ini membuat pengetahuan lebih mudah tersimpan dalam ingatan mereka.
Kebun Denassa tidak hanya menjadi tempat bermain dan belajar bagi anak-anak. Kehadiran kawasan ini juga menjadi contoh bagaimana sebuah lahan seluas empat hektare ini dapat diubah menjadi ruang hijau yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bekas galian
Dahulu, area itu merupakan lahan bekas galian tanah untuk pembuatan batu bata yang tandus dan kurang produktif. Namun melalui upaya penghijauan dan konservasi yang dilakukan secara bertahap, lahan tersebut bertransformasi menjadi kawasan hijau yang dipenuhi berbagai jenis tanaman serta menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa alam memiliki kemampuan untuk pulih ketika manusia memberikan kesempatan dan perhatian yang tepat. Dari sebuah lahan yang pernah rusak, kini tumbuh sebuah ruang kehidupan yang memberi manfaat dari sisi lingkungan, pendidikan, hingga sosial.
Kebun Denassa juga mengajak masyarakat untuk melihat konsep wisata dari sudut pandang yang berbeda. Wisata bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Hal ini mendapatkan apresiasi dari Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa Ary Mahdin Asfari. Menurut dia, kawasan wisata ini adalah salah satu destinasi edukasi yang diminati pengunjung, baik di Kabupaten Gowa maupun daerah lainnya di Sulsel. Bahkan menjadi destinasi untuk objek penelitian kampus di Sulawesi dan nasional.
Selain itu, menjadi pilihan utama untuk wisata edukasi bagi sekolah-sekolah yang membuat program pembelajaran di luar kelas, termasuk keluarga yang ingin mendekatkan anak-anak mereka pada alam.
Tak heran jika banyak keluarga yang datang membawa anak-anak mereka untuk menikmati suasana kebun di Bontonompo, Kabupaten Gowa, ini. Salah seorang di antaranya Rahmadani asal Makassar yang membawa ketiga orang anaknya untuk menyaksikan secara langsung bagaimana anak-anak mengeksplorasi lingkungan.
Termasuk menyaksikan anak mereka bertanya tentang tanaman yang mereka lihat, hingga menunjukkan rasa kagum terhadap berbagai hal sederhana yang sebelumnya mungkin tidak pernah mereka perhatikan.
Momen-momen seperti itulah yang menjadi nilai berharga dari sebuah wisata berbasis edukasi. Anak-anak belajar bahwa tanah yang mereka pijak menyimpan kehidupan, bahwa sebatang pohon memberikan udara yang mereka hirup, dan bahwa setiap makhluk hidup memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam.
Lebih dari sekadar tempat wisata, Kebun Denassa yang merupakan bagian dari Desa Wisata Kebun ini sudah masuk Akademi Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 oleh Kementerian Pariwisata. Destinasi wisata ini masuk 100 besar destinasi wisata yang diperhitungkan di tingkat nasional.
Kebun itu masuk ADWI karena terbukti dikelola secara alami dan berkelanjutan hingga saat ini. Termasuk mengedepankan prinsip pengelolaan wisata yang menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam harus terus dipelihara.
Di sisi lain, menanamkan kecintaan terhadap lingkungan kepada anak-anak merupakan investasi penting untuk menciptakan generasi yang memiliki kesadaran terhadap keberlanjutan bumi.
Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, keberadaan ruang-ruang hijau seperti Kebun Denassa menjadi semakin penting. Tempat ini menghadirkan kesempatan bagi anak-anak untuk sejenak menjauh dari dunia digital dan kembali merasakan pengalaman yang paling mendasar sebagai manusia, yaitu hidup berdampingan.
Dari Bontonompo, sebuah kebun sederhana menghadirkan pelajaran besar bahwa menjaga alam tidak selalu dimulai dari langkah yang rumit. Kadang, semuanya berawal dari seorang anak yang menanam benih, menyentuh daun, mengenal pohon, dan tumbuh dengan rasa cinta terhadap lingkungan.
Kebun Denassa pun menjadi bukti bahwa alam dapat menjadi guru terbaik. Di bawah rindangnya pepohonan, melalui suara burung, aroma tanah, dan hijaunya dedaunan, anak-anak belajar memahami satu hal penting bahwa bumi yang mereka tempati hari ini adalah warisan yang harus mereka jaga untuk masa depan.
Suasana aktivitas siswa SD Aisyiah Muhammadiyah 3 Makassar yang saat berkunjung ke destinasi wisata Kebun Denassa, Darmawan Denassa di Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulsel. ANTARA/ Suriani Mappong
Tidak ada suara permainan dari gawai ataupun tontonan digital. Yang ada hanyalah rasa ingin tahu, kegembiraan, dan kedekatan dengan alam.
Pemandangan itu terlihat di Kebun Denassa, sebuah kawasan konservasi yang berada di Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di tempat ini, alam bukan sekadar latar untuk berfoto atau lokasi menghabiskan waktu di hari libur sekolah, melainkan menjadi ruang belajar terbuka bagi anak-anak untuk mengenal kehidupan secara lebih dekat.
Di era modern saat ini, ketika anak-anak semakin akrab dengan teknologi digital, kesempatan untuk bermain di ruang terbuka menjadi semakin terbatas. Banyak anak yang lebih sering menghabiskan waktu di dalam rumah dengan telepon pintar, permainan elektronik, atau menonton berbagai tayangan di internet.
Padahal, berinteraksi langsung dengan alam memberikan banyak pengalaman yang tidak bisa didapatkan dari layar gawai. Anak-anak dapat belajar tentang proses kehidupan, mengenali berbagai makhluk hidup, memahami pentingnya menjaga lingkungan, sekaligus melatih rasa empati dan kepedulian terhadap alam.
Kebun Denassa hadir menawarkan pengalaman tersebut. Kawasan seluas empat hektare ini menjadi tempat di mana anak-anak dapat belajar dengan cara yang menyenangkan. Mereka diajak menyusuri kebun, melihat beragam tanaman, mengenal fungsi tumbuhan, hingga memahami bagaimana manusia dan alam memiliki hubungan yang saling bergantung.
Setiap sudut kebun menyimpan cerita dan pembelajaran. Pepohonan yang tumbuh subur memberikan keteduhan sekaligus mengajarkan arti penting menjaga kelestarian lingkungan. Tanaman yang dirawat dengan baik memperlihatkan bahwa alam membutuhkan perhatian dan tanggung jawab manusia.
Bagi anak-anak, pembelajaran seperti ini terasa jauh lebih menarik. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi dapat melihat, menyentuh, mencium aroma tanaman, bahkan merasakan sendiri pengalaman berada di tengah ekosistem alami.
Hal itu diakui siswa SD Aisyiah Muhammadiyah, Shiren dan Raska. Keduanya mengaku sangat senang bisa menyatu dengan alam, belajar keanekaragaman hayati dan juga berinteraksi dengan sejumlah hewan seperti bebek, kambing, domba dan kuda.
Sementara itu, inisiator dan pengelola wisata kebun, Darmawan Dennasa, mengatakan, metode belajar langsung atau learning by doing ini membuat pengetahuan lebih mudah tersimpan dalam ingatan mereka.
Kebun Denassa tidak hanya menjadi tempat bermain dan belajar bagi anak-anak. Kehadiran kawasan ini juga menjadi contoh bagaimana sebuah lahan seluas empat hektare ini dapat diubah menjadi ruang hijau yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bekas galian
Dahulu, area itu merupakan lahan bekas galian tanah untuk pembuatan batu bata yang tandus dan kurang produktif. Namun melalui upaya penghijauan dan konservasi yang dilakukan secara bertahap, lahan tersebut bertransformasi menjadi kawasan hijau yang dipenuhi berbagai jenis tanaman serta menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa alam memiliki kemampuan untuk pulih ketika manusia memberikan kesempatan dan perhatian yang tepat. Dari sebuah lahan yang pernah rusak, kini tumbuh sebuah ruang kehidupan yang memberi manfaat dari sisi lingkungan, pendidikan, hingga sosial.
Kebun Denassa juga mengajak masyarakat untuk melihat konsep wisata dari sudut pandang yang berbeda. Wisata bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Hal ini mendapatkan apresiasi dari Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa Ary Mahdin Asfari. Menurut dia, kawasan wisata ini adalah salah satu destinasi edukasi yang diminati pengunjung, baik di Kabupaten Gowa maupun daerah lainnya di Sulsel. Bahkan menjadi destinasi untuk objek penelitian kampus di Sulawesi dan nasional.
Selain itu, menjadi pilihan utama untuk wisata edukasi bagi sekolah-sekolah yang membuat program pembelajaran di luar kelas, termasuk keluarga yang ingin mendekatkan anak-anak mereka pada alam.
Tak heran jika banyak keluarga yang datang membawa anak-anak mereka untuk menikmati suasana kebun di Bontonompo, Kabupaten Gowa, ini. Salah seorang di antaranya Rahmadani asal Makassar yang membawa ketiga orang anaknya untuk menyaksikan secara langsung bagaimana anak-anak mengeksplorasi lingkungan.
Termasuk menyaksikan anak mereka bertanya tentang tanaman yang mereka lihat, hingga menunjukkan rasa kagum terhadap berbagai hal sederhana yang sebelumnya mungkin tidak pernah mereka perhatikan.
Momen-momen seperti itulah yang menjadi nilai berharga dari sebuah wisata berbasis edukasi. Anak-anak belajar bahwa tanah yang mereka pijak menyimpan kehidupan, bahwa sebatang pohon memberikan udara yang mereka hirup, dan bahwa setiap makhluk hidup memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam.
Lebih dari sekadar tempat wisata, Kebun Denassa yang merupakan bagian dari Desa Wisata Kebun ini sudah masuk Akademi Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 oleh Kementerian Pariwisata. Destinasi wisata ini masuk 100 besar destinasi wisata yang diperhitungkan di tingkat nasional.
Kebun itu masuk ADWI karena terbukti dikelola secara alami dan berkelanjutan hingga saat ini. Termasuk mengedepankan prinsip pengelolaan wisata yang menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam harus terus dipelihara.
Di sisi lain, menanamkan kecintaan terhadap lingkungan kepada anak-anak merupakan investasi penting untuk menciptakan generasi yang memiliki kesadaran terhadap keberlanjutan bumi.
Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, keberadaan ruang-ruang hijau seperti Kebun Denassa menjadi semakin penting. Tempat ini menghadirkan kesempatan bagi anak-anak untuk sejenak menjauh dari dunia digital dan kembali merasakan pengalaman yang paling mendasar sebagai manusia, yaitu hidup berdampingan.
Dari Bontonompo, sebuah kebun sederhana menghadirkan pelajaran besar bahwa menjaga alam tidak selalu dimulai dari langkah yang rumit. Kadang, semuanya berawal dari seorang anak yang menanam benih, menyentuh daun, mengenal pohon, dan tumbuh dengan rasa cinta terhadap lingkungan.
Kebun Denassa pun menjadi bukti bahwa alam dapat menjadi guru terbaik. Di bawah rindangnya pepohonan, melalui suara burung, aroma tanah, dan hijaunya dedaunan, anak-anak belajar memahami satu hal penting bahwa bumi yang mereka tempati hari ini adalah warisan yang harus mereka jaga untuk masa depan.
Suasana aktivitas siswa SD Aisyiah Muhammadiyah 3 Makassar yang saat berkunjung ke destinasi wisata Kebun Denassa, Darmawan Denassa di Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulsel. ANTARA/ Suriani Mappong





