Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng menarik perhatian banyak warga masyarakat di Yogyakarta. Ribuan peserta berjalan mengelilingi kawasan Benteng Keraton Yogyakarta dalam suasana hening tanpa percakapan, sebagai bagian dari ritual yang dikenal sebagai Tapa Bisu Mubeng Beteng.
Tradisi ini juga menarik perhatian warga Sleman, Surya Herdiyanto dan Puput Fikyfendy, yang baru pertama kali mengikuti gelaran Mubeng Beteng.
Bahkan mereka dan teman-temannya tampil kompak dengan mengenakan pakaian Lurik.
"Ini kita baru pertama kali ikut Mubeng Beteng. Jadi sekalian ajak teman-teman ayo kita ikut pakai adat sekalian biar semakin mendalami maknanya," ungkap Surya saat ditemui di kawasan Alun-alun Utara, Rabu (17/6) dini hari.
Sementara itu, Puput mengatakan bahwa ia dan teman-temannya punya alasan mengapa akhirnya tertarik untuk ikut tradisi ini.
Mereka juga mengaku tidak punya persiapan khusus saat mengikuti Mubeng Beteng di malam 1 Suro itu.
"Sebagai warga Yogyakarta, setidaknya sekali seumur hidup ikuti tradisi Jawa ini. Kalau persiapan khusus enggak ada, karena ini tengah malam paling siangnya istirahat. Kami semua satu kampung," tutup Puput.
Tradisi Mubeng BetengMubeng Beteng merupakan tradisi berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta yang digelar setiap malam 1 Suro atau pergantian tahun baru dalam kalender Jawa. Tradisi ini dikenal juga sebagai Tapa Bisu Mubeng Beteng karena seluruh peserta diwajibkan menjaga keheningan sepanjang perjalanan.
Rute yang ditempuh mengelilingi kawasan Benteng Keraton Yogyakarta sejauh beberapa kilometer. Selain abdi dalem Keraton, kegiatan ini juga diikuti masyarakat umum dari berbagai daerah.
Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro memiliki makna spiritual yang mendalam. Karena itu, Mubeng Beteng bukan dipandang sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan sebagai momentum untuk introspeksi, membersihkan batin, memohon keselamatan, serta memulai tahun baru dengan niat dan perilaku yang lebih baik.





