Ketika gempa berkekuatan Magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026), banyak orang segera teringat pada luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Delapan tahun lalu, Palu, Donggala, dan Sigi mengalami salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah Indonesia modern.
Gempa berkekuatan M 7,5 pada 2018 yang diikuti tsunami dan likuefaksi menewaskan lebih dari 4.000 orang serta mengubah wajah kota dan kehidupan masyarakat di Teluk Palu ini untuk selamanya.
Kali ini skalanya lebih kecil, sumbernya juga berbeda. Tidak ada tsunami. Tidak terjadi likuefaksi masif. Namun gempa tetap menyebabkan puluhan korban luka, merusak rumah, jembatan, fasilitas umum, tempat ibadah, hotel, gedung pemerintahan, hingga memutus akses jalan provinsi Palu–Sigi–Poso.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya satu warga meninggal dunia di Kabupaten Sigi. "Selain adanya korban meninggal dunia, proses pendataan yang masih berlangsung juga menunjukkan peningkatan jumlah warga terdampak dan kerusakan bangunan di sejumlah wilayah," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.
Hingga Selasa malam, tercatat sekitar 110 kepala keluarga (KK) atau 312 jiwa terdampak akibat gempa. Sebanyak 25 warga mengalami luka ringan dan 13 warga mengalami luka berat.
Menurut Muhari, pendataan sementara mencatat sedikitnya 67 unit rumah terdampak. Dari jumlah tersebut, 26 unit rumah mengalami rusak ringan, enam unit rusak sedang, dan 12 unit rusak berat. Selain rumah warga, kerusakan juga terjadi pada enam fasilitas ibadah, dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, serta satu ruas jalan provinsi penghubung Palu–Sigi–Poso yang mengalami amblas.
Kerusakan paling banyak dilaporkan berada di Kabupaten Sigi dengan 47 unit rumah terdampak, 23 rumah rusak ringan, enam rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak berat. Di wilayah ini juga tercatat enam fasilitas ibadah terdampak, dua gedung perkantoran terdampak, satu jembatan terdampak, serta satu unit usaha kecil dan menengah mengalami kerusakan.
Serial Artikel
Kali Ini Palu!
Pertanyaannya, setelah delapan tahun berlalu sejak bencana 2018, mengapa gempa yang relatif kecil ini masih menimbulkan kerusakan cukup luas?
Ada kabar baik yang tidak boleh diabaikan. Respons pemerintah daerah dan masyarakat kali ini jauh lebih cepat dibandingkan tahun 2018. Hanya dalam hitungan menit, informasi gempa bumi tersebar luas karena sistem telekomunikasi nyaris tak terganggu.
Rumah sakit segera mengevakuasi pasien ke ruang terbuka. Tim BPBD dan BNPB langsung melakukan kaji cepat. Informasi BMKG mengenai tidak adanya potensi tsunami tersampaikan dengan cepat sehingga tidak terjadi kepanikan massal seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Artinya, kapasitas tanggap darurat mungkin meningkat, dan memori 2018 belum sepenuhnya hilang.
Palu, Sigi, Donggala, Parigi Moutong, dan wilayah sekitarnya hidup berdampingan dengan sesar-sesar aktif yang sewaktu-waktu dapat kembali melepaskan energi.
Namun kesiapsiagaan bukan hanya soal evakuasi dan peringatan dini. Ukuran sesungguhnya adalah apakah rumah, sekolah, rumah sakit, kantor pemerintahan, jalan, dan jembatan mampu bertahan ketika gempa datang.
Di titik inilah Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar. Gempa kali ini tergolong gempa dangkal. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan pusat gempa ini berada di kedalaman 16 km, tepatnya di darat 42 km Tenggara Palu.
Gempa dangkal cenderung menghasilkan guncangan permukaan yang jauh lebih kuat karena energi gempa tidak banyak teredam sebelum mencapai permukaan. Tidak mengherankan bila guncangan mencapai intensitas VI-VII MMI di Palu dan beberapa wilayah lain.
Pada tingkat intensitas ini, bangunan dengan konstruksi lemah dapat mengalami kerusakan sedang hingga berat. Jika rumah tidak dibangun dengan standar tahan gempa, magnitudo 6,7 sudah cukup untuk menimbulkan kerusakan yang signifikan.
Pelajaran terpenting lain dari gempa ini adalah bahwa Sulawesi Tengah bukan sekadar daerah yang "sering" mengalami gempa besar. Wilayah ini memang berada di salah satu zona tektonik paling aktif di Indonesia.
Gempa Palu 2018 dipicu oleh aktivitas Sesar Palu-Koro, salah satu sesar geser tercepat di dunia. Namun gempa 2026 menunjukkan bahwa ancaman di Sulawesi Tengah tidak berasal dari satu sesar saja.
BMKG menyebut gempa kali ini dipicu aktivitas Sesar Sausu dengan mekanisme sesar turun (normal fault). Sementara analisis Badan Geologi mengaitkannya dengan aktivitas Sesar Palolo yang juga memiliki mekanisme sesar normal dan berarah barat laut–tenggara.
Perbedaan interpretasi tersebut bukan hal yang aneh dalam ilmu kebumian. Yang penting adalah kesimpulan yang sama, yaitu Sulawesi Tengah berada di dalam jaringan sesar aktif yang saling terhubung dan terus bergerak.
Sesar Palolo merupakan bagian dari sistem deformasi tektonik Sulawesi Tengah yang berkaitan dengan dinamika Sesar Palu-Koro. Kawasan ini berada di wilayah pertemuan berbagai lempeng dan mikro-lempeng yang membuat akumulasi energi tektonik terus berlangsung.
Dengan kata lain, berakhirnya satu gempa tidak berarti ancaman telah berakhir. Gempa kali ini menjadi pengingat bahwa Palu, Sigi, Donggala, Parigi Moutong, dan wilayah sekitarnya hidup berdampingan dengan sesar-sesar aktif yang sewaktu-waktu dapat kembali melepaskan energi.
Dari skala kekuatan, perbedaan antara gempa M 6,7 dan M 7,5 hanya 0,8 unit, tetapi energi yang dilepaskan jauh berbeda. Setiap kenaikan 1 magnitudo gempa menghasilkan sekitar 32 kali lebih banyak energi. Jadi, perbedaan 0,8 magnitudo berarti gempa 2018 melepaskan sekitar 12–16 kali lebih banyak energi dibanding gempa 2026.
Namun besarnya energi bukan satu-satunya faktor penentu bencana. Gempa Palu 2018 menjadi sangat mematikan karena terjadi kombinasi beberapa faktor sekaligus, selain faktor alam seperti tsunami dan likuefaksi, juga ada faktor sosial yaitu banyak bangunan dan infrastruktur belum siap menghadapi gempa kuat dan kepadatan penduduk tinggi di kawasan terdampak.
Karena itu, meskipun gempa 2026 lebih kecil, ia tetap menjadi peringatan penting. Gempa M6,7 saja sudah mampu merusak jembatan, gedung pemerintahan, hotel, rumah, dan memicu longsor. Jika suatu saat terjadi lagi gempa berkekuatan sekitar M7,5 di kawasan sesar aktif Sulawesi Tengah, dampaknya bisa kembali sangat besar apabila mitigasi dan kualitas bangunan tidak terus diperbaiki.
Padahal, risiko keberulangan gempa di Sulawesi Tengah demikian tinggi karena banyaknya jalur sesar aktif. Kita patut khawatir tentang kondisi bangunan di sana yang kembali banyak mengalami kerusakan, bahkan oleh gempa relatif kecil seperti kali ini.
Setidaknya tiga faktor utama yang menyebabkan hal ini. Pertama, tidak semua bangunan telah dibangun atau diperkuat sesuai standar tahan gempa. Pasca-2018 memang banyak hunian baru dibangun dengan standar yang lebih baik.
Namun ribuan bangunan lama masih berdiri. Banyak rumah, ruko, tempat ibadah, maupun bangunan publik dibangun sebelum standar konstruksi tahan gempa diterapkan secara luas. Ketika guncangan kuat terjadi, bangunan-bangunan inilah yang paling rentan mengalami kerusakan.
Kedua, kondisi geologi lokal memperbesar dampak guncangan. Menurut Badan Geologi, wilayah sekitar episentrum tersusun oleh kombinasi batuan metamorf, batuan terobosan, batuan sedimen kuarter, serta material hasil pelapukan yang relatif lunak. Material seperti ini dapat memperkuat guncangan yang dirasakan di permukaan.
Data kondisi tapak menunjukkan wilayah terdampak memiliki campuran Kelas Tanah C, D, dan E. Kelas Tanah E merupakan tanah lunak yang diketahui mampu memperbesar amplitudo getaran gempa. Karena itu dua lokasi yang memiliki jarak sama dari pusat gempa dapat mengalami tingkat kerusakan yang berbeda hanya karena karakteristik tanahnya berbeda.
Pelajaran ini sesungguhnya sudah terlihat pada tragedi 2018. Saat itu, bukan hanya guncangan yang mematikan, tetapi juga kondisi geologi yang memicu likuefaksi besar-besaran.
Ketiga, budaya mitigasi belum sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mitigasi sering dipahami sebagai urusan pemerintah atau lembaga kebencanaan. Padahal kesiapsiagaan harus menjadi budaya masyarakat. Mulai dari memahami risiko tempat tinggal, mengenali jalur evakuasi, memeriksa struktur bangunan, hingga mengetahui apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi.
Gempa tidak membunuh manusia. Yang membunuh adalah bangunan yang runtuh, longsor yang menimbun rumah, atau keputusan untuk tetap berada di lokasi berbahaya. Gempa 2026 memang tidak memicu tsunami. Namun ancaman tidak berhenti ketika bumi berhenti berguncang. Hingga saat ini, telah terjadi sekitar 90 gempa susulan, dan kita tidak tahu apakah ini bisa memicu gempa berikutnya yang lebih besar.
Apalagi, Badan Geologi juga mengingatkan adanya potensi bahaya ikutan berupa retakan tanah, penurunan muka tanah, dan gerakan tanah. Longsor yang terjadi di Kabupaten Sigi menunjukkan bahwa wilayah dengan lereng curam dan kondisi tanah yang labil masih memiliki risiko tinggi setelah gempa utama berlalu. Karena itu masyarakat tidak hanya perlu waspada terhadap gempa susulan, tetapi juga terhadap berbagai dampak lanjutan yang dapat muncul beberapa hari setelah kejadian.
Gempa M6,7 ini seharusnya dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar peristiwa tunggal yang telah berlalu. Sulawesi Tengah baru saja diingatkan bahwa energi tektonik di bawah tanahnya masih terus bekerja. Sesar Palolo, Sausu, Palu-Koro, dan berbagai struktur geologi lain di kawasan ini akan terus bergerak, terlepas dari apakah manusia siap atau tidak.





