JAKARTA, KOMPAS.com - Bau amis tercium menyengat setiap harinya di bawah Tol Akses Tanjung Priok, Jalan Pengasinan, Cilincing, Jakarta Utara.
Bau amis itu berasal dari ratusan limbah kulit ikan cucut yang sedang dijemur di atas meja bambu panjang.
Kulit ikan cucut itu milik salah satu warga bernama Ropika (58), yang dibelinya dari para nelayan di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.
Dalam satu hari, Ropika bisa menampung sekitar satu ton kulit ikan cucut yang dibelinya dengan harga Rp 2.500 per kilo.
Kulit ikan cucut itu dikumpulkan bukan tanpa sebab, melainkan dijadikan sebagai bahan baku pembuatan kerupuk.
"Ya, tadinya coba-coba tuh sedikit buat kerupuk, terus kan enak. Terus kan dijual tuh di warung-warung. Sekarang juga masih di warung-warung," ucap Ropika ketika ditemui Kompas.com di Jalan Pengasinan, Senin (15/6/2026).
Baca juga: Ubah Sampah Jadi Harapan, Kala Kepala Ikan Tongkol Jadi Peluang Kerja
Proses pengolahan
Namun, Ropika biasanya hanya mengolah sekitar lima hingga 10 kilo limbah ikan cucut menjadi kerupuk setiap dua hari sekali.
Untuk mengolahnya menjadi kerupuk, prosesnya tidak sulit. Kulit ikan cucut yang sudah dibeli dari nelayan direbus terlebih dahulu.
Setelah itu, area kulit yang berwarna hitam dikerok terlebih dahulu agar bersih, baru dijemur sampai benar-benar kering.
Apabila cuaca sedang cerah, proses penjemuran cukup dua hari saja. Namun, apabila musim hujan, kulit ikan itu baru bisa kering dalam waktu satu minggu.
Jika kulit ikan cucut sudah setengah kering, maka daging yang masih menempel dicabuti terlebih dahulu agar benar-benar bersih.
Lalu, apabila sudah benar-benar kering, kulit ikan itu akan digunting dalam bentuk memanjang dan dibumbui.
Bumbu yang digunakan hanya ketumbar dan penyedap rasa agar rasanya gurih. Setelah itu, baru digoreng sampai kering, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam plastik.
Satu kilo kulit ikan cucut bisa menjadi 250 plastik kerupuk yang dijual dengan harga Rp 2.000.
Kerupuk tersebut pun dijual Ropika ke warung-warung di wilayah Cilincing.