CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla, menegaskan bahwa perempuan memegang peran yang sangat strategis dan krusial dalam menentukan arah kemajuan peradaban umat Islam.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang digelar di Masjid Agung Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/6/2026).
Dalam momentum perubahan tersebut, pria yang akrab disapa JK ini menyoroti bagaimana sejarah Islam mencatat kontribusi besar kaum perempuan yang menjadi pilar penyokong utama dakwah.
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 tersebut mengambil teladan nyata dari figur Siti Khadijah, istri Rasulullah SAW, yang pengorbanannya menjadi fondasi awal kejayaan Islam.
Menurut JK, keberhasilan syiar Islam pada masa awal tidak lepas dari peran besar seorang perempuan tangguh di balik perjuangan nabi.
"Kalau tidak ada Siti Khadijah yang mendukung dan membiayai perjuangan Rasulullah, tentu dakwah Islam tidak akan mudah berkembang. Karena itu peran ibu-ibu sangat penting dalam kemajuan umat," kata JK di hadapan ratusan jemaah.
Lebih lanjut, JK menyampaikan bahwa peringatan Tahun Baru Hijriah merupakan momentum besar untuk melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap berbagai aspek kehidupan, baik sebagai individu, umat, maupun bangsa.
Berpijak pada semangat hijrah yang bermakna perubahan, ia mengajak umat untuk terus bergerak menuju kondisi yang lebih baik melalui penguatan peran perempuan, keluarga, dan institusi masjid.
"Kalau Tahun Baru Hijriah itu adalah momentum introspeksi. Kita mengevaluasi apa yang telah dilakukan selama setahun terakhir dan apa yang harus diperbaiki ke depan," ujar JK.
Ia menambahkan, "Hijrah berarti perubahan. Karena itu Tahun Baru Hijriah mengajarkan kita untuk terus melakukan perbaikan dan kemajuan."
Dalam narasi perbaikan umat tersebut, JK mengaitkan pentingnya peran perempuan dengan penguatan ekonomi jemaah melalui fungsi masjid yang lebih luas.
Baginya, masjid tidak boleh lagi hanya sekadar menjadi tempat ibadah, melainkan wajib bertransformasi menjadi pusat peradaban yang mampu memakmurkan jemaah dan masyarakat di sekitarnya melalui sektor pendidikan serta kemandirian ekonomi.
"Selama ini kita hanya berbicara memakmurkan masjid. Padahal masjid juga harus memakmurkan jemaahnya. Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pengembangan ekonomi, dan kemajuan masyarakat," tuturnya.
JK menilai bahwa kemajuan peradaban umat sangat bergantung pada penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kemampuan ekonomi masyarakat.
Guna mencapai kemandirian tersebut, ia mengingatkan kembali bahwa Rasulullah SAW sendiri merupakan seorang pedagang yang sukses sebelum diangkat menjadi nabi, sebuah semangat berwirausaha yang harus dihidupkan kembali dalam keluarga Muslim.
"Peradaban dibangun oleh ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemampuan berusaha. Tanpa itu sulit bagi umat untuk maju dan beradab," katanya.
JK juga menegaskan, "Rasulullah lebih lama menjadi pedagang daripada masa kenabiannya. Karena itu semangat berusaha dan bekerja keras juga merupakan bagian dari sunnah yang harus dicontoh."
Di akhir sambutannya, JK mengajak seluruh umat Islam menjadikan momentum 1 Muharam sebagai waktu untuk mengevaluasi diri, meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat pendidikan, serta membangun kemandirian ekonomi umat yang disokong oleh peran aktif kaum perempuan.
"Makna Tahun Baru Hijriah bukan sekadar perayaan, tetapi momentum evaluasi dan perbaikan diri agar umat Islam semakin maju, berilmu, dan sejahtera," tutupnya.
Peringatan Tahun Baru Hijriah 1448 H tersebut berlangsung khidmat dengan dihadiri oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan beserta unsur Pemerintah Kota Bandung, Pengurus Dewan Masjid Indonesia, jajaran ulama, tokoh masyarakat, serta ratusan jemaah dari berbagai wilayah di Kota Bandung.




