Menangkap Kabut, Memanen Air

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Di beberapa negara, kabut punya sebutan unik. Tak hanya itu, kabut juga ditangkap demi mendapatkan air. Praktik inovatif itu merawat sejarah dan kearifan lokal, bahkan menciptakan nilai ekonomi dan ekologis.

Di Chile, kabut dikenal sebagai camanchaca. Sebutan itu merujuk pada kabut tebal yang terbentuk akibat interaksi antara udara gurun yang panas dan arus Humbold yang sangat dingin di Samudra Pasifik. Fenomena ini biasanya terjadi pada Mei hingga Oktober.

Di Peru, kabut tersebut disebut garúa. Fenomena kabut tebal bercampur gerimis itu juga kerap melanda ibu kotanya, Lima. Tak mengherankan jika fenomena itu membuat Lima dijuluki sebagai ”Lima la Gris” atau ”Lima yang Kelabu”.

Di Maroko, fenomena kabut laut tebal yang menyelimuti sebagian wilayah pesisir pada Juni hingga Agustus dikenal sebagai chergui atau charki. Di wilayah Pegunungan Atlas, suku Tamazight atau suku asli Berber/Maroko menyebutnya sebagai asgoun.

Adapun di Indonesia, sebutan kabut alam sangat beragam. Di Jawa Tengah, kabut disebut dengan pedhut. Di Jawa Barat, kabut dikenal sebagai halimun

Bagi Chile, Peru, Maroko, dan beberapa negara lain, kabut sangat penting bagi ekosistem lokal di wilayah gersang. Negara-negara tersebut menerapkan teknologi penangkap kabut untuk memanen air. Sementara di Indonesia, praktik itu masih sangat terbatas dan baru berupa proyek-proyek percontohan.

Camanchaca memberikan berkah tersembunyi bagi masyarakat Chile.

Pada Senin (15/6/2026), Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengisahkan cara masyarakat Chile menangkap kabut dalam ”Capturing Fog to Make Water”. Masyarakat tersebut tinggal di sekitar Cagar Biosfer Fray Jorge di lereng pegunungan pesisir Chile utara.

Selama ini, mereka harus beradaptasi dengan kekeringan dan periode kelangkaan air yang berkepanjangan lantaran hujan sangat jarang terjadi. Namun, di balik itu, camanchaca memberikan berkah tersembunyi bagi mereka.

Pada 2000, dibangunlah penangkap camanchaca di daerah itu dengan dukungan Yayasan Un Alto en el Desierto dan sejumlah lembaga lain. Penangkap kabut itu merupakan hasil penelitian yang dikembangkan oleh ilmuwan dan arsitek Chile, Carlos Espinosa Arancibia, sejak 1950-an.

Struktur penangkap kabut itu berupa jaring yang umumnya terbuat dari nilon, polietilena, atau polipropilena. Jaring itu dikenal dengan nama komersial atau sebutan lokal sebagai jaring Raschel. Selama bertahun-tahun, masyarakat setempat telah menyempurnakan model penangkap kabut agar semakin efisien.

Cara kerjanya juga sederhana. Ketika kabut melewati jaring, tetesan mikro mengembun dan mengalir ke saluran pembuangan. Dari sana, air dialirkan ke kolam penampungan. Kemudian, melalui sistem selang, air didistribusikan ke area irigasi. Pada hari-hari kering, aliran konstan ini memungkinkan tanaman tetap hidup dan mendukung siklus produksi kecil.

Baca JugaKrisis Air Dunia

FAO menyebutkan, saat ini, sistem ini telah mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Cagar Alam Cerro Grande memiliki 34 penangkap kabut dengan total luas tangkapan 306 meter persegi. Masyarakat dapat mengumpulkan hingga 650.000 liter air per tahun—sebagian besar ditangkap selama musim semi saat kehadiran kabut dan angin paling besar.

Baru-baru ini, FAO, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Perusahaan Kehutanan Nasional Chile menambah alat penangkap kabut seluas total 90 meter persegi. Proyek itu didanai Global Environment Facility (GEF). Penambahan alat itu ditargetkan bisa mendulang tambahan air minimal sekitar 200.000 liter per tahun.

Di Peru, penangkap kabut juga dikembangkan di pesisir dan gurun dekat dengan kaki Pegunungan Andes dan Samudra Pasifik sejak tahun 2000-an. BBC mengisahkannya dalam ”The Ethereal Art of Fog-Catching” pada 24 Februari 2020.

Alat penangkap garúa yang dibangun Creating Water Foundation dan Peruanos Sin Agua itu mampu menghasilkan 200-400 liter air tawar setiap hari. Bahkan, pengelolaan sistem penangkap garúa ini mampu melahirkan komunitas Movimiento Peruanos Sin Agua (Gerakan Warga Peru Tanpa Air) di Tacna, Peru.

”Anggota kami ada yang memelihara 1.000 ekor ayam yang sumber airnya berasal dari menangkap kabut. Bahkan, ada juga anggota kami yang menanam pohon ara, anggur, dan zaitun di tempat-tempat yang tidak pernah Anda bayangkan akan ada tanaman pertanian,” kata Abel Cruz (BBC, 24 Februari 2020).

Abel Cruz adalah pria kelahiran Cusco, Peru, yang mendirikan komunitas Movimiento Peruanos Sin Agua. Ia juga pernah terlibat dalam pemasangan 2.000 penangkap kabut di Peru, Bolivia, Kolombia, dan Meksiko.

Jejak-jejak sejarah

Berbagai inisiatif pengembangan penangkap kabut itu tidak hanya di Chile dan Peru. Maroko terkenal dengan proyek pemanenan air kabut Dar Si Hmad. Proyek yang berada di barat daya Maroko itu merupakan salah satu yang terbesar di dunia dan mampu menyabet penghargaan dari Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada 2016.

Guatemala, tepatnya di Tojquia, juga memiliki 42 penangkap kabut (LFC) berskala besar yang mampu memasok sekitar lima liter air per hari bagi 200 penduduk selama musim kemarau. Demikian pula proyek skala kecil di Pegunungan Andes di Kolombia, mampu menyediakan air tawar untuk sekolah setempat.

Adapun di Nepal, proyek-proyek penangkap kabut ditangani oleh FoqQuest. Salah satunya digunakan untuk memasok sekitar 6,3 liter air per hari bagi Kuil Pathibhara di puncak bukit Distrik Taplejung (ketinggian 3.794 meter) di Nepal bagian timur.

Perkembangan teknologi menangkap kabut itu tidak terlepas dari sejarah peradaban manusia. Teknologi itu sangat kental dengan cara-cara masyarakat tempo dulu menangkap kabut dan embun untuk memenuhi kebutuhan air.

Jejak-jejak sejarah itu tertuang dalam artikel ”Pemanfaatan Air Atmosfer sebagai Sumber Daya Berkelanjutan dan Tangguh di Iklim Kering Berkaca dari Teknik Kuno” karya Nathalie Verbrugghe dan Ahmed Z Khan dari Université Libre de Bruxelles, Brussels, Belgia. Artikel itu dimuat dalam jurnal ilmiah Water Supply Vol 24 No 11 Tahun 2024 yang diterbitkan IWA Publishing.

Baca JugaPerangkat Pemanen Air di Udara, Solusi Pemenuhan Kebutuhan Air di Daerah Superkering  

Disebutkan, salah satu teknik kuno menangkap kabut itu pernah diterapkan oleh suku Indian Aztec di Meksiko. Penangkap kabut itu terbuat dari jaring tule dan rambut manusia. Bukti sejarah itu tertuang dalam Codex Azcatitian yang mendokumentasikan migrasi suku Aztec ke Tenochtitlan (sekarang Mexico City) pada 1530 setelah pendudukan Spanyol.

Jaring sejenis juga digambarkan pada Peta Uppsala atau peta topografi Mexico City dan sekitarnya pada 1550. Jaring-jaring penangkap kabut itu ditempatkan di area perbatasan area perbatasan dan kawasan perbukitan.

Di samping itu, diungkap pula teknik kuno alami menangkap kabut dan embun menggunakan pohon dan daun. Teknik itu banyak dilakukan di kawasan sepanjang garis pantai Samudra Pasifik dari Chile hingga California dan di Gurun Namib.

Pada abad ke-16, Fray Bartolomé de las Casas, sejarawan Spanyol, menyebutnya sebagai ”árbol de la lluvia” atau pohon hujan.

Jejak menangkap kabut dan embun pada abad ke-14 dan ke-17 juga terungkap di Pulau El Hierro di Kepulauan Canary atau Kanaria, wilayah otonomi Spanyol. Kala itu, masyarakat setempat menempatkan wadah di bawah pohon spesies asli, yakni agave, zaitun, laurel, dan juniper.

Pohon yang mampu memanen air tawar yang cukup berlimpah bagi penduduk asli disebut sebagai el Garoé. Antara 1402 dan 1405, penjelajah asal Normandia, Perancis, Jean de Béthencourt, mendokumentasikan keberadaan el Garoé itu. Ia menyebutnya sebagai pohon air mancur, pohon menangis, dan pohon hujan ajaib.

Pada abad ke-16, Fray Bartolomé de las Casas, sejarawan Spanyol, menyebutnya sebagai árbol de la lluvia atau pohon hujan. De las Casas menjelaskan, daun-daun pohon tersebut menyimpan banyak tetesan air dari angin yang membawa kabut sehingga menciptakan efek hujan di bawahnya.

Air tawar dari pohon itu membuat Bimbaches (penduduk asli El Hierro) dan hewan-hewan ternak mereka bertahan hidup selama periode kekeringan ekstrem.

Nilai ekonomi

Kini, teknologi penangkap kabut terus berkembang. Berbagai inovasi diterapkan, seperti material jaring berkinerja tinggi, sistem pengumpulan modular, serta alat pemantauan otomatis berbasis internet untuk segala (IoT) dan akal imitasi (AI).

Strategic Market Research, perusahaan riset global yang berbasis di Amerika Serikat, memperkirakan, tingkat pertumbuhan pasar pemanfaatan kabut global pada 2024-2030 sebesar 8,1 persen. Nilai pasar tersebut berpotensi meningkat dari 1,6 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 2,6 miliar dolar AS pada 2030.

Teknologi penangkapan kabut itu menjadi salah satu metode pengumpulan air secara berkelanjutan di tengah krisis air dunia. FAO mencatat, saat ini, sebanyak 2,1 miliar orang di dunia masih hidup tanpa akses air bersih dan sekitar 1,2 miliar orang tinggal di daerah pertanian mengalami kekurangan air.

Teknologi tersebut dapat digunakan untuk menambah atau mengatasi kelangkaan sumber air tawar bagi masyarakat, baik untuk air minum maupun untuk sektor pertanian dan peternakan. Potensi pasarnya menunjukkan variasi regional yang signifikan lantaran dipengaruhi pola iklim, kondisi geografis, tingkat kelangkaan air, kesiapan infrastruktur, hingga kerangka kebijakan.

Adopsi tertinggi terjadi di daerah dengan kejadian kabut yang terus-menerus dan sumber air konvensional yang terbatas. Berapa kawasan yang berpotensi menjadi ceruk pasar adalah Amerika Utara, Eropa, Asia Pasifik, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika.

Baca JugaKrisis Air, Deforestasi, dan Perang Merongrong Pangan

Di Indonesia, teknologi penangkap kabut masih dikembangkan sebatas proyek percontohan di sejumlah daerah. Beberapa jurnal penelitan terkait pengembangan teknologi tersebut juga masih terbatas.

Dalam platform Pembangunan Rendah Karbon Indonesia (LCDI), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pernah mengungkap hasil penelitian tentang teknologi penangkap kabut. Hal itu tertuang dalam artikel berjudul ”Pemanenan Kabut: Solusi Inovatif untuk Kekeringan” yang dirilis pada 23 Oktober 2023.

Dalam artikel itu disebutkan, teknologi penangkap kabut dapat digunakan secara efektif baik di wilayah pesisir maupun pegunungan dengan tingkat kecepatan angin yang tinggi. Bappenas menyebutkan, Kabupaten Karo dan Kabupaten Langkat di Sumatera Utara merupakan dua dari beberapa lokasi yang menjadi prioritas utama dalam penerapan teknologi tersebut.

Bahkan, teknologi penangkap kabut pernah diterapkan di Dusun Ngoho, Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada 2013 dan 2014. Desa Kemitir yang kerap mengalami kekeringan itu berada di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Daerah tersebut memiliki potensi tinggi untuk mendapatkan kabut yang cukup melimpah.

Baca JugaMemanen Air Hujan untuk Kehidupan

Dalam penelitian masyarakat bersama tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, jaring plastik (paranet) digunakan sebagai medium utama penangkap kabut. Dalam penelitian pertama pada 2013, jaring penangkap kabut yang dipasang berukuran 1 x 1 meter persegi.

Alat itu mampu menghasilkan air sebanyak 2,74 liter per hari dengan intesitas kabut selama delapan jam. Bahkan, alat itu mampu mendulang air sekitar 10 liter kala kabut menyelimuti desa tersebut selama 24 jam.

Namun, jumlah air yang berhasil dikumpulkan itu masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kala kemarau. Untuk itu, dalam penelitan kedua pada 2014, bentang alat pemanen kabut diperluas menjadi delapan meter persegi dan dipasang seperti huruf L.

Hasilnya, alat tersebut mampu memanen air sekitar 14 liter per hari. Agar dapat memenuhi kebutuhan air untuk tanaman sayuran, alat penangkap kabut yang baru itu dikombinasikan dengan teknologi fertigasi tetes atau salah satu teknik irigasi tetes.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DPP BKPRMI: Tradisi Dialog Pejabat dan Mahasiswa di Kampus Adalah Kemajuan Demokrasi
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
1 Muharram, Jenderal Asal Soppeng Brigjen Faizal Jabat Wakapolda NTT
• 5 jam lalutribuntimur.com
thumb
Pemkot Makassar Kukuhkan 47 Kepala Puskesmas Definitif, Perkuat Layanan Kesehatan Masyarakat
• 39 menit laluterkini.id
thumb
SpaceX Masuk ke Industri AI, Akuisisi Anysphere Senilai Rp1.063,9 T
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Rute Alternatif Jakarta Pusat saat Demo Hari Ini, Hindari Kawasan Thamrin hingga Bundaran HI
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.