jakarta.jpnn.com - Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH) Sukri Soleh Sitorus menyayangkan pembubaran diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (15/6).
“Kami sangat menyayangkan tindakan pembubaran tersebut,” kata Sukri, Rabu (17/6).
BACA JUGA: PP HIMMAH Dukung Langkah Bahlil Perkuat Pengawasan Pengadaan Energi Primer PLN
Menurut Sukri, pembubaran itu bertentangan dengan semangat demokrasi serta hak atas kebebasan berekspresi yang dilindungi konstitusi negara.
“Kampus sejatinya adalah ruang bebas akademik dan tempat suburnya pertukaran gagasan, pendapat, serta aspirasi,” ujar Sukri.
BACA JUGA: Ketum PP HIMMAH: Reformasi Jilid II Atau Reformasi Pikiran Kita!
Sukri menjelaskan menutup ruang dialog secara paksa sama saja dengan membendung laju pemikiran.
Dia menambahkan kehadiran tokoh publik dan pejabat negara dalam forum semacam itu justru menjadi jembatan penting agar suara mahasiswa bisa didengar langsung para pengambil kebijakan.
BACA JUGA: Dadan Hindayana cs Ditahan, GPA dan HIMMAH Dukung Penegakan Hukum Korupsi MBG
“Dialog adalah jalan terbaik untuk mencari titik temu dan solusi bersama, bukan dengan cara membubarkannya,” ujar Sukri.
Sukri menjelaskan pendekatan musyawarah adalah cara yang paling tepat jika ada hal yang perlu diluruskan atau diatur.
“Bukan tindakan represif yang seolah ingin membungkam kebebasan berpikir,” lanjutnya.
Menurut Sukri, pembubaran paksa merusak citra baik lingkungan kampus.
“Kami berharap agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang,” kata Sukri.
Sukri berharap ruang diskusi berjalan sehat selama masih dalam koridor aturan dan norma yang berlaku.
“Masa depan bangsa tidak akan maju jika ruang diskusi dibungkam,” kata Sukri. (jos/jpnn)
Redaktur & Reporter : Ragil




