Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia berpotensi mengalami tekanan pada paruh kedua 2026 seiring kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi global yang sempat mendorong lonjakan harga minyak dalam beberapa bulan terakhir.
Senior Director, Head of Middle East & Africa Sovereigns Fitch Ratings, Paul Gamble, mengatakan pembukaan Selat Hormuz yang lebih cepat dari perkiraan akan memangkas risiko kredit paling ekstrem yang muncul akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
"Kami masih melihat risiko tinggi bahwa selat tersebut tidak akan segera dibuka atau bahwa situasinya tetap tidak stabil. Namun, bahkan pembukaan sementara Hormuz akan secara signifikan mengurangi risiko kredit yang lebih ekstrem yang ditimbulkan oleh konflik tersebut," ujar Gamble dalam analisisnya.
Menurut Fitch Ratings, kesepakatan yang dilaporkan akan ditandatangani pada 19 Juni itu masih menghadapi sejumlah tantangan politik. Terdapat kemungkinan perjanjian tidak ditandatangani atau gagal diimplementasikan karena meningkatnya oposisi politik di AS maupun Iran. Selain itu, posisi Israel dalam kesepakatan tersebut juga dinilai dapat menjadi faktor penghambat.
Meski demikian, apabila Selat Hormuz dibuka kembali secara penuh, Fitch memperkirakan pasar minyak global akan kembali mengalami kelebihan pasokan dalam waktu sekitar satu bulan. Produksi minyak dari kawasan Timur Tengah diperkirakan pulih ke tingkat normal dalam beberapa pekan, sementara lalu lintas maritim melalui jalur strategis tersebut kembali lancar.
Fitch menilai tidak terdapat kerusakan material pada infrastruktur minyak regional akibat konflik yang berlangsung. Karena itu, pemulihan produksi Timur Tengah yang cepat, ditambah pertumbuhan pasokan dari negara-negara non-OPEC serta potensi peningkatan produksi OPEC hingga mendekati kapasitas maksimum, diperkirakan akan memberikan tekanan penurunan terhadap harga minyak.
Lembaga pemeringkat tersebut mempertahankan pandangannya bahwa harga minyak mentah Brent akan bergerak turun pada paruh kedua tahun ini. Fitch memperkirakan harga Brent rata-rata mencapai US$70 per barel pada kuartal IV-2026, dengan rata-rata tahunan sebesar US$87 per barel sepanjang 2026.
"Dengan pembukaan kembali Hormuz yang lebih awal, risiko terhadap proyeksi US$87 per barel untuk 2026 cenderung mengarah pada penurunan," kata Gamble.
Fitch juga menyoroti bahwa stok minyak global memang telah menyusut tajam dalam beberapa bulan terakhir. Namun, pasar minyak memasuki periode konflik dengan tingkat persediaan yang relatif tinggi sehingga pengisian kembali stok dinilai masih dapat dilakukan secara bertahap ketika jalur perdagangan kembali normal.
Menurut Gamble, bahkan pembukaan sementara Selat Hormuz akan memungkinkan pengiriman kembali minyak, gas, dan produk energi lain yang penting bagi rantai pasok global. Langkah itu akan menunda potensi penurunan persediaan ke level kritis yang dapat menimbulkan tekanan besar terhadap perekonomian dunia.
Kendati demikian, Fitch mengingatkan bahwa prospek jangka menengah kawasan Teluk masih dibayangi ketidakpastian. Program nuklir Iran tetap menjadi sumber ketegangan dengan AS dan Israel, sementara kemungkinan tindakan militer lanjutan terhadap Iran masih terbuka. Kondisi tersebut berpotensi kembali memicu volatilitas harga energi dan risiko keamanan di kawasan pada masa mendatang.





