Sebuah pesawat pengebom B-52 milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) yang jatuh di California, tercatat menukik ke tanah dengan kecepatan lebih dari 1.500 meter atau satu kilometer per menit. Penyelidikan penyebab jatuhnya pesawat pengebom berkemampuan nuklir itu bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Sedikitnya delapan orang tewas dalam insiden yang terjadi di dalam pangkalan Angkatan Udara AS di California pada Senin (15/6) waktu setempat ini.
Menurut data pelacakan awal, seperti dilansir abc.net.au dan PBS News, Rabu (17/6/2026), pesawat B-52 Stratofortress buatan Boeing itu berbelok tajam ke kanan dan kemudian hampir menyelesaikan putaran 180 derajat, sebelum menukik ke tanah dengan kecepatan lebih dari satu kilometer per menit.
Insiden ini terjadi saat pesawat pengebom B-52 itu sedang menjalani misi rutin di Pangkalan Angkatan Udara Edwards, sebagai bagian dari program keseluruhan untuk menjaga agar pesawat militer yang sudah lama beroperasi ini tetap terbang selama beberapa dekade mendatang.
Belum diketahui secara jelas apa yang menyebabkan pesawat pengebom itu jatuh tak lama setelah lepas landas. Penyelidikan akan dilakukan oleh otoritas terkait.
Namun, menurut AirNav Systems, data pelacakan penerbangan yang tersedia pada Selasa (16/6) menunjukkan pesawat pengebom B-52 itu berbelok ke arah timur laut, setelah lepas landas dari pangkalan udara tersebut dan hampir menyelesaikan belokan tajam, sebelum jatuh di atas landasan pacu lainnya.
Data tersebut, yang berasal dari sistem yang disebut multilaterasi, tidak menunjukkan informasi ketinggian dan kecepatan pesawat secara tepat.
Namun, data itu menunjukkan bahwa pesawat B-52 tersebut jatuh ke Bumi dengan kecepatan penurunan mencapai 5.056 kaki atau 1.541 meter per menit. Angka tersebut tercatat hampir 10 kali lebih cepat daripada kecepatan penurunan pesawat normal saat bersiap untuk melakukan pendaratan.
(nvc/ita)





