Bisnis.com, JAKARTA – Harga buyback emas Antam telah mengalami kenaikan 6,52% hingga hari ini Rabu (17/6/2026).
Berdasarkan data Logam Mulia, harga buyback emas Antam naik Rp14.000 ke Rp2.514.000 pada Rabu (17/6/2026). Kenaikan itu memangkas jarak dengan posisi rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Rp2.989.000 akhir Januari 2026.
Sejalan dengan kenaikan itu, harga buyback emas Antam tercatat telah mengalami kenaikan atau 6,52% untuk periode berjalan 2026.
Sebagaimana diketahui, harga buyback emas Antam merupakan acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) berdasarkan ukuran 1 gram. Pergerakan mengikuti harga emas di pasar global.
Data Investing menunjukkan harga emas di pasar spot dibanderol kisaran US$4.300 pada Rabu (17/6/2026).
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
Baca Juga
- Bocoran Terbaru Rebound Harga Emas Pekan Ketiga Juni 2026
- Full Senyum Pembeli Emas Antam 10 Tahun Akhir Pekan Kedua Juni 2026
- Bank Sentral Bakal Terus Borong Emas, Sinyal Pemulihan Harga?
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
Diberitakan Bisnis sebelumnya, Survei Emas Mingguan Kitco terbaru menunjukkan Wall Street ragu-ragu dan mundur ke posisi netral jelang pertemuan The Fed. Marc Chandler, Direktur Pelaksana di Bannockburn Global Forex mencatat bahwa harga emas hampir mencapai US$4.024 per ons di pasar spot pekan ini, level terendahnya sejak November 2025.
"Kenaikan dalam beberapa hari terakhir membantunya pulih ke sekitar US$4.246,50 per ons yang sesuai dengan retracement 38,2% dari kerugian sejak puncak akhir Mei di dekat US$4.600. Indikator momentum menunjukkan tren naik tetapi belum berbalik," jelas Chandler, dilansir Kitco, Minggu (14/6/2026).





