Andi Marjuni Kahar Luncurkan Buku Nasab Datu Halia, Wariskan Jejak Leluhur untuk Generasi Mendatang

harianfajar
1 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Upaya warisan budaya lokal terus dilakukan. Salah satunya melalui peluncuran dan bedah buku Menelusuri Nasab dan Keturunan Datu Halia di Manipi karya Andi Marjuni Kahar yang digelar di Aula Prof. Mattulada, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan yang dihadiri akademisi, tokoh masyarakat, budayawan, serta keturunan Datu Halia itu menjadi ruang diskusi penting mengenai pelestarian sejarah, budaya, dan genealogis masyarakat Bugis-Makassar melalui penulisan silsilah keluarga.

Menariknya, buku tersebut lahir dari tangan seorang penulis independen. Andi Marjuni Kahar lahir di Manipi, 22 Maret 1968, dari pasangan Abdul Kahar Petta Beta dan Andi Hanise Petta Puji.

Ia menempuh pendidikan di SD Negeri 87 Manipi, SMP Negeri Manipi, SMA Negeri 1 Ujung Pandang, Diploma Fanogis Unhas, hingga meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik di Universitas Hasanuddin.

Sebelum menekuni penulisan genealogi, Marjuni pernah bekerja di bidang akuntansi selama 12 tahun dan sempat menetap di sejumlah daerah, seperti Mamuju, Bone, Nabire, Bulukumba, hingga Manokwari.

Namun kegemarannya menulis sejak kecil mendorongnya memilih jalan sebagai penulis lepas.

“Menulis sudah menjadi kebiasaan saya sejak kecil. Mungkin ini amanah yang diberikan Allah untuk membantu menjelaskan nasab dan kekerabatan kepada banyak orang,” ujarnya.

Penulis buku, Andi Marjuni Kahar, mengungkapkan gagasan menulis buku tersebut telah muncul sejak 1990 ketika dirinya pertama kali melihat susunan nasab keluarganya yang bermuara pada sosok Puanta Datu Halia.

Namun, proses penyusunannya tidak berlangsung singkat. Selama puluhan tahun, ia harus mengumpulkan berbagai data dari beragam sumber sebelum akhirnya berhasil menyusun silsilah keturunan Datu Halia secara lebih lengkap.

“Setelah bertahun-tahun mengumpulkan data sedikit demi sedikit dan menghadapi berbagai rintangan, akhirnya data anak keturunan Puanta Datu Halia bisa dihimpun. Kemajuan teknologi juga sangat membantu proses ini,” ujarnya.

Menurut Marjuni, buku setebal 413 halaman tersebut disusun selama kurang lebih dua tahun melalui penelusuran berbagai sumber, mulai dari silsilah keluarga, tradisi lisan, hingga catatan sejarah yang tersimpan dalam lontarak.

Ia mengakui tantangan terbesar dalam penyusunan buku adalah minimnya sumber data yang terdokumentasi secara sistematis.

“Banyak kepala keluarga bahkan tidak mengetahui silsilah keluarganya sendiri. Sebagian besar informasi hanya disimpan dalam ingatan dan tutur lisan sehingga menyulitkan penelusuran. Untungnya para raja dan bangsawan masa lalu memiliki tradisi mencatat berbagai peristiwa dalam lontarak yang kemudian menjadi sumber penting bagi penelitian ini,” jelasnya.

Marjuni menuturkan, selama ini pembahasan mengenai nasab sering dianggap identik dengan kalangan bangsawan. Padahal menurutnya, setiap manusia memiliki hak dan kebutuhan yang sama untuk mengetahui asal-usul keluarganya.

“Nasab bukan milik bangsawan. Nasab adalah milik semua manusia. Justru ini yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, yaitu mengenal asal-usul dan leluhurnya,” katanya.

Ia berharap buku tersebut dapat menjadi jembatan silaturahmi bagi keturunan Datu Halia yang selama ini tidak saling mengenal serta menjadi warisan pengetahuan bagi generasi mendatang.

Selain itu, Marjuni juga mendorong adanya perhatian pemerintah terhadap upaya pelestarian sejarah dan budaya berbasis genealogis.

“Kami ini penulis lepas. Harapannya ada keberpihakan dan dukungan pemerintah karena ini menyangkut budaya dan sejarah masyarakat,” ujarnya.

Bedah buku menghadirkan sejumlah panelis, di antaranya Prof. Dr. Muhlis Hadrawi, S.S., M.Hum., dan Dr. Andi Suryadi Mappangara.

Prof. Muhlis Hadrawi menilai karya tersebut merupakan langkah awal yang sangat penting dalam mendokumentasikan sejarah keluarga dan budaya lokal.

“Menulis buku itu seperti membangun masjid, manfaatnya tidak akan pernah berhenti. Saya merinding ketika membaca dan mengamati buku ini. Niat penulis sangat baik dan saya yakin buku ini akan memberi manfaat besar,” katanya.

Sementara itu, Dr. Andi Suryadi Mappangara menekankan pentingnya memadukan sumber tertulis dan sumber lisan dalam penelitian sejarah maupun genealogis.

“Sumber lisan juga merupakan bagian penting dari sejarah. Yang menarik dari buku ini adalah upaya memadukan sumber-sumber tersebut untuk menemukan kesesuaian data,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran buku tersebut menjadi kontribusi penting dalam memperkaya kajian sejarah dan budaya Sulawesi Selatan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sinjai, Andi Mandasini, yang hadir mewakili Bupati Sinjai, turut mengapresiasi peluncuran buku tersebut.

Ia menilai kegiatan itu menjadi sarana penting dalam menggali kembali sejarah dan budaya daerah yang selama ini belum terdokumentasikan secara optimal.

“Dengan adanya dokumentasi seperti ini, identitas kita tetap terjaga. Kalau tidak dicatat, sejarah bisa hilang. Ini juga memperkuat legitimasi sejarah sekaligus mempererat persatuan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, Manipi merupakan salah satu wilayah yang menyimpan kekayaan sejarah besar namun belum banyak terungkap secara luas.

“Manipi memiliki permata sejarah yang luar biasa dan perlu terus digali serta diperkenalkan kepada generasi muda,” tambahnya.

Marjuni berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai ruang bertemunya masyarakat, akademisi, dan pemerhati budaya dalam merawat identitas serta memelihara ingatan kolektif bangsa.

“Kita terlalu larut dalam derasnya perkembangan teknologi. Padahal ada hal-hal mendasar yang mulai kita tinggalkan, yakni mengenal identitas, sejarah keluarga, dan jejak para leluhur. Melalui kegiatan seperti ini, kita diingatkan kembali pentingnya mencatat dan merawat sejarah,” pungkasnya. (irm/*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ragu AS-Iran Beneran Damai, Kapal Tak Berani Lewat Selat Homuz
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menlu Iran: AS Bertanggung Jawab untuk Hentikan Total Serangan Israel ke Lebanon
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pertama Kali Wakil Asia Tumbang di Piala Dunia 2026, Haaland Pimpin Norwegia Hajar Irak 4-1
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Naik Tipis Rp4.000, Harga Emas Antam Hari Ini 17 Juni 2026 Rp2.733.000 per Gram
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Waskita Dorong Pelestarian Budaya-Ekonomi Lokal Lewat Revitalisasi Besakih
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.