Bisnis.com, JAKARTA — Peluang industri kecil dan menengah (IKM) untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terus terbuka seiring meningkatnya investasi manufaktur dan target peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Namun, pelaku IKM masih menghadapi sejumlah tantangan untuk dapat memenuhi standar industri otomotif modern.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, tantangan terbesar bagi IKM bukan terletak pada minimnya peluang pasar, melainkan pada kemampuan memenuhi persyaratan yang ditetapkan produsen kendaraan listrik.
"Dari sudut pandang produsen kendaraan, tantangan terbesar dalam melibatkan IKM sebagai pemasok adalah menjaga konsistensi kualitas, kapasitas produksi, dan kontinuitas pasokan," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (17/6/2026).
Yannes menjelaskan, industri kendaraan listrik memiliki standar keselamatan dan keandalan yang jauh lebih ketat dibanding industri manufaktur pada umumnya. Konsekuensinya, setiap komponen harus memenuhi spesifikasi teknis secara konsisten.
Di sisi lain, masih banyak IKM yang menghadapi keterbatasan dalam memperoleh sertifikasi industri, memiliki fasilitas pengujian, mengadopsi teknologi produksi yang lebih modern hingga meningkatkan kapasitas ketika permintaan meningkat.
Kemudian, keterbatasan akses pembiayaan dan investasi untuk pembaruan mesin produksi juga menjadi hambatan bagi IKM untuk meningkatkan daya saingnya.
Baca Juga
- Penyebab IKM Belum Mampu Perkuat Rantai Pasok Industri
- Ledakan Pasar EV Buka Peluang Besar untuk Industri Kecil Menengah
Akibat berbagai keterbatasan tersebut, produsen kendaraan listrik umumnya lebih memilih melibatkan IKM sebagai pemasok komponen nonkritis terlebih dahulu sembari melakukan proses pembinaan secara bertahap.
"Pendekatan seperti ini merupakan praktik umum dalam pengembangan rantai pasok industri otomotif di berbagai negara," sebutnya.
Kendati demikian, Yannes menilai prospek IKM untuk masuk ke rantai pasok kendaraan listrik tetap cukup besar. Hal itu didorong oleh meningkatnya investasi manufaktur kendaraan listrik serta kebijakan pemerintah yang terus mendorong lokalisasi produksi melalui peningkatan target TKDN.
Menurutnya, kenaikan target kandungan lokal akan membuat produsen membutuhkan lebih banyak pemasok domestik sehingga membuka peluang bagi IKM, terutama sebagai pemasok tier-2 dan tier-3 pada komponen noninti.
Dia menambahkan, peluang tersebut terutama terbuka bagi IKM yang telah memiliki standar kualitas memadai serta berada di kawasan industri yang dekat dengan pusat produksi otomotif dan baterai.
Adapun, komponen yang paling realistis diproduksi IKM dalam jangka pendek meliputi jok, panel bodi, interior, bracket, casing, lampu, wiring harness, komponen plastik, hingga beberapa bagian pendukung sistem baterai.
Sementara itu, komponen inti seperti sel baterai, motor listrik traksi, inverter, battery management system (BMS), dan sistem kendali elektronik masih membutuhkan investasi besar, penguasaan teknologi tinggi, serta proses pengujian yang sangat ketat.
"Strategi paling realistis bagi IKM saat ini adalah memperkuat posisi pada komponen pendukung sambil membangun kemitraan dan transfer teknologi agar dapat naik kelas secara bertahap menuju produk bernilai tambah lebih tinggi," tutur Yannes.
Dia menambahkan, target TKDN akan lebih efektif apabila diikuti kebijakan yang memperkuat kapasitas IKM, bukan hanya kewajiban administratif bagi produsen kendaraan.
Oleh karena itu, Yannes mendorong pemerintah memperluas program pelatihan teknis, business matching, sertifikasi industri, serta menyediakan pembiayaan khusus untuk modernisasi mesin produksi.
Pemerintah juga perlu memperkuat laboratorium pengujian bersama, pusat pengembangan prototipe, serta mendorong kolaborasi antara IKM, perguruan tinggi, lembaga riset, dan produsen otomotif.
"Dengan pendekatan seperti ini, peningkatan TKDN tidak hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi benar-benar menghasilkan industri komponen nasional yang lebih kuat, kompetitif, dan berkelanjutan," pungkasnya.





