REPUBLIKA.CO.ID,BIARRITZ — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan yang dicapai dengan Iran saat ini belum berstatus final. Pernyataan tersebut disampaikan Trump di sela-sela pertemuan KTT G7 di Prancis saat ditanya mengenai kepastian kesepakatan kerja sama kedua belah pihak.
"Tidak, ini belum final," ujar Trump kepada awak media. "Ini baru berupa memorandum kesepahaman (MoU). Jika saya tidak menyukainya, kita akan kembali menggempur mereka dan menjatuhkan bom di atas kepala mereka."
Baca Juga
Trump Dilaporkan akan Pecat Menhan Hegseth dan Direktur CIA yang Menentang Perdamaian dengan Iran
Dari Hobi Jadi Peluang: Cerita Adang Haedaroh Jadi Kreator di Dunia Gaming
Ketika Mahasiswa Melawan
Trump bahkan mengulang ancaman militer tersebut secara terbuka sebagai bentuk peringatan keras kepada Teheran. "Jika saya tidak menyukainya, jika mereka tidak tahu aturan, kami akan langsung kembali menjatuhkan bom tepat di tengah-tengah kepala mereka," katanya menegaskan.
Meski melontarkan ancaman, Presiden AS tersebut tetap mengeklaim bahwa kerangka kesepakatan antara AS dan Iran ini "sangat kuat". Uniknya, ia tidak merinci poin-poin di dalamnya. "Tidak ada yang tahu pasti apa isinya, tapi kesepakatan ini sangat kuat," ucap Trump.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia juga menambahkan bahwa dampak positif dari meredanya ketegangan ini langsung terasa di sektor ekonomi global. Trump memproyeksikan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya dalam kurun waktu "satu atau dua hari ke depan". "Pihak yang paling bahagia saat ini adalah pasar (saham),"kata dia.
Saat berbincang dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Trump mengeklaim ada peluang sebesar 99,99 persen bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir pada masa mendatang. Fokus pembicaraan kedua kepala negara di KTT G7 tersebut memang tertuju pada dinamika negosiasi AS-Iran.
"Sektor yang benar-benar menyambut baik adalah pasar saham yang langsung melonjak tajam. Angkanya melesat menembus atap, sementara harga minyak dunia langsung merosot jatuh," kata Trump. "Respons pasar itu berbicara lebih keras daripada sekadar kata-kata."
Orang-orang mengibarkan bendera Iran dan Hizbullah mendukung serangan Iran terhadap Israel, di alun-alun Valiasr di Teheran, Iran, 7 Juni 2026. Iran meluncurkan rudal ke Israel sebagai pembalasan atas serangan Israel sebelumnya di pinggiran selatan Beirut. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)
Bantahan dana rekonstruksi Rp4.500 Triliun
Di sisi lain, Trump membantah keras laporan media yang menyebutkan bahwa kesepakatan AS-Iran mencakup klausul penyediaan dana rekonstruksi sebesar 300 miliar dolar AS (sekitar Rp 4.500 triliun) untuk Teheran.
"Kami tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun, bahkan tidak 10 sen pun," ujar Trump membantah. "Kami tidak melakukan investasi, dan kami tidak menyediakan dana bantuan apa pun."
Terkait keterlibatan sekutu regionalnya di Timur Tengah, Trump menyatakan bahwa Washington tidak meminta negara-negara Teluk untuk menanamkan investasi di Iran. Kendati demikian, ia tidak melarang jika negara-negara tersebut memutuskan sebaliknya.
"Jika mereka ingin melakukannya, silakan saja. Namun, saya memperkirakan mereka tidak akan berinvestasi dalam waktu dekat sampai mereka melihat bagaimana perilaku (Iran) ke depan,"ujar Trump.
Foto korban serangan udara AS-Israel dipajang di depan reruntuhan bangunan di Teheran, Iran, Senin (13/4/2026). Serangan AS-Israel ke Iran dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Dari jumlah korban itu, sedikitnya 210 anak dikabarkan tewas sejak dimulainya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan setelah perundingan perdamaian yang diadakan di Islamabad pada 11 April. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)