-
-
-
-
-
Prinsip yang dipegang manusia memang terasa samar dan abstrak. Terkadang kuat, namun terkadang melemah. Tak dipungkiri pula, sekuat apapun manusia memegang prinsip dan pandangan, perubahan pikiran terkadang datang juga. Begitu pula, pada pemegang prinsip child-free.
Entah kapan datangnya perubahan pikiran itu. Bisa saja ketika memangku keponakan yang tertidur pulas. Mungkin pula suasana rumah di akhir pekan, yang kian lama semakin terasa sepi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan hadir sebuah momen, di mana kekosongan itu datang begitu kuat. Sebesar apapun upaya dalam menghiraukan, perasaan "kurang" terus menari-nari di benak.
Diskursus panjang soal child-free, seringkali terpusat pada keyakinan. Boleh atau tidak. Padahal, yang kerap kali timbul adalah keraguan. Terutama, bagi mereka yang setelah berjalannya waktu, mulai mengubah pandangan. Alhasil, pertanyaan yang timbul bukan lagi "Boleh atau tidak", tapi berubah menjadi "Apakah masih mungkin".
Demi menjawab pertanyaan itu, dr. Ngabila Salama pun memberikan sebuah harapan. Ketika hadir di acara podcast Special Interview, di kanal Youtube Cumicumi, dr. Ngabila menjelaskan bahwa besar potensi memiliki keturunan, bagi mereka yang berubah pikiran. Asalkan, tidak terdapat gangguan mental atau masalah anatomi di tubuh mereka.
"Kalau selama ini mungkin dia tidak mau punya anak, berbagai cara dilakukan dengan kontrasepsi dong. Kontrasepsi itu ada alami, ada mekanik, ada juga yang dilakukan tindakan. Nah, mungkin dia selama ini pakai kontrasepsi. Begitu dia lepas kontrasepsi, dia tidak ada masalah gangguan mental, tidak ada masalah anatomi kalau kita bilang ya dalam tubuh, hormon dan juga tadi fisik morfologinya. Jadilah itu" ucap dr. Ngabila Salama.
Meski begitu, dr. Ngabila Salama tetap mengingatkan, bila usia emas memiliki keturunan terjadi di usia 20 hingga 25 tahun.
"Tapi balik ya diusahakan banget rentang 20 sampai 35 itu masa golden period-nya lah. Golden perioden period untuk punya anak ya. Untuk punya anak" tutupnya





