Jakarta (ANTARA) - Sutradara Bayu Skak dan produser eksekutif Sinemart, David Setiawan Suwarto, membuka tirai produksi film "Foufo" di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Rabu, sebuah proyek lintas genre yang berusaha mendefinisikan ulang cakupan sinema asli daerah di Indonesia.
Film yang dijadwalkan tayang pada 9 Juli 2026 ini memadukan absurditas pendaratan darurat makhluk luar angkasa di Madura, Jawa Timur, dengan fenomena ekonomi yang sering kali berat dari kehidupan keluarga di daerah setempat.
Bagi Suwarto konsep film ini adalah sebuah pertaruhan. “Saat kami mendengar sinopsis satu kalimatnya, itu adalah campuran antara keinginan untuk menolak dan di saat yang sama, rasa penasaran yang besar untuk melihatnya,” ujar Suwarto saat konferensi pers berlangsung.
Film ini berkisah tentang seorang pemuda (Tretan Muslim) yang berjuang mendanai perjalanan ibadah haji ibunya, namun hidupnya berubah drastis saat ia menemukan tamu alien yang berharga.
Baca juga: Pemeran "Foufo" debut akting di usia 63 tahun
Komitmen Skak Studios terhadap keotentikan membuat mereka menghindari penggunaan bintang besar dan beralih ke pencarian talenta akar rumput.
Produksi ini mengadakan audisi terbuka di Surabaya dan menarik 2.500 peserta sekitar 1,5 tahun yang lalu.
Jajaran pemain—termasuk pendatang baru Siti Kam (63) dan Anggun Dwi— pun terpilih untuk kemudian menghabiskan waktu 45 hari di sebuah apartemen komunal di Jakarta, sebuah strategi yang dikreditkan oleh Bayu Skak sebagai kunci terciptanya "chemistry" atau keselarasan hubungan keluarga agar dapat diterima penonton layar lebar.
“Kami perlu menangkap potensi mereka,” jelas Bayu Skak. “Karakter-karakter ini berganti bahasa secara alami—bahasa Madura di rumah, bahasa Jawa saat keluar, dan bahasa Indonesia untuk situasi formal. Begitulah cara hidup di Surabaya Utara.”
Pekerjaan teknis di balik "Foufo" menandai pencapaian signifikan untuk efek visual sebuah sinema lokal.
Makhluk tersebut tidak diwujudkan melalui rekayasa digital penuh, melainkan melalui pendekatan hibrida yang intensif.
Aktor Bambang "Ceper" mengoperasikan kostum fisik dan bertahan dalam interval 10 menit sebelum membutuhkan pendinginan di ruang ber-AC, sementara Ade Bibier Kurniyawan memberikan sulih suara dan ekspresi secara langsung (live) di lokasi syuting melalui teknologi "face tracking" atau pelacak wajah.
“Jika kami menggunakan CGI penuh, prosesnya memakan waktu satu setengah tahun,” kata Bayu Skak. “Dengan menggunakan kostum praktis untuk tubuh dan pengerjaan digital untuk kepala, kami memangkas waktu secara signifikan.”
Baca juga: Ade Bibir lakukan live dubbing di lokasi syuting film "Foufo"
Sebanyak 120 animator dari studio animasi di Surabaya bekerja selama tujuh bulan untuk menyempurnakan performa alien tersebut, memastikan desain "curve-heavy" atau berlekuk yang mereka buat menarik bagi penonton keluarga modern.
Bagi penulis skenario pendatang baru Achmad Faishol, film ini adalah eksplorasi sejarah pribadinya. “Ini adalah cerita tentang hubungan saya dengan ibu saya dan misteri langit,” ungkap Faishol menggambarkan proses penulisan "scene" ke-73 yang emosional ditulis pada pukul 3 pagi.
Dedikasi para pemain ditunjukkan saat konferensi pers oleh Siti Kam (pemeran Ibu Saiqona) yang memerankan adegan dari cuplikan naskah yang belum dirilis dengan sangat kuat.
Intensitas emosional tersebut membuat pemeran utama Tretan Muslim terharu, sekaligus menegaskan inti film ini: sebuah drama universal tentang beban bakti seorang anak, yang dibingkai oleh pendaratan tak terduga dari penghuni bintang-bintang.
Menjelang 9 Juli, tim di balik layar "Foufo" tetap teguh menghadapi kebisingan dari luar, termasuk kontroversi media sosial baru-baru ini mengenai pilihan politik para pemeran di Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di 2024. “Ini adalah karya seni,” desak Tretan Muslim. “Mari tetap fokus pada ceritanya.”
Dengan rencana distribusi yang ambisius dan denyut nadi budaya yang kuat, "Foufo" berusaha membuktikan bahwa penonton Indonesia siap untuk fiksi ilmiah dengan konsep tinggi yang tidak mengorbankan jiwa kedaerahannya.
"Di dalam film 'Foufo' ini untuk bahasanya akan menggunakan bahasa Madura kurang lebih ada di 70 persen, dicampur dengan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia," kata Bayu Skak.
Baca juga: Komedian Tretan Muslim menangis karena kuota haji dikorupsi
Baca juga: 2.500 peserta ikuti pemilihan pemeran film "Foufo" di Surabaya
Film yang dijadwalkan tayang pada 9 Juli 2026 ini memadukan absurditas pendaratan darurat makhluk luar angkasa di Madura, Jawa Timur, dengan fenomena ekonomi yang sering kali berat dari kehidupan keluarga di daerah setempat.
Bagi Suwarto konsep film ini adalah sebuah pertaruhan. “Saat kami mendengar sinopsis satu kalimatnya, itu adalah campuran antara keinginan untuk menolak dan di saat yang sama, rasa penasaran yang besar untuk melihatnya,” ujar Suwarto saat konferensi pers berlangsung.
Film ini berkisah tentang seorang pemuda (Tretan Muslim) yang berjuang mendanai perjalanan ibadah haji ibunya, namun hidupnya berubah drastis saat ia menemukan tamu alien yang berharga.
Baca juga: Pemeran "Foufo" debut akting di usia 63 tahun
Komitmen Skak Studios terhadap keotentikan membuat mereka menghindari penggunaan bintang besar dan beralih ke pencarian talenta akar rumput.
Produksi ini mengadakan audisi terbuka di Surabaya dan menarik 2.500 peserta sekitar 1,5 tahun yang lalu.
Jajaran pemain—termasuk pendatang baru Siti Kam (63) dan Anggun Dwi— pun terpilih untuk kemudian menghabiskan waktu 45 hari di sebuah apartemen komunal di Jakarta, sebuah strategi yang dikreditkan oleh Bayu Skak sebagai kunci terciptanya "chemistry" atau keselarasan hubungan keluarga agar dapat diterima penonton layar lebar.
“Kami perlu menangkap potensi mereka,” jelas Bayu Skak. “Karakter-karakter ini berganti bahasa secara alami—bahasa Madura di rumah, bahasa Jawa saat keluar, dan bahasa Indonesia untuk situasi formal. Begitulah cara hidup di Surabaya Utara.”
Pekerjaan teknis di balik "Foufo" menandai pencapaian signifikan untuk efek visual sebuah sinema lokal.
Makhluk tersebut tidak diwujudkan melalui rekayasa digital penuh, melainkan melalui pendekatan hibrida yang intensif.
Aktor Bambang "Ceper" mengoperasikan kostum fisik dan bertahan dalam interval 10 menit sebelum membutuhkan pendinginan di ruang ber-AC, sementara Ade Bibier Kurniyawan memberikan sulih suara dan ekspresi secara langsung (live) di lokasi syuting melalui teknologi "face tracking" atau pelacak wajah.
“Jika kami menggunakan CGI penuh, prosesnya memakan waktu satu setengah tahun,” kata Bayu Skak. “Dengan menggunakan kostum praktis untuk tubuh dan pengerjaan digital untuk kepala, kami memangkas waktu secara signifikan.”
Baca juga: Ade Bibir lakukan live dubbing di lokasi syuting film "Foufo"
Sebanyak 120 animator dari studio animasi di Surabaya bekerja selama tujuh bulan untuk menyempurnakan performa alien tersebut, memastikan desain "curve-heavy" atau berlekuk yang mereka buat menarik bagi penonton keluarga modern.
Bagi penulis skenario pendatang baru Achmad Faishol, film ini adalah eksplorasi sejarah pribadinya. “Ini adalah cerita tentang hubungan saya dengan ibu saya dan misteri langit,” ungkap Faishol menggambarkan proses penulisan "scene" ke-73 yang emosional ditulis pada pukul 3 pagi.
Dedikasi para pemain ditunjukkan saat konferensi pers oleh Siti Kam (pemeran Ibu Saiqona) yang memerankan adegan dari cuplikan naskah yang belum dirilis dengan sangat kuat.
Intensitas emosional tersebut membuat pemeran utama Tretan Muslim terharu, sekaligus menegaskan inti film ini: sebuah drama universal tentang beban bakti seorang anak, yang dibingkai oleh pendaratan tak terduga dari penghuni bintang-bintang.
Menjelang 9 Juli, tim di balik layar "Foufo" tetap teguh menghadapi kebisingan dari luar, termasuk kontroversi media sosial baru-baru ini mengenai pilihan politik para pemeran di Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di 2024. “Ini adalah karya seni,” desak Tretan Muslim. “Mari tetap fokus pada ceritanya.”
Dengan rencana distribusi yang ambisius dan denyut nadi budaya yang kuat, "Foufo" berusaha membuktikan bahwa penonton Indonesia siap untuk fiksi ilmiah dengan konsep tinggi yang tidak mengorbankan jiwa kedaerahannya.
"Di dalam film 'Foufo' ini untuk bahasanya akan menggunakan bahasa Madura kurang lebih ada di 70 persen, dicampur dengan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia," kata Bayu Skak.
Baca juga: Komedian Tretan Muslim menangis karena kuota haji dikorupsi
Baca juga: 2.500 peserta ikuti pemilihan pemeran film "Foufo" di Surabaya





