TEHERAN - Nota kesepahaman (MoU) yang baru ditandatangani antara Amerika Serikat (AS) dan Iran merupakan kemenangan diplomatik bagi Teheran yang diraih melalui kekuatan, kata pejabat Iran. MoU ini juga dipandang sebagai bukti bahwa Washington gagal mencapai tujuan militernya.
Pihak AS sangat bungkam dalam tanggapan publiknya. Gedung Putih juga belum menerbitkan teks akhir nota kesepahaman tersebut, meskipun seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya membacakan dokumen 14 poin tersebut kepada wartawan setelah berhari-hari dikritik karena kerahasiaan seputar kesepakatan tersebut.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran dan kepala negosiator dalam pembicaraan tersebut, Mohammad Ghalibaf, menggambarkan nota kesepahaman tersebut sebagai bukti penyerahan diri AS.
"Perjanjian ini adalah catatan kegagalan AS," kata Ghalibaf dalam sebuah wawancara televisi pada Rabu, sebagaimana dilansir RT. "Orang-orang akan melihatnya dan menilai."
Teheran berpendapat bahwa dokumen tersebut mencerminkan serangkaian konsesi dari Washington, termasuk pencabutan blokade angkatan laut AS, penghapusan sanksi untuk ekspor minyak Iran, akses ke dana Iran yang dibekukan, dan rencana rekonstruksi ekonomi yang didukung AS senilai setidaknya USD300 miliar. Washington juga setuju untuk tidak memberlakukan sanksi baru atau mengerahkan pasukan tambahan di kawasan tersebut sementara kedua pihak bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan akhir.




