Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) telah menyalurkan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp418,1 triliun hingga minggu pertama Juni 2026 sebagai upaya menjaga likuiditas perbankan dan mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bank sentral akan terus mengoptimalkan implementasi insentif KLM agar fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika kebijakan moneter.
"Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan implementasi insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendukung penyaluran kredit perbankan kepada sektor-sektor prioritas sehingga tetap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, Kamis (18/6/2026).
Baca Juga
- Menakar Dampak Lonjakan Deposito Valas Terhadap Likuiditas Rupiah Perbankan
- Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan BI Rate 25 Bps ke 5,75%
- DBS Indonesia Prediksi BI Rate Bisa Sentuh 6% hingga Akhir 2026
Hingga minggu pertama Juni 2026, total insentif KLM yang disalurkan kepada industri perbankan mencapai Rp418,1 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp355,6 triliun disalurkan melalui lending channel, sedangkan Rp62,5 triliun melalui interest rate channel.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu instrumen yang diandalkan BI untuk menjaga likuiditas perbankan di tengah ketidakpastian global sekaligus memastikan ruang ekspansi kredit tetap terbuka meskipun terjadi penyesuaian arah kebijakan moneter.
Insentif KLM juga diharapkan mampu membantu perbankan mengelola biaya dana dan menjaga fungsi intermediasi, terutama apabila tekanan terhadap suku bunga meningkat seiring perkembangan kondisi ekonomi dan pasar keuangan global.





