EtIndonesia.com Saat menghadiri KTT G7, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan perkembangan terbaru mengenai perjanjian antara Amerika Serikat dan Iran. Ia mengatakan bahwa selain akan mempublikasikan seluruh isi perjanjian, dirinya juga bersedia membacakannya secara terbuka di hadapan media agar tidak terjadi kesalahan pemberitaan, sembari menyindir maraknya “berita palsu” (fake news).
Sementara itu, pemerintah Swiss menyatakan bahwa lokasi penandatanganan perjanjian telah ditetapkan melalui kesepakatan bersama antara Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara mediator. Namun, di dalam Iran sendiri dilaporkan masih terdapat penolakan dari kalangan garis keras, bahkan muncul ancaman terbuka terhadap Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Trump: Prioritas Utama Adalah Mencegah Iran Memiliki Senjata NuklirDalam pertemuannya dengan Presiden Uni Emirat Arab, Trump kembali menegaskan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir merupakan prioritas utama pemerintahannya.
Ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat tidak bermaksud menguasai uranium yang telah diperkaya milik Iran, melainkan ingin memastikan bahan tersebut dimusnahkan.
Trump mengatakan: “Iran tidak menjadi masalah. Kami akan masuk pada waktu yang tepat, tidak ada yang perlu diburu-buru. Kami memiliki kamera dari luar angkasa yang terus memantau fasilitas nuklir mereka, dan kami tahu siapa saja yang datang ke sana. Jawabannya: hampir tidak ada.”
Penandatanganan Perjanjian Direncanakan di SwissSebelumnya, Amerika Serikat mengumumkan bahwa kedua pihak telah sepakat menandatangani perjanjian di Jenewa, Swiss.
Kementerian Luar Negeri Swiss menyatakan bahwa upacara penandatanganan akan diselenggarakan di resor Bürgenstock di Obbürgen.
Menurut pihak Swiss, lokasi tersebut dipilih atas usulan bersama dari negara-negara mediator, yaitu Pakistan dan Qatar, serta disetujui oleh Amerika Serikat dan Iran.
Trump Berencana Menyerahkan Perjanjian kepada KongresDi Amerika Serikat, perhatian publik tidak hanya tertuju pada isi perjanjian, tetapi juga pada kemungkinan dokumen tersebut diajukan ke Kongres untuk ditinjau.
Trump menyatakan: “Saya bukan hanya akan mempublikasikannya, saya mungkin juga akan mengadakan konferensi pers dan membacakannya kata demi kata agar media dapat melaporkannya dengan benar. Ini adalah dokumen yang sangat penting.”
Ia menambahkan: “Perjanjian saya adalah tembok yang mencegah penyebaran senjata nuklir.”
Trump juga berkelakar: “Saya ingin menyerahkannya ke Kongres dan berkata, ‘Jangan setujui perjanjian ini,’ karena mereka biasanya melakukan kebalikan dari apa yang saya inginkan. Tetapi ya, saya akan mengirimkannya ke Kongres. Saya suka gagasan itu. Maksud saya, siapa yang tidak akan menyetujuinya?”
Laporan tentang Penolakan dari Kelompok Garis Keras IranMenurut laporan Israel Channel 14, yang mengutip sumber anonim, Komandan Garda Revolusi Iran Ahmad Vahidi disebut tidak berniat mematuhi perjanjian apa pun dengan Amerika Serikat. Sumber tersebut mengklaim bahwa tujuan sebenarnya adalah memperoleh dana terlebih dahulu sebelum melanjutkan agenda mereka sendiri.
Laporan itu juga menyebut bahwa Garda Revolusi diyakini mempertimbangkan untuk menerapkan strategi serupa dengan yang pernah terjadi di Selat Hormuz, tetapi kali ini di Selat Bab el-Mandeb, dengan asumsi bahwa Trump tidak akan melancarkan operasi militer baru menjelang pemilu November. Klaim tersebut belum mendapat konfirmasi resmi.
Ancaman terhadap Menteri Luar Negeri IranPada saat yang sama, media Iran International melaporkan bahwa sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan pendukung kelompok garis keras mengancam akan mengeksekusi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Dalam rekaman tersebut, tampak demonstran membawa poster bertuliskan: “Pendukung pemerintah: Araghchi harus dieksekusi.”
Ketegangan Israel–Lebanon Masih BerlanjutPada hari yang sama, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan telah menyerang peluncur roket milik Hizbullah setelah kelompok tersebut menembakkan sejumlah roket ke arah pasukan Israel di Lebanon selatan.
Menurut militer Israel, setelah roket-roket tersebut berhasil dicegat oleh angkatan udara, serangan balasan segera dilancarkan dan peluncur roket Hizbullah berhasil dihancurkan.
Trump Singgung Kemungkinan Kerja Sama dengan SuriahMenanggapi konflik yang terus berlangsung antara Israel dan Lebanon, Trump mengatakan bahwa: “Jika Israel tidak dapat menyelesaikan tugasnya tanpa membunuh terlalu banyak orang lain, maka Suriah seharusnya mengambil alih pekerjaan itu.”
Trump menilai perang di Lebanon hanyalah konflik yang relatif kecil tetapi telah berlangsung terlalu lama dan menimbulkan terlalu banyak korban. Ia juga menyatakan bahwa apabila Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak dapat mengendalikan situasi, Amerika Serikat mungkin akan mempertimbangkan bekerja sama dengan Suriah untuk menghadapi kelompok bersenjata Hizbullah.
Laporan gabungan oleh Wang Ziyi, NTD Television.





