Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) secara year to date (YtD) telah terpangkas 28,06% ke level 6.220 per penutupan perdagangan Rabu (17/6/2026). Koreksi ini membuat saham-saham blue chips menjadi undervalued, terwakili dalam indeks LQ45 yang terpangkas 26,15% YtD.
Equity Research Analyst Simpan Asset Management, Genandy Amiharja mecatat bahwa valuasi earnings pasar saham saat ini telah berada di level pandemi Covid-19. Di sisi lain, secara fundamental menurutnya kondisi makro ekonomi Indonesia masih terbilang solid dibandingkan dengan edisi krisis seperti Covid-19 maupun krisis finansial global pada 2008.
"Ini adalah opportunity, kesempatan di mana kita bisa mulai chip in lagi. Jadi market kita sudah mengalami banyak hal, kemudian krisis kita sudah melewati banyak hal, tapi ujungnya apa? Itu adalah sebuah opportunity," ujarnya dalam media meet up Simpan Asset Management di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Genandy mengatakan persoalan yang dihadapi market adalah outflow asing. Per Rabu (17/6/2026), terdapat akumulasi net sell asing di pasar saham sebesar Rp64,94 triliun sejak awal tahun. Kondisi tersebut menekan market PER di level 12,72 kali serta market PBV di level 1,63 kali.
Sementara di sisi lain, dia melihat bahwa ekonomi Indonesia masih cukup solid dengan PDB triwulan I/2026 tumbuh 5,61% YoY. Selain itu, dari sisi emiten menurutnya kinerja keuangan perusahaan tercatat di bursa juga menunjukkan hal positif.
Berdasarkan catatan Bisnis.com, dalam kuartal I/2026 emiten-emiten LQ45 mencatat rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9%. Dari seluruh total perusahaan tercatat, sebesar 80% membukukan laba bersih. Persentase itu menjadi yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir.
Baca Juga
- IHSG Menanti Sinyal Review MSCI, Intip Jurus Cuan Amankan Portofolio
- IHSG Berpeluang Menguat Terbatas, Pasar Cermati Sikap Hawkish The Fed & Hasil RDG BI
- Intip 4 Skenario Arah IHSG Jelang Hasil Review MSCI Indonesia 18 Juni 2026
Sementara itu di pasar obligasi, Genandy mengatakan bahwa yield SBN tenor 10 tahun yang berada di level 7% telah membuat spread antara yield obligasi dan earnings yield saham menyempit hingga mendekati nol. Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan valuasi saham sudah semakin murah, sementara valuasi obligasi juga masih berada pada level yang menarik.
"Apa yang terjadi sekarang adalah spread-nya itu sudah menipis, hampir ke angka nol dan pernah negatif, di mana equity itu sudah sangat-sangat murah. Tapi yield bonds juga sudah sampai di level 7 di mana hampir mirip dengan historical-nya. Jadi semua aset kelas kita itu sangat murah secara rupiah," tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




