JAKARTA, KOMPAS — Logam mulia kembali menjadi aset menarik yang diakumulasi lebih banyak investor di tengah meredanya ketegangan geopolitik. Meski pergerakan harga emas diperkirakan tidak seagresif beberapa tahun terakhir, emas dinilai tetap relevan sebagai alat lindung nilai.
Minat investor untuk kembali membeli emas menyebabkan penguatan harga emas dunia dalam seminggu terakhir sekitar 6 persen ke kisaran harga 4.297 - 4.350 dolar AS per troy ons pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Kenaikan ini menutup pelemahan harga emas terdalam selama 2026 yang sempat menyentuh level di kisaran 4.100 dolar AS per troy ons.
Analisis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) yang dikutip hari ini mengatakan, tren kenaikan tersebut didorong oleh meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Selat Hormuz berpotensi kembali dibuka pada Jumat mendatang.
Sentimen tersebut mendorong penurunan harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Meredanya ketegangan geopolitik juga mengurangi kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi yang sebelumnya dipicu gangguan pasokan energi. Kondisi ini membuat dunia kembali mempercayai instrumen emas sebagai alat lindung nilai dan investasi.
Dalam jangka pendek, ICDX memperkirakan harga emas masih bergerak dalam rentang yang dipengaruhi sentimen suku bunga dan perkembangan geopolitik.
"Secara teknikal, level support (batas bawah) terdekat berada pada kisaran 4.307 - 4.282 dolar AS per ons, sedangkan resistance (batas atas) berada di area 4.355 dolar AS hingga 4.378 dolar AS per troy ons," kata ICDX.
Meski demikian, mereka menilai, pasar masih bersikap hati-hati karena normalisasi arus perdagangan dan distribusi energi melalui Selat Hormuz diperkirakan tidak berlangsung secara instan.
Di tengah perkembangan tersebut, Head of Investment and Insurance Product PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo mengatakan, emas dinilai masih memiliki peran penting dalam portofolio investasi sebagai instrumen lindung nilai atau hedging.
“Tujuan utama emas saat ini lebih kepada diversifikasi dan hedging terhadap risiko inflasi maupun gejolak pasar. Jadi, bukan semata-mata mengharapkan kenaikan harga yang sangat tinggi seperti beberapa tahun sebelumnya,” ujar Djoko dalam acara diskusi di Jakarta, Kamis (18/6).
Menurut dia, pandangan investasi global Chief Investment Office (CIO) DBS masih memasukkan emas dalam kategori aset alternatif yang penting untuk menjaga keseimbangan portofolio. Meski prospek kenaikan harga emas diperkirakan tidak seagresif sebelumnya, logam mulia tetap relevan sebagai instrumen perlindungan nilai.
Terkait pilihan instrumen emas yang bisa dibeli saat ini, Djoko menilai ini bergantung pada tujuan investasi masing-masing individu. Seperti diketahui, aset emas bisa dibeli tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga emas digital hingga produk pasar modal berupa Exchange Traded Fund (ETF) emas.
Djoko berpendapat, bagi investor yang berorientasi pada perdagangan aktif dan efisiensi biaya transaksi, emas digital atau instrumen berbasis emas seperti ETF dapat menjadi pilihan karena memiliki selisih harga jual dan beli yang lebih kecil.
“Kalau tujuannya investasi dan aktif diperjualbelikan, saya pribadi lebih memilih emas digital atau ETF karena spread-nya lebih kecil dan lebih efisien,” ujarnya.
Namun, emas fisik tetap memiliki nilai tersendiri karena memberikan rasa aman bagi sebagian investor yang ingin memiliki aset secara langsung. Kombinasi keduanya dapat menjadi strategi yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
Adapun untuk investasi saham yang bergerak di bidang tambang dan perdagangan emas, menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, dalam laporannya hari ini, mengatakan bahwa korelasi kinerja saham terkait emas dengan pergerakan harga emas menunjukkan korelasi yang lemah.
Menilik data imbal hasil beberapa saham terkait emas dan harga emas dunia dalam satu tahun terakhir, ditemukan bahwa rata-rata korelasi saham emas di Bursa Efek Indonesia (IDX) terhadap emas dunia hanya 0,23 dari 1,00.
Saham yang berkorelasi tertinggi ke emas dunia hanya terjadi pada sebagian saham seperti PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) sebesar 0,38, diikuti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) 0,23, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 0,21. Saham dengan korelasi terendah atau jauh dari 1 adalah PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar 0,13.
"Meski berlabel saham emas, pergerakannya tidak banyak mengikuti harga emas internasional. Sebaliknya, antar-saham tambang IDX justru saling berkorelasi lebih tinggi (0,5 hingga 0,68), menandakan mereka lebih digerakkan faktor lokal seperti sentimen pasar, regulasi, dan aliran dana domestik daripada harga emas global," kata Abida.
Dari data tersebut, ia menyimpulkan, memegang saham emas di bursa tidak setara dengan eksposur langsung ke harga emas dunia. "Periksa profil bisnis tiap emiten, sebagian bukan emas murni sehingga korelasinya berbeda. Bila tujuannya mengikuti harga emas, pertimbangkan instrumen yang korelasinya memang tinggi, bukan berasumsi dari label sektor," tuturnya.
Meski emas tetap jadi pilihan investasi yang aman, investasi pada pasar saham dan surat utang Indonesia lebih menarik secara potensi keuntungan.
Untuk saham, Djoko mengatakan, peluang mendapatkan untuk jika investor melakukan akumulasi atau pembelian saham saat ini besar. Hal ini karena valuasi saham dengan fundamental baik yang sangat murah setelah mengalami koreksi harga yang cukup dalam.
Posisi pasar saham Indonesia menurut catatannya berada pada level yang relatif murah dibandingkan rata-rata historis. Berdasarkan indikator yang digunakan DBS, seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan price to earning ratio (PER) atau rata-rata harga saham dengan laba bersih per lembar yang dihasilkan perusahaan melampaui tekanan yang terjadi pada masa pandemi Covid-19.
IHSG pada Juni 2026 sempat menyentuh level terendah setidaknya sepanjang 5 tahun terakhir di 5.317. Adapun nilai PER saham IDX secara umum sudah minus 2, melampaui nilai PER pada awal masa pandemi yang minus 1,5.
“Semakin dalam koreksi pasar, sepanjang fundamental ekonomi masih baik, peluang investasi justru semakin menarik,” kata Djoko. Ia pun menyarankan investor untuk memilih sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang di Indonesia.
Secara global, DBS masih mempertahankan pandangan positif terhadap saham, terutama di kawasan Asia Pasifik dan sektor-sektor yang berkaitan dengan teknologi serta kecerdasan buatan (AI). Sektor semikonduktor dan teknologi dinilai masih menjadi penggerak utama pertumbuhan pasar ekuitas dunia.
DBS, menurut Djoko, juga menilai surat utang atau obligasi masih menawarkan peluang investasi yang menarik. Salah satu alasannya adalah tingkat real yield Indonesia yang masih tergolong tinggi dibandingkan sejumlah negara lain.
Real yield merupakan imbal hasil obligasi setelah dikurangi tingkat inflasi. Menurut Djoko, kondisi tersebut membuat obligasi Indonesia tetap kompetitif bagi investor yang mencari keseimbangan antara pendapatan tetap dan risiko.
“Indonesia masih termasuk negara yang memiliki real yield tinggi. Itu sebabnya obligasi tetap relevan dalam portofolio investasi,” ujarnya.
Meski demikian, DBS saat ini lebih menyukai obligasi dengan tenor pendek hingga menengah seiring ketidakpastian arah suku bunga global. Investor disarankan fokus pada obligasi dengan jangka waktu sekitar tiga hingga tujuh tahun yang dinilai lebih menarik dari sisi risiko dan harga.
Selain diversifikasi berdasarkan jenis aset, DBS juga mendorong investor melakukan diversifikasi mata uang melalui kepemilikan obligasi dalam denominasi rupiah maupun dolar AS.
Kombinasi emas sebagai instrumen hedging, obligasi sebagai sumber stabilitas pendapatan, serta saham sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang dinilai menjadi pendekatan yang paling relevan bagi investor saat ini.
“Kita tidak pernah tahu instrumen mana yang akan menjadi yang terbaik setiap tahun. Oleh karena itu, diversifikasi tetap menjadi strategi yang paling penting. Emas untuk hedging, obligasi untuk stabilitas, dan saham untuk pertumbuhan,” ujar Djoko.





