Bisnis.com, JAKARTA — Peluang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga ke depannya masih terbuka, terutama jika kebijakan moneter Amerika Serikat terus bergerak lebih ketat.
Adapun, Bank Indonesia (BI) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18 Juni 2026 kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%.
Dengan kenaikan ini, total pengetatan kebijakan moneter, termasuk kenaikan darurat atau off cycle sebesar 25 bps pada 9 Juni 2026, telah mencapai 100 bps atau menjadi yang tertinggi sejak April 2025.
Tim makro Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) menilai keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi dan menunjukkan komitmen BI untuk menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, tekanan inflasi yang meningkat, serta volatilitas nilai tukar rupiah.
Menurut tim, dari sisi nilai tukar, siklus kenaikan suku bunga BI mulai memberikan dukungan bagi rupiah. Pada 17 Juni 2026, rupiah menguat ke level Rp17.730 per dolar AS, atau sekitar 0,76% lebih kuat dibandingkan dengan posisi akhir Mei 2026.
Kenaikan suku bunga domestik, lanjut tim makro, juga diperkirakan akan mendorong masuknya dana asing ke pasar obligasi pemerintah dan aset-aset berdenominasi rupiah lainnya. Hal ini dapat membantu mengurangi tekanan terhadap neraca eksternal dan menjaga cadangan devisa.
“SSI mencatat bahwa secara tahun berjalan (year-to-date/YtD), rupiah masih menjadi mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan. Karena penguatan rupiah sejauh ini masih terbatas, SSI menilai peluang BI untuk kembali menaikkan suku bunga masih terbuka, terutama jika kebijakan moneter Amerika Serikat terus bergerak lebih ketat,” tulisnya dalam riset tertulis, Kamis (18/6/2026).
Dari sisi data ekonomi, inflasi Indonesia naik dari 2,42% pada April menjadi 3,08% secara tahunan pada Mei 2026, mendekati batas atas target BI yang berada di kisaran 1,5%—3,5%. Kenaikan harga pangan, biaya transportasi, serta risiko inflasi impor akibat pelemahan rupiah menjadi alasan BI mengambil sikap yang lebih hati-hati dalam kebijakan moneternya.
Di sisi lain, ketidakpastian global masih tinggi akibat tensi geopolitik dan sikap bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang semakin agresif (hawkish) dalam kebijakan suku bunga. Kondisi ini membuat Indonesia perlu menjaga daya tarik imbal hasil (yield) aset keuangannya agar tetap menarik bagi investor.
Meski BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 di kisaran 4,9%—5,7%, konsensus pasar telah menurunkan perkiraan pertumbuhan menjadi sekitar 5,1%. Revisi ini mencerminkan dampak dari kondisi suku bunga yang lebih tinggi dan biaya pinjaman yang meningkat, yang berpotensi menekan pertumbuhan kredit serta margin keuntungan perusahaan yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Kendati demikian, para pembuat kebijakan menilai bahwa manfaat menjaga stabilitas ekonomi makro lebih besar dibandingkan dengan dampak negatif jangka pendek terhadap pertumbuhan ekonomi.





