Jakarta: Direktur GIZ Indonesia dan ASEAN Hans-Ludwig Bruns menilai Indonesia menawarkan peluang investasi yang besar di sektor energi terbarukan seiring ambisi pemerintah untuk mempercepat transisi hijau dan digital dalam satu dekade mendatang.
Menurut Bruns, Indonesia membutuhkan investasi hampir Rp3.000 triliun atau sekitar USD190 miliar untuk mewujudkan target penambahan lebih dari 42 gigawatt kapasitas energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan.
“Transisi Indonesia bukan lagi sebuah visi masa depan. Ini sudah menjadi pasar yang bergerak,” ujar Bruns dalam Siemens Tech Summit 2026 di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
Ia mengatakan besarnya kebutuhan investasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia telah menjadi salah satu pasar paling menjanjikan bagi pengembangan energi bersih dan transformasi ekonomi berkelanjutan di kawasan.
Menurut Bruns, peluang tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit energi terbarukan, tetapi juga mencakup digitalisasi industri, modernisasi infrastruktur, pengembangan rantai pasok, dan peningkatan daya saing ekonomi nasional. Potensi Besar Energi Terbarukan Bruns menjelaskan Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah dan sebagian besar masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Ia menyebut total potensi energi terbarukan Indonesia mencapai lebih dari 3.700 gigawatt yang berasal dari berbagai sumber, termasuk tenaga surya, hidro, panas bumi, angin, dan bioenergi.
Bruns berpandangan, besarnya potensi tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan peluang investasi energi bersih terbesar di dunia.
“Ketika kita berbicara mengenai transisi energi di Indonesia, kita tidak hanya berbicara tentang keberlanjutan. Kita berbicara tentang infrastruktur, industri, inovasi, dan investasi,” kata Bruns.
Bruns mengatakan transformasi yang sedang berlangsung saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai agenda lingkungan semata.
Sebaliknya, transisi hijau dan digital telah berkembang menjadi agenda ekonomi yang menciptakan peluang bisnis baru, memperkuat ketahanan industri, dan mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Indonesia Jalani Twin Transition
Dalam pemaparannya, Bruns menyoroti konsep twin transition, yaitu transformasi hijau dan digital yang berlangsung secara bersamaan.
Ia menilai kedua proses tersebut saling berkaitan dan menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekonomi masa depan Indonesia.
Menurut dia, penerapan teknologi digital dapat membantu mempercepat pengembangan energi bersih, meningkatkan efisiensi industri, serta mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan.
“Transformasi hijau dan digital Indonesia bukan hanya agenda lingkungan. Ini juga merupakan agenda modernisasi ekonomi,” ujar Bruns.
Bruns menambahkan keberhasilan transformasi tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, lembaga keuangan, dan mitra internasional.
Ia menegaskan tidak ada satu pihak pun yang mampu menjalankan transformasi sebesar itu sendirian.
“Tidak ada satu aktor pun yang dapat menjalankan transformasi ini sendiri,” katanya.
Menurut Bruns, Indonesia kini memiliki kombinasi yang kuat antara potensi sumber daya, kebutuhan investasi, kemajuan teknologi, dan dukungan kebijakan yang dapat menarik lebih banyak investor untuk terlibat dalam pengembangan ekonomi hijau di masa depan.
“Ekonomi hijau bukan hanya pemenuhan agenda. Ini adalah agenda pertumbuhan ekonomi,” pungkas Bruns.




