BI Rate Naik jadi 5,75%, Danantara Minta Bank Himbara Tingkatkan Efisiensi dan Produktivitas

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75 persen tidak boleh menghambat penyaluran kredit terhadap dunia usaha dan pelaku UMKM.

Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menegaskan perbankan harus meningkatkan efisiensi agar fungsi intermediasi tetap berjalan di tengah kenaikan biaya dana.

Baca Juga :
Bos BI Sebut Penguatan Rupiah Turut Ditopang Lonjakan Kepemilikan SRBI oleh Asing
Tumbuh Signifikan, Bos BI Sebut LCT Rupiah-Renminbi Tembus US$13 Miliar Per Akhir April 2026

Menteri Investasi/Kepala BKPM sekaligus CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengatakan, kenaikan suku bunga acuan perlu dilihat secara menyeluruh dan tidak semata-mata dijadikan alasan untuk memperketat penyaluran kredit.

“Ya, memang kalau harus dilihat juga secara keseluruhan ya, memang BI Rate naik tapi yang paling penting tadi juga disampaikan saya lupa adalah bagaimana perbankan ini selalu meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya,” kata Rosan usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis, 18 Juni 2026.

Menurut Rosan, kinerja industri perbankan nasional saat ini masih berada dalam kondisi kuat. Penyaluran kredit tumbuh signifikan sepanjang setahun terakhir, sementara kualitas aset perbankan tetap terjaga.

“Kalau dilihat memang dalam perjalanan setahun ini dari 2025 sampai 2026, lending perbankan kita itu naik average 15 persen. Average naik 15 persen,” ujarnya.

Selain pertumbuhan kredit, likuiditas perbankan juga disebut masih solid. Dana pihak ketiga terus bertumbuh dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada pada level yang rendah.

“Likuiditas juga dana pihak ketiga terjaga juga naik double digit dan yang paling penting juga NPL-nya, non-performing loan bank kita itu aja Mandiri itu hanya 0,9,” tuturnya.

“Jadi average NPL atau non-performing loan kita Bank Himbara itu antara 0,9 sampai 1,8 persen pada saat ini,” lanjut Rosan.

Dengan kondisi tersebut, Rosan menilai ruang untuk meningkatkan efisiensi masih terbuka lebar sehingga kenaikan suku bunga acuan tidak harus berujung pada pengetatan akses pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku usaha.

“Nah justru hal-hal itu yang mesti diperbaiki, yang mesti ditingkatkan efisiensinya sehingga walaupun ada kenaikan suku bunga tetapi lending-nya ke masyarakat, kepada dunia usaha terutama UMKM itu tetap bisa terjaga di level yang baik, di level yang sama,” tegasnya.

Baca Juga :
Prabowo Panggil Jajaran Direksi dan Komisaris Bank Himbara ke Istana
BI Kembali Pangkas Batas Maksimal Pembelian Dolar AS Jadi US$10.000 Per Bulan
Bank Indonesia Kembali Naikkan BI Rate 25 Bps Jadi 5,75 Persen, Bos BI Ungkap Pertimbangannya

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jabat Dirut BEI, Jeffrey Hendrik Janji Tingkatkan Transparansi dan Tata Kelola Bursa Efek Indonesia
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Prediksi Skor Kanada vs Qatar di Piala Dunia 2026: Susunan Pemain dan Head to Head
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Rumah Terbakar di Tompobulu Maros Tewaskan Balita, Ini Penjelasan Kepala Dinas Kebakaran
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Tembus Peringkat 276 Dunia, Unair 3 Besar Kampus Terbaik di Indonesia
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Tertekan Aksi Jual, Imbal Hasil Obligasi RI Berpotensi Tinggi hingga Akhir 2026
• 15 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.