REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cuaca panas dan kemarau mulai terasa di sejumlah wilayah Indonesia. Hal ini dapat meningkatkan sejumlah risiko gangguan kesehatan bagi anak, termasuk heat stroke yaitu kondisi darurat medis akibat sengatan panas di mana suhu tubuh melonjak drastis hingga mencapai 40 derajat Celsius atau lebih dalam waktu singkat.
Heat stroke pada anak memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Sayangnya hingga saat ini, banyak orang tua masih keliru menyamakannya dengan demam biasa.
Baca Juga
Enam Mitos Donor Darah yang Ternyata Hanya Isapan Jempol Belaka
Benarkah Real Food dan No Sugar Bikin Anak Jarang Tantrum? Ini Kata Ahli Gizi
Bahaya Self-Diagnosis, Orang Tua Jangan Asal Tebak Gejala Alergi Susu Anak
Dokter spesialis kedokteran keluarga dan layanan primer, dr Siti Rizki Fauziah Sp.KKLP, mengatakan salah penanganan dapat memperburuk kondisi anak dan memicu komplikasi serius. Menurut dia, prioritas utama mengatasi heat stroke adalah menurunkan suhu tubuh secepat mungkin dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Perkeja melindungi tubuh dari terik matahari saat berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (18/12/2023). - (Republika/Thoudy Badai)
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Ketika anak sudah mulai berkeringat banyak, terlihat kepanasan, atau mulai mengeluhkan tubuhnya tidak nyaman, sebaiknya segera dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk. Kalau memungkinkan masuk ke ruangan ber-AC, berikan kesempatan untuk beristirahat dan minum," kata dr Siti dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (19/6/2026).
Apabila anak telah menunjukkan tanda-tanda heat stroke seperti penurunan kesadaran, kebingungan, atau suhu tubuh yang sangat tinggi, maka kondisi tersebut harus dianggap sebagai kegawatdaruratan medis. Dalam situasi seperti ini, lanjut dr Siti, orang tua tidak dianjurkan menunda penanganan dengan berbagai metode rumahan yang belum tentu tepat.
Sambil menunggu bantuan medis atau perjalanan menuju rumah sakit, beberapa langkah awal dapat dilakukan untuk membantu menurunkan suhu tubuh anak. Mulai dari memindahkan anak ke tempat yang teduh dan sejuk, melepaskan pakaian yang berlapis atau terlalu ketat, hingga membasahi tubuh anak dengan air biasa atau air sejuk.
Sejumlah anak bermain permainan tradisional di Taman Robusta, Pondok Kopi, Jakarta Timur, Jumat (7/2/2025). - (Republika/Prayogi)
"Basahi seluruh tubuh anak menggunakan kain atau spons yang direndam air biasa atau air sejuk, kemudian bantu proses penguapan dengan kipas angin. Kompres juga dapat diberikan pada area yang banyak terdapat pembuluh darah besar seperti leher, ketiak, dan selangkangan. Cara ini membantu mempercepat pelepasan panas dari tubuh sambil menunggu penanganan medis lebih lanjut," kata dr Siti yang juga menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.