Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan menuju level 7.200 hingga akhir 2026 apabila hasil tinjauan aksesibilitas pasar oleh MSCI dan evaluasi peringkat kredit Indonesia oleh S&P Global Ratings tidak menghasilkan kejutan negatif.
IHSG ditutup melemah 48,40 poin atau sebesar 0,78% ke level 6.172,34 pada Kamis (18/6/2026). IHSG telah menurun 28,62% secara year to date (YtD), dengan net sell asing Rp65,05 triliun.
Dalam laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review pada Kamis (18/6/2026) waktu setempat, Indonesia mengalami penurunan penilaian pada kriteria Information Flow dari sebelumnya "+" menjadi "-". MSCI menetapkan Indonesia masih masuk ke dalam status pasar negara berkembang (emerging market) kendati memberikan sejumlah catatan.
Head of Research BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Erindra Krisnawan dan analis BRIDS Wilastita Muthia Sofi mempertahankan target IHSG akhir 2026 di level 7.200. Dengan posisi indeks saat ini, valuasi pasar dinilai masih berada di bawah skenario pesimistis (bear case) yang ditetapkan pada level 6.550.
"IHSG saat ini masih berada di bawah bear case kami di level 6.550, yang mengindikasikan pasar masih mengantisipasi risiko yang sedikit lebih buruk," tulis BRIDS dalam risetnya.
Menurut mereka, dua agenda utama yang akan menentukan arah pasar dalam jangka pendek adalah hasil review peringkat dan outlook kredit Indonesia oleh S&P serta hasil MSCI Market Accessibility Review.
Baca Juga
- MSCI Beri Catatan untuk Pasar Modal RI, dari Free Float hingga Informasi Berbahasa Inggris
- MSCI Tetapkan Indonesia di Emerging Market, Soroti Problem Transparansi
- IHSG Menanti Sinyal Review MSCI, Intip Jurus Cuan Amankan Portofolio
Apabila kedua agenda tersebut berakhir tanpa sentimen negatif yang signifikan, IHSG diperkirakan dapat bergerak menuju skenario dasar (base case) yang telah ditetapkan BRIDS, yakni 7.200.
Menurut BRIDS, IHSG telah menjalani fase pemulihan setelah sempat anjlok ke level 5.337 pada 8 Juni 2026, mendekati skenario stres mereka di level 5.200 yang diasumsikan terjadi apabila Indonesia benar-benar mengalami penurunan peringkat kredit.
Pemulihan tersebut didukung oleh melambatnya aksi jual investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar, penguatan nilai tukar rupiah dari Rp18.200 menjadi sekitar Rp17.700 per dolar AS, serta meredanya premi risiko geopolitik setelah harga minyak Brent turun ke kisaran US$80 per barel.
Selain itu, koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia turut memperbaiki sentimen pasar.
BRIDS menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, stabilisasi yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun, penyesuaian harga Pertamax, hingga klarifikasi pemerintah terkait peran DSI sebagai surveyor telah membantu mengurangi sebagian ketidakpastian kebijakan.
Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait skema gross split dan percepatan revisi RKAB juga dinilai mengurangi risiko regulasi di sektor logam dan batu bara.
Meski demikian, Erindra dan Wilastita menegaskan bahwa pemulihan pasar saat ini masih bersifat taktis karena sejumlah risiko mendasar belum sepenuhnya hilang.
Risiko fiskal, konsistensi kebijakan, serta kekhawatiran terhadap peringkat kredit Indonesia masih menjadi perhatian investor. Di sisi lain, harga minyak mentah Indonesia (ICP) secara tahun berjalan masih berada di kisaran US$92 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel.
Dalam kondisi tersebut, BRIDS tetap merekomendasikan sektor perbankan, telekomunikasi, dan logam sebagai pilihan utama.




