40% Gen Z Ditemani Orang Tua Saat Interview Kerja dan Nego Gaji

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: Antusiasme pencari kerja memadati Job Fair di GOR Ciracas, Jakarta Timur, Senin, (19/5/2025). Kegiatan ini digelar oleh Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi (Nakertransgi) DKI dari 19-25 Mei 2025. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada tren menarik di kalangan Gen Z pencari kerja. Menurut survei McKinsey, 70% Gen Z meminta bantuan orang tua saat mencari kerja. Bahkan 83% yang berhasil mendapatkan pekerjaan penuh waktu mengatakan bantuan orang tua berkontribusi pada keberhasilan mereka.

Gen Z memasuki pasar kerja yang jauh lebih kompetitif dibanding generasi sebelumnya. Banyak posisi entry-level mensyaratkan pengalaman, sementara proses rekrutmen bisa panjang dan penuh tes.

Baca: Lulusan Jurusan Ini Terancam AI, Nomor 2 Banyak Diburu Anak Muda

Ketika risiko gagal terasa tinggi, orang tua sering dianggap sebagai sumber bantuan strategis-mulai dari mengedit CV, latihan wawancara, hingga memanfaatkan jaringan profesional mereka.


Survei lain mengungkap bahwa 40% orang tua dari Gen Z ikut hadir dalam wawancara kerja. Bayangkan saja situasinya begini: seorang kandidat berusia 22 tahun datang ke ruang wawancara, namun tidak sendirian. Ia ditemani orang tuanya yang bahkan ikut duduk, mencatat, hingga membantu negosiasi gaji. Kedengarannya seperti adegan komedi, tapi praktik ini mulai menjadi hal yang semakin umum terjadi pada 2026.

Berdasarkan data yang dirilis pada akhir 2025, sekitar 77% pencari kerja Gen Z mengaku melibatkan orang tua dalam proses rekrutmen. Keterlibatan ini bukan sekadar membantu mengecek CV, tetapi sudah masuk ke tahap yang lebih dalam. Melansir Times of India, beberapa temuan utama dari studi tersebut antara lain:

- Sekitar 40% orang tua ikut hadir dalam sesi wawancara kerja
- 27% terlibat dalam negosiasi gaji dan benefit
- 63% membantu mengirimkan lamaran kerja
- 54% menulis email tindak lanjut setelah interview
- Bahkan 75% dijadikan referensi profesional

Baca: Cari Kerja Susah, Gen Z Pilih Jadi Tukang Las Penghasilan Rp1,6 Miliar


Lebih jauh lagi, setelah anak mereka diterima bekerja, sekitar 80% responden mengaku orang tua mereka pernah berkomunikasi langsung dengan atasan terkait promosi, konflik kerja, hingga beban pekerjaan. Fenomena ini sering dianggap sebagai bentuk overprotective parenting.

Namun, kondisi yang melatarbelakanginya ternyata lebih kompleks. Gen Z masuk ke dunia kerja di tengah perubahan besar akibat pandemi COVID-19 yang telah menciptakan sejumlah tantangan.

Pertama, keterbatasan jaringan profesional. Jika generasi sebelumnya bisa memiliki puluhan koneksi kerja, rata-rata Gen Z hanya memiliki sekitar 16 koneksi. Pembelajaran jarak jauh dan magang online membuat mereka kehilangan pengalaman interaksi langsung di dunia kerja.

Kedua, faktor isolasi. Banyak Gen Z menghabiskan masa pembentukan karakter mereka di depan layar. Akibatnya, situasi seperti negosiasi tatap muka terasa asing dan menegangkan.

Ketiga, faktor budaya. Di sejumlah negara seperti India, keterlibatan keluarga dalam keputusan besar termasuk karier adalah hal yang wajar. Pola ini kini mulai merambah ke dinamika kerja global.

Di satu sisi, keterlibatan orang tua bisa dianggap sebagai bentuk dukungan. Namun di sisi lain, hal ini juga memunculkan kekhawatiran.

Walau begitu, sejumlah perekrut menilai kehadiran orang tua dalam proses rekrutmen bisa menjadi "red flag". Kandidat dinilai belum siap menghadapi tantangan profesional secara mandiri, seperti menangani klien sulit atau mengambil keputusan penting.

Risiko jangka panjangnya adalah terhambatnya perkembangan karier. Tanpa pengalaman menghadapi situasi sulit secara langsung, kemampuan kepemimpinan dan kepercayaan diri bisa tidak terbentuk optimal.

Namun, tidak semua perusahaan melihat ini sebagai masalah besar. Beberapa startup modern dengan budaya kerja kolaboratif cenderung lebih fleksibel, selama kandidat tetap mampu menunjukkan kinerja yang baik.

Peran AI

Ketimbang membawa orang tua ke ruang interview, Gen Z juga kini banyak yang mulai beralih ke teknologi sebagai pendamping. Sekitar 1 dari 5 Gen Z diketahui menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT untuk simulasi wawancara kerja.

Teknologi ini membantu pengguna berlatih menjawab pertanyaan, memperbaiki cara komunikasi, hingga meningkatkan rasa percaya diri tanpa tekanan. Orang tua pun tetap bisa berperan, namun di balik layar. Semisal dengan membantu latihan interview di rumah atau memberikan masukan strategis, tanpa terlibat langsung di proses formal.

Ke depan, peran Gen Z dalam dunia kerja akan semakin besar. Pada 2030, generasi ini diperkirakan mencakup sekitar 30% dari total tenaga kerja global. Namun, data menunjukkan, mereka yang terlalu bergantung pada bantuan orang tua cenderung memiliki tingkat ketahanan kerja (retention) yang lebih rendah.

Intinya? Di ruang rapat tahun 2026, hal paling mengesankan yang dapat dibawa oleh seorang kandidat muda bukanlah referensi dari tokoh terkenal atau orang tua yang selalu mengawasi, melainkan kepercayaan diri yang tenang dari seseorang yang siap untuk mandiri.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Cuan Bisnis Apparel Olahraga Saat Warga RI Doyan Lari-Main Bola

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pacu Semangat Siswa saat Pembagian Rapor, Ini 15 Contoh Ucapan Islami Wali Kelas
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Perampokan di Menteng: 1 Korban Alami 7 Luka Tusuk di Leher hingga Punggung
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Pembunuh Wanita Hamil di Hotel Palembang Divonis Seumur Hidup
• 12 jam laludetik.com
thumb
Kejagung Pelajari JC dan 41 Nama yang Diajukan Sony Sonjaya di Kasus Korupsi BGN
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Perbanas Ungkap Masalah Struktural Penyebab Kredit UMKM Lesu
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.